Tuesday, July 28, 2026

Kenangan Bergelut dengan Ulat Grayak Bawang, Spodoptera exigua

Warisan paling berharga dari penelitian hama Spodoptera exigua pada bawang merah di Ciledug bukanlah publikasi atau teknologi, melainkan lahirnya petani yang mampu menjadi mitra sejajar dalam mengembangkan dan merawat inovasi.

Aunu Rauf*

Senja itu, 2 Juli 2026, selagi saya menyimak berita tentang perang Iran-AS di Metro TV, pada bagian bawah layar kaca muncul running text: "Kemarau tiba, bawang merah di Madiun diserang hama." Tulisan berjalan itu membawa ingatan saya pada ledakan ulat grayak bawang, Spodoptera exigua, pada pertanaman bawang merah di Ciledug pada pertengahan tahun 1990-an. 

Pergulatan saya dengan ulat grayak S. exigua bermula dari sebuah proposal penelitian yang lolos seleksi Program Nasional Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Sejak awal, proposal itu saya rancang bukan untuk saya kerjakan sendiri, melainkan untuk bahan disertasi seorang mahasiswa Program Doktor Entomologi. Setidaknya, mahasiswa tersebut tidak perlu merogoh saku untuk membiayai penelitiannya, termasuk untuk logistik dan akomodasi.

Rencana itu ternyata tak berjalan mulus. Tak lama setelah pendanaan disetujui, mahasiswa tersebut mendadak mengundurkan diri. Tanpa alasan yang jelas.

Terus terang saja, pengunduran diri mahasiswa tersebut membuat saya kelabakan. Bagaimana tidak. Dana penelitian sudah tersedia, dan konsekuensinya penelitian harus tetap berjalan. Sementara itu, sebagai Ketua Jurusan HPT saat itu, saya sudah sangat terbebani dengan berbagai tugas administrasi dan perkuliahan. 

Jalan keluarnya adalah membentuk tim peneliti. Saya merekrut beberapa mahasiswa S-1 untuk menjadikan penelitian ini sebagai bahan skripsi mereka. Di antaranya D. Ernawaty, M. Passanda, dan Ayik Wulansari. Setiap mahasiswa mengerjakan topik penelitian tertentu.

Karena cakupan penelitian sangat luas, saya juga mengajak beberapa lulusan baru Jurusan HPT menjadi asisten peneliti. Mereka adalah Ir Bayu Hendarto, Ir Dadang Mardiana, dan Ir Ririn S. Rahayu (Gambar 1). Belakangan ikut bergabung Ir. Reflinaldon, seorang dosen Universitas Andalas, untuk mengerjakan penelitian tesisnya.

Research assistant team of Spodoptera exigua
Gambar 1. Sebagian anggota tim peneliti hama Spodoptera exigua, September 1995 (Foto: Aunu Rauf)

Adalah mas Bayu dan kang Dadang yang bertugas mencari lokasi penelitian yang memenuhi syarat. Keduanya menghabiskan waktu dua hari berkeliling di sentra pertanaman bawang merah di Kecamatan Tanjung, Larangan, Ketanggungan, dan Losari di Kabupaten Brebes. Hasilnya nihil. Tak satu pun lahan yang cocok.. 

Akhirnya mereka balik kanan ke arah barat menuju Desa  Bojongnegara, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon, yang juga merupakan sentra pertanaman bawang merah.

Di tempat inilah keduanya bertemu dengan Pak Karsum, seorang petani bawang merah berperawakan kurus yang sedang bekerja di lahannya. Pertemuan ini menjadi pintu masuk memperoleh lahan sewa yang sesuai untuk kegiatan penelitian bawang merah. 

Dalam perburuan lahan penelitian itu, mas Bayu dan kang Dadang beberapa malam menumpang di rumah kerabat seorang mahasiswi HPT seangkatan, Siti Hartini. Tak dinyana, hubungan yang semula hanya sebatas tempat bermalam itu berkembang menjadi hubungan keluarga.  

"Ya, perburuan lahan penelitian itu berbonus mendapatkan mertua di Ciledug," seloroh mas Bayu beberapa tahun kemudian kepada saya. 

Setelah lokasi penelitian dipastikan, kami menyewa sebuah rumah sederhana bercat abu-abu di Perumahan Griya Purna Yudha, Desa Bojongnegara. Rumah itu menjadi markas tim peneliti sekaligus disulap menjadi laboratorium lapangan.

Di ruang tamu berdiri meja kayu besar buatan sendiri. Di sanalah sampel dari lapangan ditata, diamati, sekaligus menjadi tempat mengolah data hingga larut malam. Salah satu kamar diubah menjadi ruang kerja mikrobiologi dengan sebuah kotak "laminar air flow", yang juga buatan sendiri.

Lahan penelitian itu sendiri berada di sentra pertanaman bawang merah di Ciledug. Sebagaimana umumnya petani bawang merah di dataran rendah, petani di sini pun banyak menggunakan pestisida. Frekuensi penyemprotannya 2-3 hari sekali.

Tak mengherankan, sewaktu saya masuk ke suatu gang menuju lahan pertanaman bawang merah, di mulut gang disambut dengan "gapura" bambu yang pada bagian atasnya bergelantungan kaleng bekas kemasan pestisida dari berbagai merek (Gambar 2).  

A gate decorated with pesticide cans
Gambar 2. Kaleng bekas kemasan pestisida bergelantungan pada "gapura" bambu, Agustus 1995 (Foto: Aunu Rauf)

Semakin jauh melangkah ke hamparan bawang merah, aroma pestisida semakin pekat menyengat hidung. Saat itulah saya menyadari bahwa tantangan penelitian ini bukan semata memahami ekologi ulat grayak. Tantangan yang jauh lebih besar adalah mengentaskan petani dari ketergantungan terhadap pestisida.

***

Kami mengawali penelitian dengan sebuah pertanyaan sederhana. Apa yang dilakukan larva sesaat setelah menetas? Pertanyaan itu menjadi titik berangkat.

Dari lapangan, kami mengumpulkan rumpun bawang merah yang ada kelompok telur S. exigua untuk dibawa ke laboratorium, sebuah rumah kontrakan yang kami sulap menjadi "pusat penelitian". Di sanalah, setiap 15 menit, kami mencatat setiap gerak larva yang baru keluar dari cangkang telurnya.

Hasilnya menguak tabir perilaku larva instar awal. Telur menetas setelah berumur sekitar 2 hari, umumnya pada pagi hari. Belum genap 1 jam sejak menetas, sebagian besar larva sudah menghilang dari permukaan daun. Mereka melubangi epidermis daun tepat di bawah kelompok telur, lalu masuk dan hidup dalam rongga daun bawang. Hanya sebagian kecil yang masih bergerombol di sekitar cangkang telur. Seluruh koloni membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam hingga akhirnya tak seekor pun tersisa di permukaan daun.

Temuan itu memunculkan pertanyaan berikutnya. Setelah berada di dalam daun, sejauh mana larva mampu menyebar ke rumpun-rumpun lain? Untuk menjawabnya, kami membuat sebuah "arena" percobaan di lapangan. Sebuah bedengan berukuran 1m x 6m dikurung dengan kain batis setinggi 0.5 meter agar larva tidak keluar dari area pengamatan. Di tengah bedengan itu kami menempelkan 1 kelompok telur S. exigua yang berisi sekitar 40 butir. Sejak telur menetas, setiap hari kami mengikuti perjalanan larva dari satu rumpun ke rumpun berikutnya.

Pengamatan menunjukkan bahwa perpindahan antarrumpun mulai terjadi ketika larva memasuki instar-2, tetapi aktivitas itu mencapai puncaknya pada instar-3 dan instar-4. Setelah memasuki instar-5, larva cenderung menetap. Dalam kurungan percobaan itu, larva mampu mencapai rumpun yang berjarak sekitar 1 m dari tempat telur semula diletakkan.

Selama perkembangannya, ulat-ulat yang berasal dari 1 kelompok telur mampu menyerang hingga 37 rumpun bawang merah dan merusak sekitar 185 helai daun.

Saat menghitung angka-angka itu, saya jadi dapat memahami mengapa petani begitu cemas sekalinya menjumpai kelompok telur S. exigua pada pertanaman bawang merahnya. 

***

Salah satu bagian penelitian yang paling menguras tenaga adalah mengikuti dinamika populasi ulat grayak di lapangan. Kami sengaja membiarkan 36 bedengan bawang merah tumbuh tanpa perlakuan apa pun. Tidak ada pengendalian mekanis, tidak pula disemprot insektisida. Bedengan-bedengan itu menjadi laboratorium alam untuk melihat bagaimana populasi S. exigua berkembang tanpa campur tangan manusia.

Di bawah terik matahari yang menyengat kulit, kami berjalan di solokan, bergerak dari satu bedengan ke bedengan lain, menghitung kelompok telur dan ulat S. exigua. Pengamatan itu dimulai sejak tanaman berumur 7 hari setelah tanam (hst) dan diulang setiap 3-4 hari. 

Ketika tanaman baru berumur 7 hari dengan tinggi sekitar 9 cm, kami sudah menemukan rata-rata 2 kelompok telur pada setiap 20 rumpun. Populasinya lalu melonjak cepat. Delapan hari kemudian, saat tanaman berumur 15 hari, jumlahnya mencapai sekitar 15 kelompok telur per 20 rumpun. 

Pada umur 15 hst itu, setiap rumpun yang terserang dihuni rata-rata 15 ekor larva. Bahkan, di dalam sehelai daun bawang kami pernah menghitung 44 ekor larva berdesakan memakan jaringan daun.

Empat hari kemudian, hampir tak ada lagi rumpun yang luput dari serangan. Seluruh bedengan telah dikuasai ulat grayak. 

Dan ketika tanaman berumur 23 hari, pemandangan yang tersaji benar-benar mencengangkan. Tajuk bawang merah mengering, nyaris rata dengan permukaan tanah (Gambar 3). Sementara tanaman yang berada di dalam kurungan percobaan masih tampak hijau dan rimbun.

Shallots damaged by Spodoptera exigua
Gambar 3. Bedengan bawang merah yang puso akibat serangan ulat Spodoptera exigua, 12 September 1995 (Foto: Aunu Rauf)

Itulah kali pertama saya menyaksikan secara langsung sebuah pertanaman bawang merah mengalami puso akibat serangan S. exigua. Gambaran itu masih melekat kuat dalam ingatan hingga sekarang.

Setelah sumber makanan habis, ribuan ulat meninggalkan bedengan yang telah gundul. Mereka merayap ke segala arah mencari tanaman baru. Sebagian bahkan tampak berenang menyeberangi solokan menuju bedengan di seberangnya. 

Sialnya lagi, sebagian dari ulat-ulat itu menyusup masuk ke dalam kurungan percobaan (lihat Gambar 3 sebelumnya). Padahal, percobaan itu dirancang untuk mengukur hubungan tingkat infestasi dengan kehilangan hasil. Kontaminasi itu membuat seluruh percobaan gagal. Tak ada pilihan selain mengulangnya pada musim tanam berikutnya.

Bukan hanya kami yang dibuat tercengang oleh ledakan populasi ulat itu. Orang-orang yang melintas di sekitar lahan berhenti sejenak memandangi bedengan bawang merah yang puso. Mereka tampak keheranan melihat "hasil penelitian IPB" seperti itu.  

Bahkan, petani bawang merah yang lahannya berbatasan dengan petak percobaan kami datang mengeluh. Menurut mereka, lahan penelitian kami telah menjadi sumber penyebaran ulat ke kebun-kebun di sekitarnya.

Belakangan kami memahami bahwa peningkatan populasi ulat S. exigua pada masa itu tak terlepas dari berlimpahnya sumberdaya makanan. Di wilayah penelitian, pola tanam yang umum dilaksanakan adalah padi kemudian diikuti 3 kali penanaman bawang merah.

Menurut data Dinas Pertanian setempat, pertanaman bawang merah ketiga yang biasanya dimulai bulan Agustus adalah musim tanam yang terluas. Hamparan bawang yang nyaris tak terputus menyediakan sumber makanan melimpah bagi ulat grayak. 

Di tengah ledakan populasi itu, kami menemukan fenomena lain yang tak kalah menarik. Larva S. exigua ternyata tidak semuanya memiliki warna tubuh yang sama. Ada yang hijau pucat, ada yang kecokelatan, dan tidak sedikit yang berwarna gelap (Gambar 4). Perbedaan itu memancing rasa ingin tahu kami.

Color Variation in Spodoptera exigua larvae
Gambar 4. Keragaman warna ulat Spodoptera exigua pada saat terjadi ledakan, 12 September 1995 (Foto: Aunu Rauf)

Pada 11 dan 12 September 1995, ketika ledakan populasi sedang mencapai puncaknya, kami mengumpulkan larva secara acak sebanyak mungkin. Hasilnya mencapai 2.536 ekor. Sekitar 80 persen dari jumlah itu, terutama larva instar-5, berwarna gelap, sedangkan sisanya berwarna hijau terang.

Beberapa bulan kemudian, Desember 1995, kami mengulang pengumpulan pada saat populasi ulat sudah sangat rendah. Hasilnya justru berbalik. Dari 271 larva yang terkumpul, lebih dari 90% berwarna hijau terang. 

Fenomena perubahan warna seperti ini ternyata juga pernah dilaporkan pada beberapa spesies ulat yang dikenal sering mengalami ledakan populasi, seperti Spodoptera exempta dan Mythimna separata.

Ledakan populasi juga menawarkan kesempatan untuk mempelajari musuh alaminya. Secara teori, ketika populasi hama meningkat, populasi parasitoid biasanya ikut bertambah. Namun, tampaknya tak berlaku untuk S. exigua.

Dari 4.392 kelomok telur yang kami kumpulkan, hanya sekitar 0.9% yang terparasit. Sebagian besar oleh Telenomus sp, dan sisanya Trichogramma sp.

Keadaannya tidak jauh berbeda dengan larva. Dari 4.776 ulat yang dikumpulkan, hanya 5.7% yang terparasit. Parasitoid yang muncul terdiri dari 3 jenis Hymenoptera yaitu Microplitis sp. (Braconidae), Euplectrus sp., Stenomesies sp (Eulophidae)., dan lalat Peribaea (Diptera: Tachinidae). 

Rendahnya tingkat parasitisasi tampaknya bukan semata-mata karena intensifnya penggunaan insektisida. Buktinya, pada masa Hindia Belanda, Franssen yang mengumpulkan kelompok telur dan larva dari pertanaman bawang merah di Banten pada tahun 1928, mendapatkan tingkat parasitisasi yang juga sangat rendah. Hanya 0.3% pada telur dan 0.4% pada larva. 

Selain karena telurnya ditutipi sisik dan larvanya tinggal di dalam rongga daun bawang, ada kemungkinan penyebabnya justru terletak pada kesederhanaan ekosistem bawang merah itu sendiri. 

Hamparannya nyaris hanya terdiri atas daun-daun silindris yang tumbuh tegak. Tidak ada tajuk yang rimbun, tidak ada cabang, tidak ada permukaan bawah daun yang dapat menjadi tempat berlindung, bahkan gulma pun tak diberi kesempatan hidup.. 

Bagi parasitoid, ekosistem seperti itu ibarat gurun gersang yang miskin tempat bernaung.

***

Setiap pagi, sekitar pukul 7 hingga 11, pemandangan yang sama selalu berulang di hamparan bawang merah. Sejumlah emak-emak berdiri di sepanjang solokan yang membelah bedengan-bedengan tanaman (Gambar 5). 

Mechanical control
Gambar 5. Seorang emak sedang melakukan pengendalian mekanis, Juni 1996 (Foto: Aunu Rauf)

Dengan jemari yang terlatih, mereka mencabuti gulma, memetik daun yang ditempeli kelompok telur ulat grayak, lalu memungut satu per satu larva S. exigua yang mereka temukan. Pengalaman bertahun-tahun membuat mata mereka cukup peka dalam menemukan kelompok telur dan ulat.

Namun pekerjaan itu ternyata belum cukup membuat petani tenang. Setelah pengendalian mekanis selesai dilakukan, sebagian besar petani tetap menyemprotkan insektisida ke pertanaman (Gambar 6).

Pesticide spraying
Gambar 6. Seorang petani sedang menyemprot bedengan bawang merah dengan pestisida, Juni 1996 (Foto: Aunu Rauf)

Alasannya sederhana sekaligus masuk akal. Mereka tak pernah benar-benar yakin semua kelompok telur dan ulat telah berhasil dipungut. Selalu ada kekhawatiran bahwa masih ada beberapa yang luput dari pengamatan dan kelak merusak tanaman.

Kebiasaan itulah yang memunculkan sebuah pertanyaan penting dalam benak kami. Sebenarnya, berapa banyak kelompok telur yang masih dapat dibiarkan berada di pertanaman tanpa menyebabkan kehilangan hasil yang berarti? Dengan kata lain, apakah setiap kelompok telur memang harus dimusnahkan, atau masih ada batas yang dapat ditoleransi?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, bersamaan dengan penelitian dinamika populasi, kami menyusun percobaan yang menghubungkan jumlah kelompok telur dengan tingkat kerusakan tanaman dan hasil panen. Gagasannya sederhana, tetapi pelaksanaannya jauh dari mudah.

Seperti telah saya kisahkan sebelumnya, percobaan pertama berakhir gagal. Pada saat terjadi ledakan populasi, puluhan larva menyusup ke dalam kurungan percobaan sehingga seluruh perlakuan menjadi tidak lagi dapat dibandingkan. Kegagalan itu memaksa kami mengulang penelitian pada musim berikutnya.

Adalah Ir. Reflinaldon yang kemudian mengerjakan penelitian ulangan itu untuk tesis S2-nya. Ia membangun kembali percobaan menggunakan kurungan dengan berbagai tingkat kerapatan kelompok telur pada dua fase pertumbuhan bawang merah (Gambar 7). 

Cages for experiments
Gambar 7. Kurungan-kurungan untuk percobaan infestasi buatan, Oktober 1995 (Foto: Aunu Rauf)

Secara umum hasilnya menunjukkan bahwa keberadaan satu kelompok telur pada setiap 30 rumpun bawang merah sudah mulai menimbulkan penurunan hasil panen yang nyata. Dengan kata lain, pada bedengan berukuran sekitar 1.5 × 7 meter yang berisi kurang lebih 200 rumpun bawang merah, keberadaan ⪯ 4 kelompok telur yang luput dipungut barangkali masih dapat ditoleransi.

***

Penemuan besar sering kali berawal dari peristiwa yang tampak sepele. Demikian pula penemuan virus Spodoptera exigua nucleopolyhedrovirus (SeNPV).

Suatu siang pada April 1995, tim gabungan Clemson University dan IPB yang terdiri atas BM Shepard, G Carner, MD Hammig dan saya, sedang menyusuri kebun-kebun sayuran di kawasan Puncak. 

Ketika memasuki hamparan bawang daun, perhatian kami tertuju pada seekor ulat S. exigua yang tampak berbeda. Tubuhnya pucat, membengkak, dan menempel lemah pada permukaan daun (Gambar 8). Kuat dugaan, ia terinfeksi virus.

Spodoptera exigua larva infected by virus
Gambar 8. Ulat Spodoptera exigua yang memperlihatkan gejala terinfeksi virus, Juni 1995 (Foto: BM Shepard)

Ulat tersebut segera kami bawa ke laboratorium Balai Penelitian Bioteknologi Pertanian di Bogor. Di sanalah virus itu diperbanyak oleh Dr Eleanor F Shepard, seorang ahli virologi serangga sekaligus istri Prof. B Merle Shepard. Dari seekor ulat yang ditemukan secara tak sengaja di lapangan, lahirlah bahan penelitian yang kelak membuka jalan bagi pengendalian hayati ulat grayak bawang.

Sediaan kasar SeNPV kemudian diuji di pertanaman bawang daun di kawasan Puncak oleh tim Clemson University. Hasilnya cukup menggembirakan. Banyak larva mati setelah terinfeksi virus. Keberhasilan awal itu mendorong kami mengembangkan cara sederhana untuk memperbanyak virus sehingga dapat diproduksi langsung oleh petani (lihat boks).

Tahapan Perbanyakan Virus SeNPV pada Level Petani
(Sumber: Palawija IPM Project-Clemson University)

1. Siapkan 5–10 boks plastik berukuran 30 × 20 × 8 cm. Buat lubang 
    berukuran sekitar 10 × 15 cm  pada bagian tutup, kemudian tutup lubang
    tersebut dengan kain kasa sebagai ventilasi.
2. Isi setiap boks plastik dengan dua gelas air. Tambahkan satu sendok teh
    bibit virus, lalu aduk hingga tercampur merata.
3. Masukkan 20–30 helai daun bawang yang telah dicuci bersih ke dalam
    larutan virus hingga seluruh permukaannya basah secara merata.
4. Angkat daun bawang dari larutan virus, kemudian angin-anginkan selama
    sekitar 10 menit. Setelah itu, masukkan 5–6 helai daun bawang ke dalam
    setiap boks.
5. Masukkan 100–150 ekor ulat Spodoptera exigua instar 3–4 ke dalam
    setiap boks, kemudian biarkan ulat memakan daun tersebut selama 24 jam.
6. Setelah 24 jam, pindahkan ulat menggunakan sendok kecil ke boks lain, lalu
    berikan daun bawang segar yang telah dicuci dan dibersihkan.
7. Sekitar 3–4 hari kemudian, ulat yang terinfeksi virus akan tampak pucat
    (kuning keputihan), mengilap, dan biasanya berkumpul di bagian tepi boks.
    Virus sebaiknya dipanen ketika ulat berada pada fase menjelang mati, yaitu
    saat tidak lagi bergerak, tetapi tubuhnya belum hancur.
8. Ambil ulat yang terinfeksi menggunakan sendok teh, kemudian masukkan
    ke dalam botol yang dapat ditutup rapat. Simpan botol tersebut di dalam
    freezer. Jika tidak tersedia kulkas, simpan botol di dalam termos berisi es
    dan ganti es setiap kali mencair.
9. Untuk penggunaan, ambil sekitar setengah sendok teh virus, kemudian
    larutkan dalam satu gelas air.
10. Saring larutan virus menggunakan saringan teh atau saringan halus
    lainnya untuk menghilangkan partikel yang dapat menyumbat nosel
    penyemprot.
11. Tuangkan satu gelas larutan virus ke dalam tangki semprot, kemudian
    tambahkan air hingga penuh (sekitar 17 liter).
12. Agar virus tidak mudah tercuci dan memiliki waktu kontak yang lebih lama
    dengan ulat, siram tanaman sebelum aplikasi. Keesokan paginya, hindari
    penyiraman agar virus tetap menempel pada permukaan tanaman.
13. Lakukan penyemprotan pada sore hari, antara pukul 17.00–18.00.


Serangan ulat S. exigua yang tejadi setiap musim pada pertanaman bawang merah di dataran rendah menawarkan peluang pemanfaatan SeNPV sebagai alternatif terhadap insektisida kimia.

Orang pertama yang kami ajak mencoba adalah Pak Karsum, petani bawang merah di Ciledug yang sejak awal menjadi mitra penelitian kami. Setelah beberapa kali aplikasi, ia melihat sendiri hasilnya. Larva ulat banyak yang mati akibat infeksi virus. Tak lama kemudian ia meminta lagi tambahan sediaan SeNPV.

Melalui proyek PHT Palawija/Clemson University dan IPB, kami memutuskan untuk tidak sekadar membagikan virus, melainkan mengajarkan cara memperbanyaknya. Pak Karsum dilatih menghasilkan SeNPV sendiri sekaligus mempelajari cara mengaplikasikannya di lapangan.

Ulat yang digunakan untuk perbanyakan virus itu berasal dari kegiatan pengendalian mekanis. Larva yang biasanya dipungut lalu dibuang kini dikumpulkan ke dalam karung (Gambar 9). 

Bags for holding larvae
Gambar 9. Karung untuk menampung ulat Spodoptera exigua hasil pengendalian mekanis, Juli 1996 (Foto: Aunu Rauf)

Karung itu dibawa pulang ke rumah, dan larva-larva di dalamnya digunakan sebagai media untuk memperbanyak virus. 

Pertengahan Agustus 1997, kami menyempatkan diri menyambangi rumah Pak Karsum. Siang itu ia, dengan kaus berwarna merah muda di tubuhnya, tampak sedang sibuk memperbanyak virus SeNPV di rumahnya (Gambar 10). 

SeNPV virus propagation
Gambar 10. Pak Karsum sedang melakukan perbanyakan virus SeNPV di rumahnya, Juli 1996 (Foto: BM Shepard)

Pemandangan itu memberi kesan mendalam. Petani yang sebelumnya bergantung pada insektisida dari kios kini telah mampu memproduksi sendiri agen hayati untuk mengendalikan ulat di lahannya.

Keberhasilan SeNPV di Ciledug ternyata menyimpan kejutan lain. Virus itu berkembang jauh lebih cepat daripada yang kami perkirakan.

Petunjuk pertama datang dari Ir. Reflinaldon. Meski penelitian tesisnya tentang hubungan infestasi S. exigua dengan kehilangan hasil, ia terlibat intensif dalam berbagai pengujian lapangan SeNPV bersama tim Clemson University. 

Suatu hari ia melaporkan sesuatu yang mengherankan. Pada petak kontrol yang sama sekali tidak disemprot SeNPV, ia menemukan banyak larva mati menggantung dengan gejala khas infeksi virus (Gambar 11).

Spodoptera exigua larva killed by SeNPV virus
Gambar 11. Ulat Spodoptera exigua yang mati terinfeksi virus SeNPV, Juli 1996 (Foto: Aunu Rauf)

Setelah ditelusuri, rupanya virus itu mengalir bersama air. Di pertanaman bawang merah, setiap bedengan dihubungkan oleh jaringan solokan irigasi. Ketika SeNPV disemprotkan, sebagian partikel virus jatuh ke dalam air di solokan. 

Air yang mengalir itu kemudian digunakan kembali petani untuk menyiram bedengan-bedengan lain. Partikel virus yang menempel pada permukaan daun bawang lalu tertelan saat ulat makan jaringan daun.

"Air solokan tampaknya membantu penyebaran virus SeNPV dari satu bedengan ke bedengan lain," tandas Reflinaldon.

Keberhasilan itu segera menyebar dari mulut ke mulut. Petani di daerah sekitar mulai penasaran, bahkan iri melihat hasil yang dicapai Pak Karsum. Pada musim berikutnya, 1997, kegiatan pengujian sekaligus pemasyarakatan SeNPV diperluas ke Desa Dukuh Wringin, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes.

Perluasan itu dimungkinkan melalui kegiatan pendampingan yang dikoordinasikan oleh Ir. Cahyana Widyastama dari FAO Action Research Facility. Pada waktu yang hampir bersamaan, di lokasi yang sama, Ir. Ira Dewanti Israwan dan Drs. Lukman Effendy juga melakukan penelitian partisipatif mengenai SeNPV sebagai bahan tesis magister mereka di IPB. 

***

Tiga puluh tahun telah berlalu. Saat tengah menyiapkan tulisan ini pada Juli 2026, ingatan saya kembali tertuju kepada Pak Karsum. Alumni Sekolah Lapangan PHT itu bukan sekadar pengguna teknologi, melainkan orang yang membuktikan bahwa virus SeNPV dapat dipelihara dan dimanfaatkan secara mandiri oleh petani.

Saya lalu menghubungi Bayu Hendarto. Meski bermukim di Jember, mas Bayu masih rutin datang ke Ciledug bersama istri dan kedua anaknya. Maklum, mertuanya tinggal di kota itu.

Melalui WhatsApp saya bertanya, apakah Pak Karsum masih menggunakan SeNPV untuk mengendalikan ulat bawang?

Tak lama kemudian balasan dari mas Bayu masuk.

"Waktu saya bertemu Pak Karsum tahun 2024, dia masih memakai SeNPV. Setiap musim tanam, ia selalu memperbaharui biakan virus dari bangkai ulat yang mati menggantung lalu memperbanyaknya menggunakan larva segar yang diperoleh dari lahannya." 

Ia menambahkan kabar lain yang membuat saya tersanjung. Pak Karsum ternyata kerap diundang oleh dinas pertanian di kabupaten-kabupaten sekitar untuk berbagi pengalaman mengenai pengelolaan hama dan penyakit bawang merah. Petani yang dahulu menjadi mitra penelitian kini telah menjadi guru bagi sesama petani.

Rasa penasaran mendorong saya menghubungi langsung Pak Karsum, petani yang kini berusia 67 tahun dengan 3 anak dan 4 cucu. Nomor teleponnya saya peroleh dari mas Bayu.

Suara di seberang terdengar pelan dan lirih, diselingi jeda-jeda yang panjang.

"Bapak sekarang sudah tua .... Anak-anak tidak ada yang mau jadi petani ....  Maunya jadi pegawai....." 

Kalimat itu terdengar seperti kenyataan yang sedang dihadapi banyak keluarga petani di Indonesia. Namun, sesaat kemudian ia menyampaikan kabar yang justru memberi harapan.

Bibit virus SeNPV itu, katanya, masih tersimpan rapi di dalam kulkas rumahnya. Masih dipelihara. Masih siap digunakan oleh siapa pun yang memerlukannya.

Saya tertegun sejenak.

Tiga puluh tahun lalu kami datang ke Ciledug membawa sebuah gagasan tentang pengendalian hayati ulat S. exigua. Yang bertahan hingga hari ini ternyata bukan hanya virus itu, melainkan juga pengetahuan yang diwariskan dari peneliti kepada petani, lalu dari petani kepada petani lainnya. 

Selama masih ada orang-orang seperti Pak Karsum yang bersedia menjaga dan membagikan pengetahuan itu, harapan bagi pertanian yang ramah lingkungan akan tetap hidup. Dan saya berharap, di berbagai sentra bawang merah di negeri ini, akan lahir "Pak Karsum" lainnya.

Referensi
Rauf A, Sastrosiswojo S. 1996. Ledakan populasi Spodoptera exigua (Lepidoptera: Noctuidae) dan upaya pengendalannya pada pertanaman bawang merah. Seminar Hasil Penelitian Pendukung PHT, Lembang 26-29 Mei 1996.

Rauf A, Hendarto B, Reflinaldon, Mardiana D, Rahayu RS, M Passanda, Wulandari A, Ernawaty D. 1995. Bionomi dan Musuh Alami Hama Spodoptera exigua serta Hubungan antara Kerusakan Daun dan Kehilangan Hasil pada Pertanaman Bawang Merah. Laporan Akhir. Proyek Pengendalian Hama Terpadu, Departemen Pertanian.

Palawija IPM Project. 1997. Tahapan Perbanyakan SeNPV (virus ulat bawang) pada Level Petani. Clemson University. 13 h.

Sephard BM, EF Shepard, GR Carner, MD Hammig, Rauf A, Turnipseed SG, Samsudin. Prospects for IPM in Secondary Food Crops. Kongres V dan Simposium Entomologi, Perhimpunan Entomologi Indonesia, Bandung, June 24-26, 1997.


Untuk keperluan sitasi, silakan tulis:

Rauf A. 2026. Kenangan Bergelut dengan Ulat Grayak Bawang, Spodoptera exigua. https://www.serbaserbihama.com/2026/07/ulat-grayak-bawang-spodoptera-exigua-senpv.html. Diakses tanggal (sebutkan).


Disclaimer: Sebagian paragraf/kalimat dalam artikel ini mendapat sentuhan ringan kebahasaan dari ChatGPT.



Sunday, June 28, 2026

Ketika PHT Bersemi di Kebun Kelapa

Pengendalian ulat Artona catoxantha di kebun-kebun kelapa rakyat Jawa Tengah pada awal 1930-an melahirkan sebuah sistem pengelolaan hama yang jauh mendahului zamannya.

Friday, May 29, 2026

Ulat Grayak Spodoptera mauritia dan Mythimna separata: Hama Sporadis nan Bengis

Gerombolan ulat Spodoptera mauritia dan Mythimna separata terkadang menyerbu tiba-tiba dan menghilang begitu saja, meninggalkan persawahan yang luluh lantak.

Monday, April 27, 2026

Wednesday, March 4, 2026

Menyoroti Tiga "Serigala Berbulu Domba" di Kebun Singkong

Dengan tubuh terselubung lapisan lilin putih, larva Plesiochrysa ramburi, Spalgis epius, dan Cryptolaemus montrouzieri bisa leluasa menyusup ke tengah koloni kutu putih tanpa diusik semut.

Wednesday, February 18, 2026

Monday, December 29, 2025

Hari-hari Panjang Membersamai Ledakan Ulat Bulu dan Kumbang Tomcat

Awal tahun 2011 dan 2012 ulat bulu dan kumbang tomcat bergiliran menjadi magnet yang menyedot pemberitaan di koran dan televisi.

Wednesday, November 26, 2025

Wednesday, October 29, 2025

Membedah Kiprah Dr. P van der Goot dalam Pengendalian Hama di Hindia Belanda

Berkat jasa-jasanya dalam pengendalian berbagai hama tanaman, ia dianugerahi Medali Bosscha pada tahun 1936. Nahas, semasa pendudukan Jepang, wabah disentri yang merebak di seantero kamp interniran Tjimahi merenggut nyawanya.