About this blog

Wednesday, November 16, 2022

Awal Penemuan Kutu Daun Bawang, Neotoxoptera formosana, di Puncak

Hama yang berasal dari Taiwan ini diperkirakan masuk ke Indonesia pada tahun 1980-an atau setidaknya tahun 1990-an.

Aunu Rauf*

Kawasan Puncak yang membentang di wilayah Kabupaten Bogor dan Cianjur sejak lama dikenal sebagai salah satu “beranda hijau” Jawa Barat. Udara pegunungannya yang sejuk, kabut tipis yang kerap turun pada pagi hari, serta lekuk perbukitan yang dihiasi hamparan tanaman sayuran menjadikan kawasan ini bukan sekadar tujuan wisata, melainkan juga lanskap pertanian dataran tinggi yang hidup dan dinamis. 

Di Desa Sindangjaya, Kecamatan Pacet, Cianjur, bahkan terdapat kawasan yang disebut agropolitan. Di tempat ini, jalan setapak berlapis semen membelah petak-petak kebun sayuran yang tersusun mengikuti kontur lereng (Gambar 1), menghadirkan pemandangan yang khas dan sulit dilupakan.

Hamparan sayuran dataran tinggi di Pacet, Cianjur
Gambar 1. Hamparan sayuran di kawasan agropolitan Pacet (Cianjur), dengan jalan setapak bersemen untuk pejalan kaki (Foto: Aunu Rauf)

Berbagai jenis sayuran dataran tinggi tumbuh subur di kawasan tersebut. Hamparan tomat dan cabai tampak berselang-seling dengan pertanaman kubis, wortel, bawang daun, hingga kacang buncis. 

Pada pagi hari, para petani biasanya sibuk bekerja di lahan sejak matahari belum sepenuhnya meninggi. Sebagian memanen hasil, sebagian lain menyiangi gulma atau menyemprot tanaman. Aroma tanah basah bercampur embusan hawa dingin pegunungan menghadirkan suasana yang akrab bagi siapa saja yang pernah menapaki kawasan pertanian Puncak.

Saya sendiri mulai sering menyambangi kawasan ini sejak awal tahun 1990-an, ketika terlibat dalam kegiatan penelitian sayuran dataran tinggi dari Program Nasional Pengendalian Hama Terpadu (PHT). 

Sejak saat itu, perjalanan ke sentra-sentra sayuran di Pacet dan sekitarnya menjadi bagian dari rutinitas lapangan yang penuh cerita. Kunjungan tersebut terus berlanjut hingga pertengahan tahun 2010-an melalui kerja sama antara IPB dan Clemson University. 

Tidak jarang saya datang sambil mendampingi tamu-tamu dari luar negeri, termasuk para entomologiwan asal Amerika Serikat (Gambar 2), yang tertarik menyaksikan secara langsung budidaya sayuran dataran tinggi serta berbagai persoalan hama yang dihadapi petani di kawasan ini.

Kunjungan entomologiwan dari AS
Gambar 2. Entomologiwan asing bersama petani bawang daun (Foto: Aunu Rauf). 

Penemuan kutu daun bawang

Sekitar bulan Agustus 1995, pada suatu siang yang berkabut tipis di kawasan Pacet, saya kembali blusukan ke lahan sayuran milik petani. Di tengah hamparan bawang daun yang menghijau, mata saya tertumbuk pada sesuatu yang tidak biasa. 

Permukaan daun bawang tampak menghitam karena dipenuhi koloni kutu daun (Gambar 3).  

Bawang daun terserang Neotoxoptera formosana
Gambar 3. Bawang daun dipenuhi oleh koloni kutu daun (Foto: Aunu Rauf)

Pemandangan itu segera memunculkan tanda tanya besar dalam benak saya. Selama menjadi mahasiswa hingga kemudian mengajar sebagai dosen entomologi, saya hampir tidak pernah mendengar kutu daun disebut sebagai hama penting pada bawang.

Keheranan saya semakin bertambah karena beberapa spesies kutu daun yang sangat polifag, seperti Myzus persicae dan Aphis gossypii, pun tidak pernah dilaporkan menyerang tanaman bawang. 

Literatur-literatur klasik yang selama ini menjadi pegangan juga tidak memberi petunjuk apa pun. Buku karya LGE Kalshoven, baik versi asli berbahasa Belanda terbitan 1950–1951 maupun versi revisi bahasa Inggris tahun 1981, sama sekali tidak menyebut keberadaan kutu daun pada bawang. 

Padahal, para entomologiwan Belanda pada masa itu terkenal sangat telaten dalam mendokumentasikan setiap serangga yang dijumpai di lapangan. Apa yang mereka lihat hampir selalu tercatat dengan rapi dalam publikasi ilmiah.

Temuan itu terus mengusik pikiran saya hingga keesokan harinya. Saya pun menceritakannya kepada Prof. Soemartono Sosromarsono (almarhum, wafat 15 Mei 2022), sosok yang dikenal memiliki passion dalam identifikasi kutu tanaman.

Dengan berbekal kunci identifikasi dari buku Blackman & Eastop (1985), ia kemudian memeriksa spesimen tersebut secara saksama. Hasilnya cukup mengejutkan. Kutu daun pada bawang daun itu diidentifikasi sebagai Neotoxoptera formosana (Takahashi) (Hemiptera: Aphididae). Spesies yang kala itu nyaris tak pernah dibicarakan dalam konteks hama bawang di Indonesia.

Kepakaran Pak Soemartono dalam identifikasi kutu daun tampaknya bukan muncul begitu saja. Sangat boleh jadi minat itu tumbuh dari interaksinya dengan HCCAA Vos, pakar kutu tanaman kelahiran Breda tahun 1898. 

Tatkala Prof. Vos menjadi dosen entomologi di IPB pada periode 1957–1958, menggantikan Prof. J. van der Vecht yang kembali ke Belanda, Ir. Soemartono Sosromarsono masih berstatus asisten dosen. Hubungan akademik keduanya tampaknya cukup dekat, terlebih mereka juga sama-sama terlibat sebagai editor jurnal IDEA yang diterbitkan oleh Perkumpulan Entomologi di Indonesia.

Nama Prof. Vos sendiri lebih sering dikenang melalui publikasinya yang terkenal mengenai introduksi parasitoid Diadegma eucerophaga dari Selandia Baru ke Indonesia pada tahun 1950 untuk pengendalian hama Plutella xylostella pada tanaman kubis. 

Namun sesungguhnya, bidang kepakaran utamanya adalah kutu tanaman. Gelar doktornya diperoleh dari Utrecht University pada tahun 1930 melalui disertasi tentang kutu putih famili Pseudococcidae. 

Karena itu, tidak mengherankan bila jejak keilmuan beliau kemudian turut memengaruhi generasi entomologiwan berikutnya di Indonesia, termasuk Pak Soemartono.

Persebaran

Kutu daun Neotoxoptera formosana sebelumnya menyandang nama Fullawayella formosana Takahashi (Takahashi 1921). Negeri asal kutu daun N. formosana adalah Taiwan. Selanjutnya kutu daun ini menyebar ke berbagai belahan bumi lainnya.

Buku Blackman & Eastop (1985) menyebutkan persebaran hama ini, selain Taiwan, meliputi Jepang, China, Korea, Australia, Selandia Baru, Hawaii, dan Amerika Utara. Keberadaan kutu N. formosana di Eropa pertama kali dilaporkan di Perancis tahun 1984, Inggris 1999, Itali 2000, Jerman 2007, dan Belanda 2010. Penyebarannya di Amerika Latin juga terjadi pada kurun waktu itu: Chile tahun 1994, Brazil 1995, dan Argentina 1999.

Begitu pula, kehadiran hama ini di Indonesia diperkirakan tahun 1980-an, atau setidaknya 1990-an. Meski demikian, Indonesia belum tercantum pada peta persebaran N. formosana tahun 2022 yang dibuat oleh CABI (klik di sini). 

Bisa jadi, lantaran CABI mengacu pada buku "Aphids of Java" (Noordam 2004), yang memang belum melaporkan adanya N. formosana di Jawa. Ini bisa dimaklumi, karena buku Noordam disusun berdasarkan spesimen kutu daun yang dikoleksi sejak tahun 1913 hingga yang teranyar tahun 1978.

Pengenalan

Kutu daun N. formosana berwarna cokelat gelap hampir hitam (Gambar 4). Tubuh kutu dewasa tak bersayap (aptera) berukuran panjang 2.3 mm dan lebar 1.1 mm. Pada saat populasinya masih rendah, kutu ini kerap tak terlihat karena hidup pada bagian pangkal rumpun. 

Imago dan nimfa Neotoxoptera formosana
Gambar 4 . Kutu dewasa dan nimfa Neotoxoptera formosana (Foto: Aunu Rauf)

Biologi

Sebagaimana umumnya kutu daun (Aphididae), N. formosana tidak bertelur (ovipar), melainkan melahirkan nimfa (vivipar). Semua keturunannya betina, tak ada jantan seekor pun. Karenanya, perkembangbiakan berlangsung secara partenogenetik, tanpa perlu melalui perkawinan. 

Seekor induk betina mampu melahirkan nimfa sebanyak 45 ekor selama hidupnya. Nimfa terdiri dari empat instar, dengan masa perkembangan 12 hari. Masa prareproduksi 1.3 hari, reproduksi 18 hari, dan pascareproduksi 1.80 hari. Total lama hidup 33 hari. Data ini didasarkan pada penelitian Vasicek et al. (2005) pada bawang daun di Argentina.

Berdasarkan pengamatan lapangan selama ini, kutu N. formosana hanya terdapat di dataran tinggi. Satu hal yang menarik dari kehidupan N. formosana yaitu tak pernah ditemukan adanya imago yang bersayap (alata). Bahkan, pada kerapatan yang sangat tinggi sekali pun (Gambar 5). 

Koloni Neotoxoptera formosana
Gambar 5. Koloni Neotoxoptera formosana pada bawang daun (Foto: Aunu Rauf)

Ini berbeda dengan kutu daun pada umumnya. Pada kerapatan populasi yang tinggi dan berdesakan, berbarengan dengan penurunan kualitas makanan, kutu daun akan membentuk individu yang bersayap (alata), agar dapat memencar. Fenomena yang dikenal dengan istilah "crowding effect".

Tiadanya crowding effect pada N. formosana juga dilaporkan oleh Piron (2010) di Belanda dan Hori & Komatsu (1997) di Jepang. Anggarimurni (1997) memelihara 5 ekor induk N. formosana pada bawang daun di dalam kurungan di laboratorium, sewaktu kampus IPB masih di Baranangsiang. Setelah 3 bulan, populasi kutu meningkat menjadi sekitar 8.000-an ekor. Akan tetapi, ia tak menemukan seekor pun imago yang bersayap.

Meski begitu, beberapa pustaka menyebutkan bahwa sesekali dapat muncul individu N. formosana yang bersayap. Tampaknya ada faktor lain, di luar kondisi berdesakan dan kualitas makanan, yang menginduksi munculnya individu bersayap.

Tumbuhan inang

Kutu daun N. formosana bersifat oligofag. Tumbuhan inangnya meliputi berbagai spesies tanaman dari genus Allium. Sebut saja, bawang daun (Allium fistulosum L.), bawang bombai (A. cepa L.), bawang merah (A. ascalonicum L.), bawang putih (A. sativum L.), bawang prei (A. porrum L.), kucai (A. tuberosum Rottler ex Spreng), dan sejenisnya.

Lebih dari itu, N. formosana merupakan satu dari segelintir spesies kutu daun yang memanfaatkan bawang sebagai tumbuhan inang. Ini ada kaitannya dengan senyawa sulfur yang dihasilkan oleh tumbuhan Allium spp. 

Senyawa sulfur tersebut berperan sebagai atraktan bagi N. formosana. Misalnya, pada bawang daun, senyawa volatil utamanya adalah dipropil disulfida. Kutu N. formosana menggunakan senyawa ini untuk menemukan dan mengenali tumbuhan inangnya.

Kerusakan dan status hama

Layaknya kutu daun, perkembangan populasi N. formosana meningkat pesat pada musim kemarau. Koloni kutu daun kerap dijumpai memenuhi permukaan daun bawang. Jika daun yang terserang kemudian layu dan mengering, kutu akan berpindah ke daun lainnya yang masih segar (Gambar 6). 

Rumpun bawang daun mengering terserang Neotoxoptera formosana
Gambar 6. Bawang daun yang mengering akibat serangan kutu Neotoxoptera formosana
(Foto: Aunu Rauf)

Serangan berat yang berlangsung terus-menerus menyebabkan rumpun mati dan mengering. Namun, gejala kerusakan yang demikian umumnya hanya terjadi pada sebarisan rumpun yang tumbuh berdekatan (Gambar 7). Selama ini saya belum pernah melihat serangan yang meluas pada satu petakan. Pola serangan yang demikian juga dilaporkan di Perancis dan di Jerman (Piron 2010). 

Sekelompok tanaman bawang mati oleh Neotoxoptera formosana
Gambar 7. Sebarisan rumpun bawang daun yang mati terserang kutu Neotoxoptera formosana
(Foto: Aunu Rauf) 

Terhentinya serangan hanya pada beberapa rumpun, kecil kemungkinannya karena faktor musuh alami. Selama ini, saya hampir tak pernah menjumpai mumi atau predator yang berasosiasi dengan kutu N. formosana. Tiadanya individu yang bersayap, barangkali itulah penyebab utama terbatasnya serangan.

Menilik serangannya yang tak pernah meluas, kutu N. formosana bukanlah hama penting, yang serangannya dapat menimbulkan kerugian secara ekonomis. Artinya, petani tak perlu panik. Apalagi, langsung menyemprotnya dengan insektisida.

Referensi

Anggarimurni D. 1997. Siklus Hidup dan Perkembangan Populasi Neotoxoptera sp. (Homoptera: Aphididae) pada Tanaman Bawang Merah (Allium cepa) dan Bawang Daun (Allium fistulosum) [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Blackman RL, Eastop VF. 1985. Aphids on the world's crops: An identification guide. Chichester (UK): John Wiley & Sons.

Fakultas Pertanian IPB. 2001. Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Lintas Waktu. Di dalam: Sejarah Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Aspek Pendidikan. Bogor (ID): IPB Press.

Halstead AJ. 2000. An onion aphid, Neotoxoptera formosana (Takahashi) (Hemiptera: Aphididae), new to Britain. British Journal of Entomology and Natural History 13: 94.

Hori M. 2007. Onion aphid (Neotoxoptera formosana) attractants, in the headspace of Allium fistulosum and A. tuberosum leaves. J Appl Entomol 131(1): 8-12.

Hori M, Komatsu H. 1997. Repellency of rosemary oil and its components against the onion aphid, Neotoxoptera formosana (Takahashi) (Homoptera, Aphididae). Appl Entomol Zool 32(2): 303-310.

Noordam D. 2004. Aphids of Java. Part V: Aphidini (Homoptera: Aphididae). Zool. Verh. Leiden 346: 7-83.

Piron PGM. 2010. Appearence of Neotoxoptera formosana (Homoptera: Aphididae) in The Netherlands. Enomologische Berichten 70(1): 10-12.

Takahashi R. 1921. Aphididae of Formosa Part 1. Taihoku Agricultural Experiment Station, Goverment of Formosa. 

Vasicek A, Rossa L, Lopez F, Mendy C, Paglioni A. 2005. Evaluacions de los parametric biologicos y publacionales de Neotoxoptera formosana (Hemiptera: Aphidoidea) sobre tres Alliaceae horticolas en condiciones de laboratorio. Bol San Veg Plagas 31: 225-230.

Internet:

Neotoxoptera formosana Onion Aphid. https://influentialpoints.com/Gallery/Neotoxoptera_formosana_onion_aphid.htm. Diakses 7 November 2022.

Untuk keperluan sitasi, silakan tulis:

Rauf A. 2022. Awal Penemuan Kutu Daun Bawang, Neotoxoptera formosana, di Puncak. https://www.serbaserbihama.com/2022/11/kutu-daun-bawang-neotoxoptera-formosana.html. Diakses tanggal (sebutkan).




==================
Revisi teranyar: 18 Mei 2026
==================




4 comments:

  1. Hama ini sdh ada di kawasan Pratin Purbalingga Jawa Tengah. Menyebabkan tanaman bawang kerdil dan "terbakar"

    ReplyDelete
  2. Sekarang sudah tersebar luas di dataran tinggi di Indonesia.
    Terima kasih Pak Rostaman sudah berkenan mampir di blog ini.

    ReplyDelete
  3. Terdeteksi awal sebarannya di lokasi Horikultura Modoinding, Kabupaten Minahasa Selatan Provinsi Sulawesi Utara di sekitar bulan Nopember 2023, dan saat ini populasinya sangat tinggi pada beberapa desa di Kecamatan Modoinding.

    ReplyDelete
  4. Pak Jackson, terima kasih atas tambahan informasinya.

    ReplyDelete