Wednesday, March 4, 2026

Menyoroti Tiga "Serigala Berbulu Domba" di Kebun Singkong

Dengan tubuh terselubung lapisan lilin putih, larva Plesiochrysa ramburi, Spalgis epius, dan Cryptolaemus montrouzieri bisa leluasa menyusup ke tengah koloni kutu putih tanpa diusik semut.

Aunu Rauf

Singkong bukanlah tanaman asli Indonesia. Tanaman ini berasal dari kawasan Amerika Latin, seperti juga kentang, ubi jalar, jagung, kacang tanah dan tomat. Tak ada kepastian tentang sejak kapan persisnya tanaman singkong masuk ke Indonesia. 

Pendapat lama menyebutkan bahwa singkong masuk ke Kepulauan Nusantara melalui Filipina, dibawa dari Amerika Selatan oleh bangsa Spanyol pada abad ke-16 atau ke-17.

Namun, Christopher Reinhart, sejarawan lulusan Universitas Indonesia, baru-baru ini mengemukakan bahwa singkong diperkenalkan ke Indonesia pada tahun 1850. Menurutnya, tanaman ini didatangkan langsung dari Peru oleh Pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Riwayat awal budidayanya dimulai di Maluku sebagai lokasi uji coba tanam. Dari sana, singkong kemudian disebarluaskan ke Jawa yang kala itu dilanda kekurangan pangan akibat pemberlakuan sistem tanam paksa. 

Sejak masa Hindia Belanda itu, hama utama tanaman singkong di Indonesia terbatas pada uret (Leucopholis rorida) dan tungau (Tetranychus cinnabarinus). Bahkan kedatangan S. Leefmans ke Hindia Belanda pada tahun 1912 tidak dapat dilepaskan dari urgensi penanganan serangan kedua hama tersebut.

Situasi berubah sejak akhir dekade 2000-an. Permasalahan hama singkong bertambah dengan datangnya dua hama baru: kutu putih Paracoccus marginatus dan Phenacoccus manihoti (Hemiptera: Pseudococcidae). 

Keberadaan kutu putih P. marginatus di Indonesia terdeteksi pertama kali pada tahun 2008. Hama yang berasal dari Amerika Tengah ini bersifat polifag dengan lebih dari 30 jenis tumbuhan inang dari berbagai famili. Tumbuhan inang utamanya adalah pepaya, karenanya dijuluki kutu putih pepaya. 

Tumbuhan inang lainnya yang banyak terserang adalah singkong. Koloni kutu putih P. marginatus biasanya banyak dijumpai pada permukaan bawah daun (Gambar 1). Klik di sini untuk informasi lebih lanjut tentang kutu putih pepaya. 

Koloni kutu putih pepaya
Gambar 1. Koloni Paracoccus marginatus pada permukaan bawah daun singkong (Foto:Aunu Rauf)

Sementara itu, keberadaan kutu putih P. manihoti terdeteksi pertama kali di Indonesia pada tahun 2010. Hama yang berasal dari Paraguay dan/atau Brazil ini bersifat monofag, hanya menyerang singkong. 

Kutu P. manihoti lazimnya menyerang bagian pucuk dan menimbulkan gejala berupa pucuk yang menggumpal dan mengeriting (Gambar 2). Ulasan lengkap tentang hama ini dapat di jumpai pada postingan sebelumnya (klik di sini).

Pucuk singkong terserang kutu putih
Gambar 2. Gejala pucuk singkong yang terserang Phenacoccus manihoti (Foto: Aunu Rauf) 

Kedua kutu putih tersebut menghasilkan embun madu. Cairan manis ini mengundang kehadiran berbagai jenis semut. Di antara kutu putih dengan semut terjalin hubungan simbiosis mutualisme. 

Semut memperoleh sumber energi dari embun madu, sebagai imbalannya kutu putih memperoleh perlindungan dari gangguan predator dan parasitoid. Karenanya, kehadiran semut kerap menjadi perintang bagi musuh alami yang hendak memangsa atau memarasit kutu putih.

Menariknya, ada sekelompok serangga predator yang menyelimuti tubuhnya dengan lapisan lilin putih, menyamar menyerupai kutu putih yang menjadi mangsanya. Adaptasi morfologi ini berfungsi sebagai kamuflase, mengurangi risiko terdeteksi oleh semut. Sebuah strategi yang mengingatkan pada metafora “serigala berbulu domba”.

Melalui penyamaran ini, larva predator dapat menyusup ke pusat koloni kutu putih dan memangsanya tanpa memicu respons agresif dari semut. Pada saat yang sama, sang penyamar justru ikut menikmati perlindungan tidak langsung dari semut terhadap musuh alaminya sendiri.

Selama kurun waktu 2008-2018, saat blusukan di kebun singkong di Cimahpar (Bogor) bersama mahasiswa-mahasiswi "anak singkong", setidaknya kami menjumpai tiga spesies serangga predator yang tergolong "serigala berbulu domba". 

Lantas, siapa sajakah ketiga sosok penyamar tersebut ?

1. Plesiochrysa ramburi (Schneider) (Neuroptera: Chrysopidae)

Di antara “serigala berbulu domba” di kebun singkong, inilah yang paling umum dijumpai. Ia adalah green lacewing atau sayapjala hijau. Sayangnya, tak banyak diketahui tentang predator ini. Pada masa Hindia Belanda, para pakar hama tanaman pun tidak banyak menaruh perhatian pada kelompok serangga ini..

Untuk memastikan identitasnya, spesimen yang kami peroleh dikirim melalui bantuan Dr. BM Shepard (Clemson University) kepada Dr. Shaun Winterton, pakar Neuroptera di California Department of Food and Agriculture (CDFA). 

Hasil identifikasi menegaskan bahwa spesies tersebut adalah Plesiochrysa ramburi (Schneider). Suatu spesies yang sebelumnya tak pernah tercantum dalam kepustakaan entomologi di Indonesia. Meski sejatinya ia tersebar luas di Asia Tenggara hingga Australia dan Polinesia.

Dijuluki "serigala berbulu domba" karena tubuh larva P. ramburi diselimuti lapisan lilin putih sehingga nyaris tak terbedakan dari kutu putih (Gambar 3). 

Larva sayapjala hijau
Gambar 3. Larva Plesiochrysa ramburi berjalan pada tangkai daun singkong (Foto: Aunu Rauf)

Menariknya, lilin itu bukan diproduksi sendiri, melainkan dipanen dari mangsanya. Dengan mandibelnya, larva mencungkil dan mengumpulkan lilin dari tubuh kutu putih, lalu menengadahkan kepala ke belakang untuk menjatuhkan gumpalan tersebut ke bagian dorsal tubuhnya.

Paket lilin itu kemudian tertahan oleh rambut-rambut panjang pada tubuh larva. Kerapkali, bangkai nimfa kutu putih atau yang masih hidup dapat ikut terangkut dalam paket tersebut.

Meski untuk spesies berbeda, perilaku unik ini divideokan (klik di sini) pertama kalinya oleh Dr Erin C Powell dari Florida Depatment of Consumer Services.

Larva lebih banyak memangsa kutu putih singkong instar-1 dan instar-2. Selama hidupnya (8-9 hari) seekor larva mampu memangsa sebanyak 800 ekor kutu putih. Kanal youtube "TheBeatsheet" menyediakan video larva sayapjala hijau yang sedang memangsa kutu putih (klik di sini).

Larva P. ramburi terdiri dari tiga instar, dan menghabiskan waktu sekitar 14 hari sebelum berubah menjadi pupa.

Menjelang berkepompong, larva instar akhir memintal benang sutera untuk membuat kokon yang berbentuk bundar dengan diameter 5 mm, berwarna putih (Gambar 4). Di lapangan kokon ini biasanya ditemukan mengelompok pada pucuk singkong yang terserang kutu putih. 

Kepompong sayapjala hijau
Gambar 4. Kokon Plesiochrysa ramburi bergerombol pada pucuk singkong yang terserang kutu putih (Foto: Zainal Fanani)

Sekitar 10 hari kemudian, dari dalam kokon muncul imago P. ramburi berwarna hijau cerah, dengan mata menonjol berkilau kuning keemasan atau kemerahan (Gambar 5). Ciri khas dari P. ramburi adalah adanya corak berwarna gelap pada pronotum. 

Serangga dewasa sayapjala hijau
Gambar 5. Imago Plesiochrysa ramburi bertengger pada permukaan daun mangga di sekitar kebun singkong yang terserang berat kutu putih (Foto: Aunu Rauf)

Imago umumnya aktif pada malam hari. Berbeda dari banyak sayapjala lain yang hanya memanfaatkan nektar, embun madu, atau polen, imago P. ramburi dilaporkan sebagai predator yang kerap memangsa kutu putih. Dengan demikian, peran pengendali hayatinya tidak berhenti pada fase larva.

Betina meletakkan telur pada daun atau batang tanaman yang sarat koloni kutu putih. Ini untuk memastikan bahwa larva yang kelak menetas segera menemukan sumber makanan melimpah. Jika tidak, akan terjadi kanibalisme. Seekor betina mampu menghasilkan antara 100 hingga 500 butir telur, bergantung pada ketersediaan dan jenis mangsa.

Telur itu diletakkan secara tunggal pada ujung tangkai telur, dan biasanya berderet pada permukaan atas atau bawah daun, atau bagian tanaman lain (Gambar 6). Tangkai telur itu diperkirakan berfungsi sebagai perlindungan bagi telur dari musuh alami atau berperan menyediakan nutrisi bagi larva yang baru menetas. Telurnya berbentuk oval, berwarna kuning-hijau, dan berukuran 0.7 mm dengan panjang tangkai 5.8 mm. Stadium telur berlangsung tiga hari.

Telur sayapjala hijau
Gambar 6. Telur-telur bertangkai dari Plesiochrysa ramburi (Foto: Zainal Fanani)

Tangkai telur dihasilkan melalui mekanisme yang presisi. Imago betina mengeluarkan tetesan protein khusus dari ujung abdomen ke permukaan daun. Zat ini cepat mengeras, lalu dengan gerakan mengangkat abdomen, betina menariknya menjadi benang tipis (15 µm) yang kaku, sebelum akhirnya meletakkan telur pda ujungnya.

Untuk memperoleh gambaran bagaimana seekor imago betina membuat tangkai dan meletakkan telur, Anda dapat menyaksikannya pada kanal youtube "globalzoo" dari program BBC's Life yang berjudul The Lacewing (klik di sini). Video ini juga menampilkan rekaman larva yang baru menetas dari telur.

Kelimpahan populasi P. ramburi sangat berkaitan dengan kelimpahan mangsanya. Pada musim kemarau, ketika serangan kutu putih meningkat, jumlah P. ramburi pun melonjak tajam. Puncak kerapatan populasi tercatat pada bulan Oktober, saat tanaman singkong berumur sekitar 40 minggu setelah tanam (MST) (Gambar 7). Pada waktu itu, dalam satu tanaman dijumpai rata-rata 97 butir telur, 64 larva, dan 48 kokon.

Kurva populasi sayapjala hijau
Gambar 7. Perkembangan populasi Plesiochrysa ramburi di kebun singkong yang terserang berat kutu putih (Sumber: Nila Wardani, 2015)

Namun, begitu musim hujan tiba dan populasi kutu putih merosot, kelimpahan P. ramburi pun ikut menurun secara drastis. 

2. Spalgis epius (Westwood) (Lepidoptera: Lycaenidae)

“Serigala berbulu domba” lainnya yang dijumpai di kebun singkong terserang kutu putih adalah Spalgis epius. Predator ini jarang dikenali, barangkali karena ia tergolong ordo Lepidoptera. Lazimnya, larva Lepidoptera adalah pemakan tumbuhan, tapi tidak dengan yang satu ini. Ia merupakan predator kutu putih. Keberadaannya di Indonesia bahkan telah tercatat sejak tahun 1917.

Seperti pada P. ramburi, tubuh larva S. epius juga ditutupi lapisan lilin yang berasal dari kutu putih. Namun mekanismenya berbeda. Jika P. ramburi secara aktif mengumpulkan dan menempelkan lilin ke punggungnya, larva S. epius memperolehnya secara pasif. Saat ia merayap perlahan menembus koloni untuk memangsa, tubuhnya otomatis terlapisi lilin dari mangsanya. 

Larva S. epius memperlihatkan sosok menyerupai siput, tubuh pendek dan tebal serta berselimutkan lapisan lilin (Gambar 8). Tungkainya tersembunyi di bagian bawah tubuh sehingga tak tampak dari atas, dan gerakannya lamban. 

Apefly larva
Gambar 8. Larva Spalgis epius (Foto: Aunu Rauf)

Larva S. epius menghabiskan hampir seluruh fase hidupnya di dalam atau setidaknya sangat dekat dengan koloni kutu putih. Di sanalah ia memperoleh sumber makanan yang berlimpah.

Perkembangan larva berlangsung melalui lima instar. Pada instar pertama, larva biasanya tetap berada di dalam ovisak kutu putih dan memakan telur-telurnya. Setelah memasuki instar berikutnya, menu makanannya meluas. Tidak hanya memakan telur, tetapi juga nimfa dan bahkan imago kutu putih. 

Selama hidupnya, seekor larva mampu memangsa sekitar 800 butir telur, 50 nimfa, dan 15 imago kutu putih. Kanal youtube "Caterpillars of Singapore" menyediakan video rekaman larva S. epius yang sedang memangsa kutu putih (klik di sini).

Lama stadium larva sekitar 12 hari. Menjelang berkepompong, larva berhenti makan dan membersihkan tubuhnya dari lapisan lilin. 

Pupa yang kemudian terbentuk memiliki penampilan yang unik. Bentuknya menyerupai wajah kera, lengkap dengan tonjolan yang tampak seperti “mata”, “hidung”, dan “mulut” (Gambar 9). Keunikan morfologi inilah yang membuat serangga ini dalam literatur berbahasa Inggris kerap dijuluki apefly.

Apefly pupa
Gambar 9. Pupa Spalgis epius (Foto: Aunu Rauf_

Pupa biasanya dijumpai menempel pada bagian batang atau daun dari tanaman yang terserang kutu putih. 

Sekitar 11 hari kemudian, dari pupa tersebut muncul imago berupa kupu-kupu berwarna cokelat gelap dengan rentang sayap 20 mm (Gambar 10). Imago betina biasanya terbang cepat di sekitar tanaman yang dipenuhi kutu putih, mencari tempat untuk bertelur.

Imago of Apefly
Gambar 10. Imago Spalgis epius (Foto: Eka Wahyuningsih)

Telur berbentuk oval dengan panjang 1.8 mm dan lebar 0.5 mm, berwarna hijau pucat atau keputihan, dan diletakkan satu per satu atau dalam kelompok kecil di dekat koloni kutu putih pada tanaman yang terserang. Masa inkubasi telur berlangsung sekitar empat hari.

Secara keseluruhan, siklus hidup dari telur hingga imago memerlukan waktu sekitar 26 hari. Selama hidupnya, seekor betina mampu menghasilkan sekitar 80 butir telur. 

Sejauh yang saya ketahui, tak seorang pun di Indonesia yang pernah meneiti S. epius. Saya sendiri pernah mencoba memeliharanya di laboratorium, tetapi upaya itu berakhir gagal. Kupu-kupu yang dipelihara enggan kawin dan tidak meletakkan telur.

Belakangan saya baru tahu, dari studi di India, bahwa untuk terjadinya perkawinan, kurungannya harus berukuran besar (panjang dan lebar masing-masing  6 m, dan tinggi 10 m), ditempatkan di ruang terbuka, serta dilengkapi dengan pohon di dalamnya.

Rupanya, pasangan S. epius memerlukan suasana dan "kamar khusus" untuk keberhasilan "pedekate" (courtship) dan kopulasi.

Kini, setelah kita mengetahui "fasilitas" yang diperlukan untuk keberhasilan perkawinannya, barangkali ada di antara Anda yang tertarik untuk meneliti kupu-kupu predator yang unik ini.

3. Cryptolaemus montrouzieri (Mulsant) (Coleoptera: Coccinellidae)

Jenis "musang berbulu ayam" lainnya yang dijumpai di kebun singkong adalah larva Cryptolaemus montrouzieri. Ia bukanlah serangga asli Indonesia. Seabad lalu, persisnya tahun 1918, kumbang ini didatangkan dari Australia ke Jawa untuk mengendalikan kutu putih lamtoro, Ferrisia virgata, di perkebunan kopi.

Seperti dua predator sebelumnya, tubuh larva C. montrouzieri juga diselimuti lapisan lilin putih menyerupai kapas yang terdiri atas filamen lilin halus (Gambar 11).

Larva of mealybug destroyer
Gambar 11. Dua ekor larva Cryptolaemus montrouzieri sedang memangsa kutu putih (Foto: Eka Wahyuningsih)

Berbeda dengan larva P. ramburi dan S. epius yang lilinnya diperoleh dari kutu putih, lilin pada tubuh larva C. montrouzieri dihasilkan sendiri oleh sel-sel epidermis pada bagian dorsal tubuh larva. 

Larva C. montrouzieri berkembang melalui empat instar. Filamen lilin putih mulai tampak beberapa jam setelah larva menetas atau setelah mengalami pergantian kulit. Pada instar keempat, panjang tubuh larva dapat mencapai sekitar 8 mm, dengan filamen lilin sepanjang 2–3 mm yang menjuntai dari tubuhnya.

Masa perkembangan larva berlangsung 30 hari. Selama itu, setiap larva mampu mengonsumsi 1000 telur, 300 nimfa, dan 30 imago kutu putih.

Menjelang berkepompong, larva instar keempat berhenti makan dan hidup lebih terisolasi. Pupa yang terbentuk berukuran sekitar 7 mm dan lebar 5 mm, berwarna cokelat kemerahan, dan masih terselubung oleh filamen lilin putih (Gambar 12). 

Pupa of mealybug destroyer
Gambar 12. Pupa Cryptolaemus montrouzieri (Foto: Eka Wahyuningsih)

Pupa biasanya ditemukan menempel pada bagian tanaman yang terlindung, seperti pada batang atau permukaan bawah daun. 

Sekitar 10–11 hari kemudian, pupa berkembang menjadi imago. Tubuh kumbang sebagian besar berwarna hitam, dengan kepala, protoraks, dan ujung abdomen berwarna oranye kekuningan (Gambar 13). Panjang tubuhnya sekitar 4–5 mm dan lebar sekitar 3 mm.

Adult of mealybug destroyer
Gambar 13. Imago Cryptolaemus montrouzieri sedang memangsa kutu putih (Foto: Eka Wahyuningsih)

Selama hidupnya yang  dapat mencapai 80 hari, seekor imago betina mampu meletakkan telur sebanyak 200-500 butir. Telur berwarna putih kekuningan, permukaannya licin, berbentuk lonjong seperti kapsul, dan berukuran panjang 0.75 mm dan lebar 0.35 mm. Telur umumnya diletakkan di dekat atau pada koloni kutu putih, sehingga larva yang menetas segera menemukan makanannya.

Pada spesies ini, fase yang paling rakus memangsa kutu putih adalah imago dan larva instar keempat. Kanal youtube "Bug of The Week" menyediakan video rekaman kumbang dan larva C. montrouzieri yang sedang memangsa kutu putih (klik di sini). 

Selain C. montrouzieri, "serigala berbulu domba" lainnya dari kelompok kumbang Coccinellidae yang tak mustahil ditemukan di kebun singkong adalah Scymnus apiciflavus (Mots.) dan Nephus roepkei (Fluiter)

***

Di kebun singkong yang terserang kutu putih, terdapat sekelompok predator yang pantas dijuluki “serigala berbulu domba”. Mereka adalah larva Plesiochrysa ramburi, Spalgis epius, dan Cryptolaemus montrouzieriKetiganya menyamar menyerupai mangsanya dengan berselimutkan lapisan lilin putih.  

Penyamaran ini memberi mereka keleluasaan untuk menyusup ke tengah koloni kutu putih dan memangsanya tanpa memancing kecurigaan dari semut.  

Kehadiran para "serigala berbulu domba" ini memperlihatkan betapa kompleks dan menariknya interaksi ekologis yang berlangsung di kebun singkong. 


Referensi

Eisner T, Hicks K, Eisner M, Robson DS. 1978. "Wolf-in-Sheep's-Clothing" Strategy of a Predaceous Insect Larva. Science 199: 790-794.

Eisner T,Silberglied RE. 1988. A chrysopid larva that cloacks itself in mealybug wax. Psyche 95: 15-19.

Fanani MZ. 2020. Parasitoid Anagyrus lopezi (De Santis) (Hymenoptera: Encyrtidae): Persebaran Geografi dan Interaksi Multitrofik (disertasi). Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Kairo MTK, Paraiso O, Gautam RD, Peterkin DD. 2013. Cryptolaemus montrouzieri (Mulsant) (Coccinellidae: Scymninae): a review of biology, ecology, and use in biological control with partiular reference to potential impact on non-target organisms. CABI Reviews No. 005. CABI International.

Liere H, Perfecto I. 2008. Cheating on a Mutualism: Indirect Benefits of Ant Attendance to a Coccidophagous Coccinellid. Environ Entomol 37(1): 143-149.

Maulidina S. 2016. Potensi Pemangsaan Plesiochrysa ramburi Schneider (Neuroptera: Chrysopidae) pada Kutu Putih Pepaya, Paracoccus marginatus Williams & Granara de Willink (Hemiptera: Pseudococcidae) (skripsi). Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Pappas ML, Broufas GD, Koveos DS. 2011. Chrysopid Predators and their Role in Biological Control. Journal of Entomology 8(3): 301-326.

Saengyot S, Burikam I. 2012. Bionomics of the apefly, Spalgis epius (Lepidoptera: Lycaenidae), predatory on the papaya mealybug, Paracoccus marginatus (Hemiptera: Pseudococcidae), in Thailand. Songklanakarin J Sci Technol 34(1): 1-7.

Venkatesha MG, Dinesh AS. 2011. Mass rearing of Spalgis epius (Lepidoptera: Lycaenidae), a potential predator of mealybugs (Hemiptera: Pseudococcidae). Biocontrol Science and Technoloy 21(8): 929-940.

Wahyuningsih E. 2018. Biologi, Neraca Hayati dan Pemangsaan Cryptolaemus montrouzieri Mulsant (Coleoptera : Coccinellidae) pada Paracoccus marginatus Williams & Granara de Willink (Hemiptera : Pseudococcidae) (tesis): Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Wardani N. 2015. Kutu putih singkong, Phenacoccus manihoti Matile-Ferrero (Hemiptera: Pseudococcidae), hama invasif baru di Indonesia (disertasi). Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Internet
Powell EC. 2024. Trash Bug Versus Mealybug: Unique Insect Interaction Filmed for First Time. Entomology Today. https://entomologytoday.org/2024/02/15/trash-bug-versus-mealybug-unique-insect-interaction-filmed-first-time/. Diakses 25 Februari 2026.


Untuk keperluan sitasi, silakan tulis:

Rauf A. 2026. Menyoroti "Serigala Berbulu Domba" di Kebun Singkong. https://www.serbaserbihama.com/2026/03/serigala-berbulu-domba-kebun-singkong.html. Diakses tanggal (sebutkan).