Friday, August 29, 2025

Tanpa Semut Hitam Tak Ada Kakao

Semboyan itu seabad silam terpajang di gerbang masuk perkebunan kakao Siloewok Sawangan, sebuah gambaran filosofi pengelolaan hama yang bertumpu pada bacaan bahasa alam.

Aunu Rauf

Pada awal abad ke-20 ketika perkebunan kakao menjadi kebanggaan Hindia Belanda, ada sebuah tempat yang namanya melegenda dan kerap disebut dengan nada kagum: Siloewok Sawangan. 

Perkebunan itu terletak sekitar satu jam perjalanan ke arah barat dari Weleri, menembus perbukitan hijau dan ladang-ladang yang sesekali diselingi deretan pohon kelapa. Di ujung timur laut wilayah keresidenan Pekalongan, hamparan perkebunan kakao membentang sejauh mata memandang. 

Pada gerbang utama masuk ke perkebunan itu terpampang papan besar yang menggantung di antara deretan pohon kapuk yang menjulang tinggi. Pada papan tadi tertera tulisan berbahasa Belanda "Zonder zwarte mieren geen cacao" (Gambar 1), yang artinya "Tanpa semut hitam tak ada kakao". 

Cacao plantation in Pekalongan
Gambar 1. Gerbang masuk ke perkebunan kakao Siloewok Sawangan dengan papan bertuliskan "Zonder zwarte mieren geen cacao", Pekalongan, Jawa Tengah (Foto: JC van der Meer Mohr, Tropen MuseumCC-BY-SA-3.0)

Tulisan pada papan itu menyampaikan pesan sederhana namun sarat makna. Sebuah semboyan yang merupakan cerminan dari sejarah panjang hubungan antara manusia, alam, dan hasil bumi yang menjadi sumber kemakmuran.

Semboyan itu lahir dari pengalaman panjang para pengelola perkebunan yang berjuang melawan kepik Helopeltis, salah satu hama yang menakutkan di perkebunan kakao. 

Penggalan kisah tersebut di atas saya peroleh dari artikel yang ditulis oleh JC van der Meer Mohr, berjudul "Mieren als Bondgenooten van den Planter" [Semut Sebagai Sekutu Petani] terbitan tahun 1926. Sudah barang tentu isinya saya pahami melalui bantuan "DeepL", mesin layanan penerjemahan keluaran Jerman.

Cetak ulang (reprint) dari artikel tadi saya jumpai di dalam bundel dokumen lawas di perpustakaan Jurusan HPT, dulu pertengahan tahun 1980-an sewaktu masih di Kampus IPB Baranangsiang.

Meski tidak seproduktif LGE Kalshoven, misalnya, JC van der Meer Mohr juga kerap menulis artikel sains populer tentang serangga. Salah satu di antaranya berjudul "Insects eaten by the Karo-Batak people". Intisari dari artikel ini saya sisipkan pada postingan "Kupu-kupu dalam Lambungku".

JC van der Meer Mohr itu sendiri lahir tahun 1892 di Pagongan, sebuah desa di Kabupaten Tegal. Sangat boleh jadi orang tuanya adalah personel dari Pabrik Gula Pagongan. 

Setelah menyelesaikan studi di Universitas Amsterdam, JC van der Meer Mohr sempat menjadi staf di Balai Penyelidikan Hama Tumbuhan di Bogor (1918-1921), guru sekolah menengah di Surabaya (1921-1922), sebelum kemudian diangkat menjadi Direktur Stasiun Percobaan Deli di Medan (1934-1939).

***

Ada dua spesies Helopeltis yang menyerang kakao di Jawa, yakni Helopeltis antonii dan Helopeltis theivora. H. antonii lebih umum ditemukan, dan tersebar luas dari dataran rendah hingga ketinggian 2.800 m dpl. Sementara, H. theivora tidak pernah ditemukan pada ketinggian di atas 600 m dpl. 

Gejala serangan hama Helopeltis pada tanaman kakao tampak jelas pada pucuk, daun muda, dan buah. Tusukan stiletnya meninggalkan bercak kecil berwarna cokelat kehitaman yang kemudian meluas menjadi nekrosis. 

Pada pucuk muda, serangannya menyebabkan jaringan mengering dan mati sehingga pucuk layu atau terhenti pertumbuhannya. Pada daun muda, serangan memicu bercak-bercak tidak beraturan yang akhirnya merontokkan daun sebelum waktunya. 

Sementara itu, buah pentil (cherelle) sering kali mati dan gugur akibat serangan berulang. Sedangkan pada buah besar serangannya menyebabkan bercak cekung berwarna gelap, retak, hingga mengering. 

Serangan Helopeltis sendiri pertama kali terendus di Hindia Belanda pada tahun 1841 di perkebunan kakao di Manado. Serangan sporadis lantas dilaporkan terjadi pada kakao di Jawa antara tahun 1880 hingga 1890. Tahun 1890-an serangannya semakin mengkhawatirkan, dan serangan parah terjadi pada tahun 1901 dan 1902.

Tak mudah untuk menentukan berapa besar kerugian akibat serangan Helopeltis. Sebuah gambaran kasar kehilangan hasil diberikan oleh Ph. Levert, administratur perkebunan Siloewok Sawangan. 

Menurut catatan Levert, pada tahun 1931 dari kebun berumur 8 tahun yang relatif bebas dari serangan Helopeltis, banyaknya buah yang dipanen berjumlah 18.560 butir. Pada tahun 1932, kebun tadi terserang berat oleh Helopeltis, dan banyaknya buah yang berhasil dipanen 6.783 butir, atau hanya sepertiganya.

***

Kala itu, di Jawa ada beberapa nama besar pakar hama berkebangsaan Europa, yang sebagian waktunya dicurahkan untuk meneliti hama kakao. Sebut saja L ZehntnerS Leefmans, W Roepke, JG Betrem, dan P van der Goot. Oleh pegawai pribumi, sehari-hari mereka dijuluki "toean dokter tjoklat". Bertahun-tahun para peneliti ini mencari cara untuk menekan kerusakan oleh Helopeltis.

Semula pengendalian dilakukan dengan menangkap kepik Helopeltis satu demi satu. Itu biasanya dilakukan dengan bantuan emak-emak dan/atau anak-anak, dengan menggunakan belahan bambu sepanjang 20-40 cm yang ujungnya diolesi getah tanaman. Pada sore hari, mereka memperoleh upah dari mandor kebun sesuai dengan banyaknya kepik yang berhasil ditangkap.

Penangkapan biasanya dilakukan setahun penuh, terutama selagi populasinya rendah, misalnya karena pengaruh iklim. 

"Mematikan satu induk Helopeltis pada saat populasinya rendah jauh lebih bermakna ketimbang mematikan seribu induk pada saat populasinya berlimpah", begitu Zehntner berdalih.

Akan tetapi, pengendalian secara mekanis ini bukan tanpa kendala. Ia memerlukan upah buruh yang tidak sedikit. Karenanya, Zehntner lebih condong menyarankan pengendalian secara fisik dengan pembakaran pada saat kelimpahan populasi hama Helopeltis tinggi. 

Pembakaran dilakukan dengan menggunakan obor bambu sepanjang 1-1.5 m, dan ditujukan pada kepik yang sedang bertengger atau makan pada permukaan buah kakao. Tapi, cara ini tidak disarankan pada buah yang masih pentil (cherelle). 

Pengendalian dengan cara pembakaran ini tampaknya kurang diminati oleh para pekebun. Pada tahun 1920-an, pembakaran sama sekali ditinggalkan. Dan, satu-satunya cara pengendalian yang masih diterapkan yaitu penangkapan. 

Belakangan, muncul keraguan terhadap keefektifan penangkapan. Penelitian Betrem mengungkapkan bahwa hanya sepertiga dari populasi Helopeltis yang berhasil ditangkap. Pasalnya, sebagian besar mereka hidup pada tajuk bagian atas yang sulit dijangkau.

Praktik pengendalian secara mekanis akhirnya ditinggalkan pada tahun 1930-an, terutama setelah Betrem menemukan bahwa hama Helopeltis dapat diberantas dengan pengembusan tepung deris yang mengandung 0,6–0,7% rotenon.

Pengembusan dilakukan bila ditemukan 80 ekor Helopeltis per 100 pohon. Sebagai catatan tambahan dari saya, sejatinya Betrem adalah orang yang lebih dulu menggunakan kerapatan hama sebagai acuan kapan pengendalian kimiawi dilakukan, jauh sebelum konsep ambang ekonomi lahir di California pada tahun 1959..

Hampir berbarengan dengan itu semua, upaya pengendalian hayati juga dilakukan. Terutama setelah seorang peneliti hama teh bernama R Menzel menemukan parasitoid Euphorus helopeltidis, yang dapat memarasit nimfa Helopeltis hingga 50-80%. 

Berdasar temuan itu, MacGillavry, administratur perkebunan kakao Djati Roenggo, pun tertarik untuk membiakkan parasitoid itu secara massal di laboratorium. 

Selama setahun penuh, puluhan parasitoid E. helopeltidis dilepas setiap harinya di kebun kakao yang terserang berat Helopeltis. Tapi karena hasilnya mengecewakan, akhirnya kegiatan itu dihentikan. 

Nah, pengendalian hayati yang lebih menawarkan harapan tampaknya ditunjukkan oleh semut hitam Dolichoderus bituberculatus (sekarang: Dolichoderus thoracicus). Ini sebenarnya berawal dari pengalaman dua orang pekebun kakao di Malang pada sekitar tahun 1908. 

Keduanya mendapati bahwa kebun kakao yang banyak dihuni oleh semut hitam, hanya sedikit terserang Helopeltis. Dan sebaliknya. Pada waktu yang hampir bersamaan, fenomena serupa juga teramati di perkebunan Siloewok Sawangan.

Semula banyak yang meragukan temuan itu. Namun, selepas van der Goot membuktikannya secara eksperimental pada pertengahan tahun 1910-an, barulah keraguan itu perlahan sirna.

Semut hitam bukanlah predator, ia tidak memangsa Helopeltis atau serangga lainnya. Tapi, ramainya mereka berlalu-lalang pada batang, cabang, pucuk, dan buah membuat Helopeltis tak nyaman. Sang kepik tak bisa mengisap cairan tanaman dengan tenang.

Meski begitu, menurut pengamatan van der Goot, kadangkala, jika merasa sangat terganggu, semut hitam dapat bertindak agresif sehingga menyebabkan imago Helopeltis terbang kabur dan nimfanya menjatuhkan diri dari pohon. 

Akibat kehadiran semut hitam ini, kerusakan pada tanaman berkurang. Begitu pula tingkat reproduksi Helopeltis menurun karena tidak cukup makan.

Kedatangan semut hitam ke kebun kakao bukan tanpa alasan. Mereka datang karena keberadaan kutu putih Pseudococcus crotonis (sekarang: Planococcus lilacinus) yang umum terdapat pada permukaan buah kakao dan ujung ranting termuda (Gambar 2).

Semut hitam bersama kutu putih
Gambar 2. Pucuk kakao penuh dengan kutu putih dan semut hitam (Sumber: TropenMuseumCC-BY-SA-3.0)

Kutu putih tadi menghasilkan embun madu yang merupakan santapan bagi semut hitam. Bahkan, mereka kerap “memerah” kutu putih dengan antenanya agar cairan keluar lebih banyak. Untungnya, kehadiran kutu putih ini tak menimbulkan kerusakan yang berarti pada kakao.

Tak hanya itu, kutu putih pun memerlukan semut hitam. Ini dibuktikan oleh van der Goot. Ia membandingkan pohon kakao yang penuh semut dengan pohon tanpa semut. Hasilnya, pada pohon tanpa semut, koloni kutu putih cepat lenyap; sementara pada pohon dengan semut, kutu putih berkembang dengan pesat. 

Atas dasar kenyataan itu, Mr Waller, administratur perkebunan Siloewok Sawangan, mengambil keputusan berani:

"Guna menekan kerusakan oleh hama Helopeltis, keberadaan koloni kutu putih dan semut hitam di pekebunan kakao adalah suatu keniscayaan".

Untuk itu, kebun-kebun kakao secara teratur "diisi ulang" dengan kutu putih dan semut hitam. Di antaranya dengan mengembalikan kutu putih yang melekat pada kulit buah kakao yang dipanen ke pohon kakao. 

Lebih jauh lagi, pihak perkebunan Siloewok Sawangan membeli sarang semut hitam dari penduduk setempat (Gambar 3). 

Purchasing cacao black ants
Gambar 3. Pembelian semut hitam Dolichoderus bituberculatus untuk dilepas di perkebunan kakao Siloewok Sawangan, Pekalongan, Jawa Tengah (Foto: JC van der Meer Mohr, TropenMuseumCC-BY-SA-3.0

Kala itu, di pelosok desa banyak penduduk membuat contong dari daun pisang untuk sarang semut. Contong tadi lalu digantungkan di tempat-tempat yang ada semut hitamnya. Nanti, kalau sudah dipenuhi semut hitam, contong tadi lantas dijual ke perkebunan. 

Setiap tahun, perkebunan kakao Siloewok Sawangan mengeluarkan dana tak sedikit untuk pembelian semut hitam. Karena ingin tahu berapa besarnya, saya pun mencoba menelusuri lewat internet.

Beruntung, di layar laptop saya berpapasan dengan koran lawas "Het Vaderland" terbitan 8 Juni 1928 (Gambar 4). 

Koran lawas
Gambar 4. Koran Het Vaderland edisi 8 Juni 1928.yang memuat kisah pemanfaatan semut hitam  di perkebunan kakao Siloewok Sawangan.

Di dalamnya ada rubrik Wetenschappen (Ilmu Pengetahuan) yang memuat ulasan tentang "Zonder zwarte mieren geen cacao". Disebutkan bahwa perkebunan Siloewok Sawangan mengeluarkan dana sekitar 15 hingga 20 ribu gulden saban tahun untuk membeli hampir satu juta sarang semut. 

Tak heran, ratusan ribu koloni baru semut hitam setiap tahun digantungkan di kebun kakao. Bersamaan dengan contong daun pisang yang berisi semut hitam itu, contong kosong yang terbuat dari daun kakao digantung di pohon kakao. 

Contong ini jauh lebih tahan lama dan tampaknya lebih disukai oleh semut hitam daripada yang terbuat dari daun pisang (Gambar 5A). Dan, setelah beberapa waktu, semut-semut hitam akan berpindah ke contong baru yang terbuat dari daun kakao (Gambar 5B). 

Contong daun kakao
Gambar 5. Contong yang terbuat dari daun pisang (A) dan daun kakao (B) (Foto: JC van der Meer Mohr). 

Tak sekadar itu, terkadang pekerja perlu menyiapkan "jembatan layang" yang terbuat dari tali bambu, dengan harapan sebagian semut akan berpindah dari kebun yang padat semut ke kebun yang miskin semut. Jika upaya kolonisasi semacam itu telah berhasil, tali-tali tersebut kemudian dilepas.

Upaya lain untuk mempertahankan keberadaan semut hitam yaitu menghindari gangguan dari pesaingnya, semut gramang Plagiolepis longipes (sekarang: Anoplolepis gracilipes). Keberadaan semut gramang dapat menyebabkan semut hitam terusir dari pohon kakao. 

Berbeda dengan semut hitam yang bersarang di pohon, semut gramang membuat sarang dalam tanah. Karenanya, untuk mengurangi gangguan semut gramang, para pekerja menggunakan perangkap berupa lubang berisi daun kering. Setelah lubang-lubang tersebut penuh dengan gramang, lubang-lubang tadi lantas ditutup dengan tanah dan dipadatkan dengan kuat.

Tak perlu diragukan lagi, perkebunan kakao Siloewok Sawangan merupakan pelopor pendayagunaan semut hitam untuk pengendalian hama Helopeltis. Ini tentunya tak lepas dari dukungan JC Ebeling, sang pemilik kebun.

Berikut ini testimoni Dr. G Giesberger, seorang pakar mikrobiologi yang pernah ditempatkan di Siloewok Sawangan

"Selama lebih dari 40 tahun (1920-an hingga 1958) hama Helopeltis di perkebunan Siloewok Sawangan yang luasnya 1.500 ha itu berhasil dikendalikan dengan cara mengintroduksikan kutu putih dan semut hitam ke dalam kebun, menyediakan sarang buatan, dan meniadakan gangguan semut gramang ". 

Sayangnya, sejak masa Perang Dunia II hingga sesudahnya, peranan semut hitam di perkebunan kakao mulai meredup dan terpinggirkan. Hal ini sejalan dengan ditemukannya serta semakin meluasnya penggunaan berbagai senyawa insektisida modern.

Sejak tahun 1957, insektisida seperti endrin, dieldrin, DDT, dan BHC digunakan secara intensif untuk mengendalikan hama utama kakao saat itu, yakni penggerek buah kakao Conopomorpha cramerella

Namun, alih-alih menyelesaikan masalah, pemakaian bahan kimia tersebut justru memunculkan hama sekunder yang sebelumnya tidak dianggap penting. Salah satu contohnya adalah kumbang penggerek cabang Glenea novemguttata.

Catatan sejarah menyebutkan, sebuah perkebunan kakao seluas 1.200 hektar di Sawangan terpaksa dibongkar total gegara serangan kumbang G. novemguttata.

Sementara itu, di perkebunan lain di Jawa Tengah, hama penggerek batang Zeuzera coffeae menyebabkan kerusakan parah hingga banyak kebun akhirnya ditelantarkan begitu saja.

Seiring berjalannya waktu, kesadaran akan dampak buruk insektisida mulai tumbuh. Bukan hanya karena munculnya hama sekunder, tetapi juga karena kekhawatiran konsumen terhadap bahaya residu pestisida pada produk pertanian, termasuk kakao. 

Tak mengherankan, bila sejak pertengahan 1980-an perhatian terhadap peranan semut hitam kembali bangkit. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga merambah ke negeri jiran Malaysia. 

Bahkan, konon pengaruhnya pun tak hanya pada penurunan serangan Helopeltis, tapi juga serangan penggerek buah kakao dan hama tikus. 

***

Dari sejarah Siloewok Sawangan, yang sekarang merupakan bagian dari PT Perkebunan Nusantara IX, kita belajar bahwa harmoni antara manusia dan semut hitam telah melahirkan kisah keberlanjutan yang melampaui zamannya.

Referensi

Bakri AH, Asid M, Redshaw MJ. 1986. Pemberantasan Helopeltis secara terpadu dengan penggunaan semut hitam dan bahan kimia pada tanaman coklat di Sumatera Utara. Temu Ilmiah Entomologi Perkebunan Indonsia, Medan. 11 h.

Giesberger G. 1983. Biological control of the Helopeltis pest of cocoa in Java, pp 91-180 in Toxopeus H & Wessel PC (Eds) Cocoa research in Indonesia 1900-1950. Volume II. Wageningen, American Cocoa Research Institute and International Office of Cocoa and Chocolate.

Khoo KC, Ho CT. 1992. The influence of Dolichoderus thoracicus (Hymenoptera: Formicidae) on losses due to Helopeltis theivora (Heteroptera: Miridae), black pod disease, and mammalin pests in cocoa in Malaysia. Bull Entomol Res 82: 485-491.

See YA, Khoo KC. 1996. Influence of Dolichoderus thoracicus (Hymenoptera: Formicidae) on cocoa pod damage by Conopomorpha cramerella (Lepidoptera: Gracillariidae) in Malaysia. Bull Entomol Res 86: 467-474.

van der Goot P. 1917. De zwarte cacao-mier (Doiichoderus bituberculatus Mayr.) en haar beteekenis  voor de cacao-cultuur op Java. Mededeelingen Proefstation Midden Java No. 25.

van der Meer Mohr JC. 1926. Mieren Als Bondgenooten van den Planter. De Indische Cuturen (Teysmania) 8: 204-209.

Way MJ, Khoo KC. 1992. Role of ants in pest management. Annu Rev Entomol 37: 479-503.

Untuk keperluan sitasi, silakan tulis:

Rauf A. 2025. Tanpa Semut Hitam Tak Ada Kakao.  https://www.serbaserbihama.com/2025/08/tanpa-semut-hitam-tak-ada-kakao.html. Diakses tanggal (sebutkan).