Serangan kutu putih pepaya, Paracoccus marginatus, kini tak lagi mengkhawatirkan, tak seperti saat awal kedatangannya pada tahun 2008.
Kehadiran kutu putih pepaya, Paracoccus marginatus, pernah menimbulkan kepanikan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dalam waktu singkat, ia berubah dari serangga yang nyaris tidak dikenal menjadi salah satu hama invasif yang paling diperbincangkan
Di balik ukurannya yang mungil, kutu putih pepaya menyimpan kisah kehidupan yang menarik untuk disimak. Artikel ini mengajak pembaca mengenal lebih dekat kehidupan kutu putih pepaya, mulai dari asal-usul dan persebaran, cara hidup, dan musuh alaminya.
Persebaran
Kutu putih pepaya merupakan serangga asli Meksiko dan Amerika Tengah. Di daerah asalnya, keberadaan serangga ini nyaris tidak pernah dianggap sebagai ancaman serius bagi pertanian.
Populasinya tetap terkendali berkat peranan beragam musuh alami yang hidup berdampingan dengannya selama ribuan tahun. Keseimbangan ekologis itulah yang membuat kutu putih pepaya tidak berkembang menjadi hama penting di daerah asalnya.
Situasi berubah ketika serangga ini mulai keluar dari wilayah asalnya. Pada tahun 1994, kutu putih pepaya menginvasi kawasan Karibia, termasuk Bahama, Republik Dominika, Haiti, dan Puerto Riko.
Empat tahun kemudian, tepatnya pada 1998, kutu putih pepaya terdeteksi di Florida, Amerika Serikat. Serangannya tidak lagi terbatas pada tanaman pepaya, tetapi juga meluas ke banyak jenis tanaman hortikultura dan tanaman hias. Dari sana, penyebarannya terus berlanjut melintasi samudra menuju kawasan Pasifik.
Pada tahun 2002, serangan berat dilaporkan terjadi pada pertanaman pepaya di Guam. Setahun berikutnya, hama ini telah mencapai Kepulauan Palau. Gelombang invasi terus bergerak.
Tahun 2004 kutu putih pepaya ditemukan di Pulau Maui dan Oahu di Hawaii, lalu pada 2005 mencapai Northern Mariana. Dalam waktu singkat, serangga ini menjelma menjadi salah satu hama invasif yang paling cepat menyebar di kawasan tropis.
Di daerah-daerah baru tersebut, hama ini seolah menemukan “ruang tanpa musuh”. Tanpa pengendali alami yang memadai, populasinya melonjak dengan cepat dan menimbulkan kerusakan berat pada berbagai tanaman budidaya.
Di Asia, hama ini pertama kali dijumpai di Bogor (Indonesia) pada tahun 2008 (klik di sini). Pada saat yang hampir bersamaan, kutu putih pepaya juga dijumpai di Tamil Nadu, India.
Setahun kemudian, invasi kutu putih pepaya dilaporkan meluas ke Malaysia, Thailand, Sri Lanka, Nepal, Bangladesh, dan tahun 2010 sudah mencapai beberapa negara di Afrika dan Timur Tengah.
Hingga akhir 2008 persebaran hama ini di Indonesia masih terbatas di Bogor dan sekitarnya seperti Jakarta, Tangerang, Sukabumi, dan Cianjur.
Pada pertengahan 2009, kutu putih pepaya dilaporkan telah menyebar ke Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali, Lampung, Riau, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Utara. Kini hama ini telah ditemukan diseluruh wilayah Nusantara, termasuk Nusa Tenggara Timur dan Papua.
Gejala kerusakan
Serangan kutu putih pepaya biasanya mudah dikenali dari munculnya gumpalan-gumpalan putih menyerupai kapas atau benang lilin pada permukaan buah maupun bagian bawah daun.
Gumpalan putih itu sebenarnya adalah koloni kutu yang hidup bergerombol dan berkembang biak dalam jumlah besar pada satu bagian tanaman. Dari kejauhan, permukaan daun atau buah yang terserang tampak seolah tertutup tepung atau kapas tipis berwarna putih.
Pada daun tua serangan biasanya terjadi sepanjang tulang tengah dan urat daun, sedangkan pada daun muda dan buah terjadi pada seluruh bagian. Pada saat mengisap cairan, alat mulut kutu menginjeksikan racun ke dalam jaringan tanaman. Sebagai akibatnya, serangan pada pucuk menyebabkan daun tumbuh kerdil dan keriput (Gambar 1).
| Gambar 1. Serangan pada pucuk menyebabkan daun tumbuh kerdil dan keriput (Foto: Aunu Rauf) |
Pada keadaan serangan berat, seluruh permukaan bawah daun pepaya penuh ditutupi kutu (Gambar 2) yang menyebabkan daun mengering. Bila keadaan ini berlangsung terus, tanaman dapat mengalami kematian.
| Gambar 2. Permukaan bawah daun pepaya yang penuh diselimuti koloni kutu putih (Foto: Aunu Rauf) |
Pada buah, serangan berat menyebabkan permukaannya tertutup lapisan lilin putih yang tebal (Gambar 3). Sudah barang tentu, buah seperti ini tak layak untuk dipanen dan dikonsumsi.
| Gambar 3. Permukaan buah papaya penuh diselimuti koloni kutu putih (Foto: Aunu Rauf) |
Kerusakan tanaman juga diperparah oleh embun madu yang dikeluarkan kutu putih selama makan. Cairan manis ini menjadi media tumbuh cendawan jelaga berwarna hitam. Akibatnya, permukaan daun dan buah yang terserang tampak menghitam seperti dilapisi jelaga.
Deskripsi
Kutu dewasa betina tidak bersayap, berbentuk bulat telur, dan berukuran panjang 2.2 mm dan lebar 1.4 mm. Tubuhnya berwarna kuning, tetapi warna asli tersebut hampir tidak terlihat karena seluruh permukaannya tertutup lapisan lilin putih (Gambar 4). Lapisan lilin inilah yang membuat kutu tampak seperti serpihan kapas kecil yang menempel pada daun atau buah.
![]() |
| Gambar 4. Imago betina kutu putih Paracoccus marginatus (Foto: Dewi Sartiami) |
Telur kutu putih pepaya berwarna kuning kehijauan dan diletakkan di dalam kantung telur yang ukurannya dapat mencapai 2-3 kali lipat panjang tubuh induknya.
Kantung telur tersebut terbentuk pada bagian ujung bawah abdomen kutu betina. Seluruh permukaan kantung diselimuti lapisan lilin putih tebal sehingga tampak seperti gumpalan kapas halus. Di balik lapisan pelindung itu, terdapat ratusan telur yang tersusun rapat (Gambar 5).
![]() |
| Gambar 5. Kantung telur yang di dalamnya berisi ratusan butir telur (Foto: Yani Maharani) |
Kutu jantan memiliki bentuk tubuh yang jauh berbeda dengan betina. Pada fase prapupa dan pupa, tubuhnya berwarna merah jambu, sedangkan pada nimfa instar-1 dan instar-2 warnanya cenderung kuning.
Serangga jantan dewasa memiliki sepasang sayap (Gambar 6), tubuh memanjang, dan berukuran lebih kecil dibandingkan betina, yaitu sekitar 1.0 mm dengan bagian toraks terlebar hanya sekitar 0.3 mm. Bentuknya yang mungil membuat kutu jantan lebih sulit ditemukan di lapangan dibandingkan koloni betina yang hidup bergerombol pada permukaan tanaman.
![]() |
| Gambar 6. Imago jantan kutu putih Paracoccus marginatus (Foto: Dewi Sartiami) |
Perikehidupan
Siklus hidup kutu putih pepaya berlangsung relatif singkat, hanya sekitar satu bulan. Namun dalam waktu sesingkat itu, serangga ini mampu berkembang biak dengan sangat cepat dan membentuk koloni besar pada tanaman inangnya.
Berbeda dengan banyak jenis kutu putih lainnya, Paracoccus marginatus tidak berkembang biak secara partenogenesis. Artinya, reproduksi hanya dapat terjadi apabila kutu betina kawin dengan kutu jantan. Di lapangan, jumlah betina jauh lebih banyak dibandingkan jantan, dengan nisbah kelamin sekitar 9 : 1. Betina yang tidak kawin tidak mampu meletakkan telur.
Untuk menarik pasangan, kutu betina dewasa menghasilkan feromon seks yang menyebar di udara. Zat kimia ini berfungsi sebagai sinyal bagi kutu jantan untuk menemukan betina. Setelah kawin, seekor betina dapat menghasilkan sekitar 100–500 butir telur.
Masa peletakan telur berlangsung sekitar dua minggu. Kantung telur dibentuk pada bagian ujung bawah abdomen kutu betina dewasa dan terus bertambah besar seiring bertambahnya jumlah telur di dalamnya. Sekitar tujuh hari setelah diletakkan, telur menetas menjadi nimfa instar-1 yang aktif bergerak, yang dikenal dengan sebutan "crawler".
Sebelum memasuki fase dewasa, nimfa bakal betina melewati tiga tahap perkembangan, yaitu instar-1, instar-2, dan instar-3; sedangkan nimfa bakal jantan ditambah dengan instar-4 (Gambar 7).
Pada instar-1 hingga awal instar-2, nimfa jantan dan betina hampir tidak dapat dibedakan. Perbedaan mulai tampak menjelang akhir instar-2, ketika tubuh nimfa bakal jantan berubah warna dari kuning menjadi merah jambu.
Selanjutnya nimfa berganti kulit menjadi instar-3 dan instar-4. Tubuh nimfa instar-4 diselimuti lapisan tipis yang terbuat dari lilin. Pada jantan, instar-3 kerap disebut prapupa, sedangkan instar-4 disebut pupa. Dari pupa inilah kemudian muncul kutu jantan dewasa bersayap.
Secara umum, kutu putih pepaya bukan serangga yang aktif bergerak. Koloni betina dewasa biasanya menetap pada satu bagian tanaman sepanjang hidupnya. Akan tetapi, nimfa instar-1 yang baru menetas memiliki kemampuan penyebaran yang sangat tinggi.
Ukurannya yang amat kecil membuat nimfa ini mudah terbawa angin atau menempel pada tubuh burung dan serangga lain. Dengan cara inilah kutu putih pepaya dapat berpindah dari satu tanaman ke tanaman lain, dari satu kebun ke kebun berikutnya, bahkan melintasi wilayah yang cukup jauh.
Penyebaran juga sering terjadi tanpa disadari melalui aktivitas manusia. Lapisan lilin yang lengket menyebabkan kantung telur maupun kutu betina dewasa mudah menempel pada pakaian, topi, atau peralatan kebun. Seseorang yang memasuki kebun terserang dapat membawa kutu tersebut ke tempat lain.
Tumbuhan inang
Kutu putih pepaya dikenal sebagai hama yang tidak pilih-pilih makanan. Serangga ini tergolong polifag, yaitu mampu hidup dan berkembang pada banyak jenis tumbuhan dari berbagai famili.
Hingga kini tercatat lebih dari 60 jenis tanaman dapat menjadi inangnya. Namun di antara sekian banyak tanaman tersebut, pepaya (Carica papaya) tetap merupakan inang utamanya.
Selain pepaya, kutu putih pepaya juga sangat sering ditemukan menyerang tanaman kamboja (Plumeria), berbagai jenis jarak seperti jarak pagar dan jarak batavia (Jatropha spp.), serta ubi kayu (Manihot esculenta).
Tanaman kamalakian dan kembang sepatu juga diketahui sangat disukai oleh hama ini. Bahkan tanaman budidaya lain seperti tomat, terong, katuk, ubi jalar, kedelai, dan alpukat dapat ikut terserang apabila tumbuh berdekatan dengan tanaman inang utama yang terserang berat kutu putih pepaya. Dalam kondisi seperti itu, hama ini seolah “meluap” dari tanaman utama ke tanaman di sekitarnya.
Musuh alami
Pada masa awal kedatangan kutu putih pepaya, hampir tidak banyak musuh alami yang mampu menekan perkembangan populasinya di lapangan. Akibatnya, hama ini berkembang sangat cepat dan menimbulkan ledakan serangan di berbagai daerah.
Namun seiring berjalannya waktu, berbagai musuh alami secara perlahan muncul dan ikut memanfaatkan keberadaan kutu putih pepaya sebagai sumber makanan maupun inang. Proses rekrutmen alami ini melibatkan predator, parasitoid, hingga patogen serangga.
Beberapa predator yang ditemukan menyerang kutu putih pepaya berasal dari kelompok kumbang Coccinellidae, antara lain Curinus coeruleus, Cryptolaemus montrouzieri, Chilocorus sp., dan Scymnus sp. Selain itu, kepik dari famili Anthocoridae dan larva lalat Syrphidae juga kerap dijumpai memangsa koloni kutu putih pada tanaman terserang.
Namun yang paling sering terlihat di lapangan pada saat terjadi ledakan populasi kutu putih adalah Plesiochrysa ramburi (Neuroptera: Chrysopidae). Larvanya diselimuti lapisan lilin putih yang berasal dari mangsanya (Gambar 8), sementara imagonya berwarna hijau (Gambar 9).
![]() |
| Gambar 8. Larva Plesiochrysa ramburi (Foto: Aunu Rauf) |
![]() |
| Gambar 9. Imago Plesiochrysa ramburi (Foto: Aunu Rauf) |
Predator P. ramburi ini juga ditemukan pada pertanaman singkong yang terserang berat oleh kutu putih singkong, Phenacoccus manihoti. Ihwal predator P. ramburi selengkapnya dapat disimak pada postingan "Menyoroti Tiga 'Serigala Berbulu Domba' di Kebun Singkong" (klik di sini).
Musuh alami lainnya yang ditemukan adalah parasitoid Acerophagus papayae Noyes and Schauff (Hymenoptera: Encyrtidae). A. papayae umumnya memarasit nimfa instar-2 atau instar-3 nimfa kutu putih. Nimfa yang terparasit membentuk mumi yang berwarna cokelat (Gambar 10).
![]() |
| Gambar 10. Mumi yang terbentuk dari kutu putih pepaya yang terparasit (Foto: Dewi Sartiami) |
Dari mumi tadi kemudian keluar imago parasitoid yang berwarna oranye pucat, berukuran 0.4-0.7 mm (Gambar 11). Parasitoid A. papayae bukan serangga asli Indonesia. Ia diduga terbawa masuk ke wilayah Nusantara bersama inangnya, yaitu kutu putih pepaya.
![]() |
| Gambar 11. Imago parasitoid Acerophagus papayae (Foto: Dewi Sartiami) |
Keefektifan A. papayae sebagai agen pengendali hayati menarik perhatian banyak negara. Pada rentang 2000–2005, sejumlah negara di kawasan Karibia dan berbagai pulau di Pasifik sengaja mendatangkan parasitoid ini dari Puerto Riko untuk membantu pengendalian kutu putih pepaya.
Sri Lanka dan India kemudian melakukan hal serupa pada tahun 2009–2010, setelah serangan hama ini berkembang luas di wilayah mereka.
Selain predator dan parasitoid, di lapangan juga sering ditemukan kutu putih yang mati akibat infeksi jamur Neozygites sp. Kutu yang terserang patogen ini mudah dikenali karena tubuhnya berubah warna menjadi kehitaman (Gambar 12).
| Gambar 12. Kutu putih yang terinfeksi jamur Neozygites sp (Foto: Aunu Rauf) |
Dalam kondisi kelembapan yang sesuai, jamur tersebut dapat menyebar secara alami di antara koloni kutu putih dan membantu menurunkan populasinya di lapangan.
Satu dekade pasca invasi
Serangan kutu putih pepaya umumnya mencapai puncaknya pada musim kemarau yang kering. Pada kondisi cuaca seperti ini, populasi kutu dapat berkembang sangat cepat karena curah hujan rendah tidak mampu “mencuci” kutu putih yang menempel pada daun dan buah.
Banyak petani semula berharap insektisida dapat menjadi solusi cepat untuk mengatasi ledakan hama ini. Namun kenyataannya, kutu putih pepaya termasuk hama yang sulit dikendalikan dengan penyemprotan biasa. Tubuhnya dilapisi lapisan lilin tebal yang bersifat tahan air sehingga cairan insektisida sukar menembus tubuh serangga.
Selain itu, kutu sering bersembunyi di lipatan daun, celah buah, atau bagian bawah tajuk tanaman yang sulit terjangkau semprotan. Tidak jarang, penyemprotan berulang justru menimbulkan masalah baru karena dapat membunuh musuh alaminya
Pada masa awal invasinya, kutu putih pepaya memang sempat menimbulkan kepanikan di berbagai daerah. Banyak kebun pepaya mengalami kerusakan berat, bahkan kematian tanaman.
Namun keadaan tersebut perlahan berubah seiring berjalannya waktu. Setelah lebih dari satu dekade sejak kedatangannya di Indonesia, serangan kutu putih pepaya kini tampak mereda.
Perubahan ini terutama disebabkan oleh meningkatnya peranan musuh alami di lapangan. Predator, parasitoid, dan patogen serangga yang semula belum banyak ditemukan kini telah menjadi bagian penting dari keseimbangan ekosistem.
Koloni kutu putih yang dahulu berkembang tanpa kendali kini lebih sering ditekan secara alami sebelum mencapai tingkat yang merugikan. Dengan kata lain, alam secara perlahan membangun mekanisme pengendaliannya sendiri.
Kisah kutu putih pepaya menunjukkan bahwa ledakan hama invasif sering kali hanya bersifat sementara. Pada fase awal invasi, hama memang dapat berkembang sangat pesat karena terbebas dari musuh alami.
Namun seiring waktu, ekosistem mulai menyesuaikan diri. Musuh alami bermunculan, hubungan ekologis baru terbentuk, dan populasi hama perlahan kembali berada dalam keseimbangan.
Meyerdirk DE. 1999. Control of papaya mealybug, Paracoccus marginatus (Homoptera: Pseudococcidae). Environment Assessment, USDA, APHIS, PPQ, 20 pp.
Meyerdirk DE, Muniappan R, Warkentin R, Bamba J, ReddyGVP. 2004. Biological control of the papaya mealybug, Paracoccus marginatus (Hemiptera: Pseudococcidae) in Guam. Plant Prot. Qrtly, 19: 110-114.
Meyerdirk DE, Warkentin R, Attavian B, Gersabeck E, Francis A, Adams M, Francis G. 2001. Biological control of pink hibiscus mealybug project manual. USDA: PPQ 09/2001-01.194 pp.
Miller DR, DJ Williams, AB Hamon. 1999. Notes on a new mealybug (Hemiptera: Coccoidea: Pseudococcidae) pest in Florida and the Caribbean: The papaya mealybug, Paracoccus marginatus Williams and Granada de Willink. Insecta Mundi 13: 179-181.
Muniappan R, BM Shepard, GW Watson, GR Carner, D Sartiami, A Rauf, and MD Hammig. 2008. First report of the papaya mealybug, Paracoccus marginatus (Hemiptera: Pseudococcidae), in Indonesia and India. J Agric Urban Entomol 25(1): 37-40.
Muniappan R, DE Meyerdirk, FM Sengebau, DD Berringer, GVP Reddy. 2006. Classical biological control of the papaya mealybug, Paracoccus marginatus (Hemiptera: Pseudococcidae) in the Republic of Palau. Florida Entomol. 89: 212-217.
Watson GW, LR Chandler. 2000. Identification of mealybugs important in the Caribbean region. Second edition. Wallingford, Oxon: Commonwealth Science Council and CAB International. 40 pp.







12 comments:
informasinya sangat lengkap.
Terima Kasih Pak Aunu.
Pak Aunu dan Bu dewi sangat baik sekali penjelasannya, salam sehat selalu..
Terimakasih atas share ilmunya Pak Prof Aunu. Bapak merupakan dosen panutan saya. Semoga sehat selalu. Aamiiin
Lagi belajar nge-blog.
Lagi belajar nge-blog.
Lagi belajar nge-blog.
Terimakasih Pak Aunu dan bu Dewi,artikelnya sangat lengkap dan bermanfaat...
Lagi belajar nge-blog.
Makasih pak Aunu dan Bu Dewi..artikelnya bagus
Informasi nya sangat lengkap pak Aunu, terima kasih sudah berbagi. Semoga blog nya terus berkembang, sukses & sehat terus ya pak
Terima kasih telah berkunjung ke blog ini.
Terima kasih telah berkunjung ke blog ini. Aamiin untuk doanya.
Post a Comment