Seorang pengusaha perkebunan teh berkebangsaan Belanda yang sangat peduli dengan pertanian pangan dan kehidupan petani.
Ketika sedang menyiapkan naskah “Sejarah Wereng Cokelat di Indonesia: Perubahan Status dari Hama Potensial ke Hama Utama", saya tanpa sengaja dibawa berselancar oleh Google hingga cukup lama terdampar di gudang buku digital bernama Google Books.
Di tempat itulah saya menemukan sebuah buku lawas terbitan tahun 1863 berjudul “Bijdragen Tot De Kennis Der Ziekten en Plagen van Het Padi-Gewas” (Kontribusi Pengetahuan tentang Penyakit dan Hama Tanaman Padi).
Buku tua itu dapat diunduh sepenuhnya dalam format PDF secara cuma-cuma. Rupanya, untuk buku-buku lawas yang tanpa hak cipta atau hak ciptanya telah habis, Google memang membuka akses bebas bagi siapa saja.
Ada kesan bahwa pada zaman dahulu ilmu pengetahuan seolah dibagikan dengan lebih tulus, tanpa terlalu dibayangi hasrat untuk mengomersialkannya.
Yang membuat saya penasaran bukan isi bukunya, melainkan sosok penyusunnya. Buku itu ditulis oleh KF Holle, seorang berkebangsaan Belanda.
Andaikata penulisnya seorang akademisi lulusan perguruan tinggi atau ahli pertanian ternama, mungkin rasa penasaran saya tidak akan sedalam itu.
Namun KF Holle ternyata hanyalah seorang juragan teh di Garut, dengan pendidikan yang kemungkinan hanya setingkat sekolah menengah.
Meski demikian, minatnya sangat luas. Ia mencintai kesusastraan Sunda, menaruh perhatian besar pada dunia pertanian, dan dikenal peduli terhadap kehidupan masyarakat bumiputra, terutama para petani.
Dalam kesehariannya di Garut, Holle bahkan terbiasa berbicara dalam bahasa Sunda. Tidak jarang pula ia tampil mengenakan peci Turki di kepalanya (Gambar 1).
![]() |
| Gambar 1. Karel Frederik Holle (Foto: KITLV 33502_ |
Saya pun tak kuasa menahan diri untuk tak ingin mengetahui lebih dalam tentang sosok KF Holle yang hidupnya penuh warna itu.
Nama lengkapnya Karel Frederik Holle, lahir di Amsterdam pada 9 Oktober 1829 dari ayah bernama Pieter Holle dan ibu Alexandrine van der Hucht. Pieter Holle bekerja sebagai penyuling gula di Koblenz (Jerman), namun usaha penyulingannya gagal, sehingga pada tahun 1836 ia memutuskan untuk pulang ke Amsterdam.
Adalah kemudian pamannya, Willem van der Hucht pemilik kapal layar, yang mengajak keluarga Holle merantau dan mengadu nasib di Hindia Belanda. Van der Hucht cukup paham tentang Jawa dari beberapa kali kunjungan sebelumnya, dan mempunyai koneksi yang memungkinkan Pieter Holle bisa dengan mudah memperoleh kontrak pekerjaan di pabrik gula.
Mereka pun memulai pelayarannya dengan kapal Sarah Johanna pada 25 September 1843, meninggalkan negeri tempat kelahirannya menuju Hindia Belanda. Van der Hucht bertindak sebagai nakhodanya.
Di dalam kapal layar itu ikut serta Karel Frederik Holle yang waktu itu masih berusia 14 tahun, disertai adik-adiknya dan ibunya. Setelah menghabiskan waktu hampir 8 bulan di tengah gelombang samudera, akhirnya pada 18 Mei 1844 mereka tiba di Batavia.
Setibanya di Jawa, ternyata tidak seorang pun berkesempatan mendapat pekerjaan di perusahaan gula seperti yang terbayangkan sebelumnya.
Pamannya (Van der Hucht) lantas mengontrak perkebunan teh Parakan Salak (Sukabumi), sedangkan ayahnya (Pieter Holle) bekerja sebagai administratur perkebunan kopi Bolang di daerah Jasinga (Bogor).
Suatu saat, Pieter Holle memboyong anak-anaknya dan istrinya yang sedang hamil tua untuk tinggal di rumah van der Hucht di Parakan Salak. Ini dilakukan agar bila istrinya kelak melahirkan lebih mudah mendapatkan pelayanan medis.
Mereka berangkat dari Jasinga dengan naik kuda, sementara istrinya yang lagi hamil ditandu secara bergantian. Setelah 12 jam melewati perjalanan melalui daerah berbukit akhirnya mereka tiba di Parakan Salak.
Sepulangnya dari Parakan Salak, mungkin karena kelelahan, Pieter Holle meninggal dunia. Jadilah KF Holle seorang anak yatim. Selanjutnya ia berada di bawah pengasuhan pamannya (van der Hucht).
Karena kedekatan pamannya dengan Gubernur Jenderal Jan Jacob Rochussen (1845-1851), KF Holle sempat mengecam pendidikan privat bersama anak Gubernur Jenderal dan anak-anak lainnya yang dilaksanakan di Istana Buitenzorg pada masa itu.
Pada tahun 1846, setelah tamat sekolah, ia bekerja sebagai pegawai di Kantor Residen Cianjur. Walaupun kurang dari satu tahun ia tinggal di Cianjur, di dalam hatinya mulai tumbuh rasa cinta terhadap kebudayaan Sunda.
Pada tahun 1847 ia dipindahkan menjadi pegawai di Direktorat Budidaya di Batavia dan kemudian sejak tahun 1851 menjadi pejabat pada Direktorat Sumberdaya dan Domain.
Pada tahun 1856, setelah 10 tahun bekerja di pemerintahan, ia memutuskan untuk pensiun dini, karena ingin hidup mandiri dan bebas. Setelah itu, pada tahun 1858 ia menjadi administratur perkebunan teh Cikajang, Garut.
Pada tahun 1862 ia menyewa lahan di lereng bagian utara dari Gunung Cikurai dan mengolahnya menjadi perkebunan teh milik sendiri yang kemudian dinamainya Perkebunan Teh Waspada.
Segera setelah menetap di Garut, ia mulai menekuni lebih mendalam tentang bahasa, sastra, dan kebudayaan Sunda. Ia juga menjalin persahabatan dengan Penghulu Besar Limbamgan (Garut) yang bernama Raden Haji Mohammad Moesa, yang sama-sama menyukai sastra Sunda. Persahabatan di antara keduanya berakhir hingga akhir hayat, ketika Haji Moesa meninggal di pangkuan KF Holle pada 10 Agustus 1886.
KF Holle memiliki kepedulian yang sangat kuat terhadap kehidupan petani pribumi, khususnya petani padi. Kepedulian ini muncul sebagai akibat dari diterapkannya sistem tanam paksa yang telah menyengsarakan rakyat, seperti kelaparan yang terjadi di Cirebon (1844), Demak (1848), dan Grobogan (1849). Pemerintah kolonial juga kurang memperhatikan pertanian pribumi.
Lebih dari itu Holle memandang cara bertani orang pribumi masih terbelakang dan banyak ditemukan takhayul di dalamnya. Ia juga mempunyai pandangan bahwa orang Jawa banyak tersita waktunya pada budidaya kopi atau kewajiban lainnya dari pemerintah, sehingga sawah mereka terbengkalai.
Itulah yang menyebabkan nuraninya tergerak untuk membantu petani pribumi dengan menulis berbagai artikel tentang budidaya pertanian.
Artikel pertamanya yang ia tulis berjudul Mededeelingen Omtrent den Ristbouw op Java (Pemberitaan Tentang Budidaya Padi di Jawa). Artikul itu terbit dalam majalah Tijdschrift voor Nijverheid en Landbouw in Nederlandsch Indie tahun 1862.
Holle melihat bahwa para petani pribumi masih kurang cakap dalam bercocok tanam padi, termasuk dalam hal pemilihan benih dan jenis padi, pengolahan tanah, penentuan waktu tanam, penyiapan bibit, kedalaman menanam, penyiangan gulma, pengairan, dan pemanfaatan jerami sebagai pupuk.
Bahkan, Holle juga mencatat tentang adanya fenomena uitputting van den grond (keletihan tanah). Bila cara budidaya padi ini dapat diperbaiki, Holle berkeyakinan petani akan memperoleh hasil yang lebih banyak.
Pada tahun berikutnya (1863), Holle menerbitkan monograf “Bij Dragen Tot De Kennis Der Ziekten en Plagen van Het Padi-Gewas” (Gambar 2), seperti disebutkan terdahulu di awal tulisan ini. Bahan untuk penyusunan monograf ini kemungkinan besar berasal dari laporan dinas pertanian dari seluruh pelosok Hindia Belanda.
![]() |
| Gambar 2. Sampul muka monograf tentang hama dan penyakit padi yang disusun oleh KF Holle terbitan tahun 1863. |
Sejak 1871 Holle menerbitkan serial artikel pada De Vriend van den Javaanschen Landman (Sahabat Petani Jawa), sebuah majalah yang dikelolanya sendiri (Gambar 3). Tujuan dari penerbitan majalah ini yaitu agar petani merawat lahan, tanaman, dan ternak dengan lebih baik.
![]() |
| Gambar 3. Sampul muka majalah De Vriend van den Javaanschen Landman |
Artikelnya yang ditulis secara lengkap yakni tentang panduan bercocok tanam padi. Di dalamya disajikan cara pemilihan benih, pembuatan persemaian, penanaman secara berjajar, penggunaan pupuk kandang, dan lain-lain. Pada masa itu petani setempat menamakan cara bercocok tanam yang demikian dengan sebutan metode Holle.
Di luar bercocok tanam padi, artikel lainnya meliputi pemeliharaan ikan di sawah, bercocok tanam jagung, panduan pembuatan sengkedan di lahan kering, pembuahan pada waluh dan sejenisnya, dan lain-lain.
Agar pesan-pesan yang tertulis dalam majalah ini sampai kepada petani, KF Holle meminta bantuan rekan-rekannya untuk mengalihbahasakannya secara bebas ke dalam bahasa Sunda, Jawa, Madura, dan Melayu. Untuk edisi bahasa Sunda, misalnya, majalah tadi diberi nama “Mitra Noe Tani” (Gambar 4).
![]() |
| Gambar 4, Sampul muka majalah De Vriend van den Javaanschen Landman edisi bahasa Sunda, |
Sementara itu, edisi bahasa Melayu diberi nama sesuai isinya yaitu “Bahoea Inilah Kitab pada Menjatakan Hal Bertanam Padi dan Lain-Lain Tanam-Tanaman”.
Majalah terjemahan itu lalu disebarluaskan oleh pemerintah Hindia Belanda melalui penguasa setempat, dengan himbauan agar petani menerapkan praktik bercocok tanam yang disarankan oleh KF Holle.
Upaya KF Holle untuk memperbaiki kesejahateraan petani tidak hanya melalui tulisan, tetapi juga melalui pembuatan petak percontohan, bekerjasama dengan tokoh setempat.
Misalnya, untuk membuktikan bahwa penambahan gemuk - istilah yang digunakan waktu itu untuk pupuk - dapat meningkatkan hasil panen, ia meminta Haji Moesa untuk mencobanya di lahannya sendiri.
Setelah panen, Haji Moesa lalu memberikan testimoni berupa surat tertanggal Februari 1863 yang ditujukan kepada KF Holle (Gambar 5).
![]() |
| Gambar 5. Testimoni HM Moesa kepada KF Holle tentang penggunaan kotoran kerbau sebagai pupuk di sawah (SumberL De Vriend van den Javaanschen Landman, 1871) |
Pada intinya surat itu berisi kesaksian Haji Moesa bahwa penambahan kotoran kerbau ke sawah dapat meningkatkan hasil panen padi.
Konon katanya KF Holle juga sering berkeliling menemui petani pribumi, mengajarkan cara bercocok tanam padi yang baik. Barangkali tidak berlebihan kalau dikatakan Karel Frederik Holle sebagai perintis penyuluhan pertanian di Indonesia.
Pada tahun 1863 KF Holle memasukkan kacang tanah yang bertipe tegak dari Inggris. Sebelumnya kacang tanah yang banyak ditanam oleh petani di Jawa Barat adalah tipe merambat yang berasal dari Cina.
Warisan lainnya peninggalan KF Hole adalah domba garut. Salah satu tetua dari domba garut adalah domba merino yang didatangkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda dari Eropa.
Pada tahun 1864 domba ini diserahkan kepada KF Holle untuk diternakkan di tempatnya di Garut. Persilangan antara domba merino dan domba lokal menghasilkan domba garut.
Di luar bidang pertanian, KF Holle juga meningggalkan warisan di bidang pendidikan dan kebudayaan. KF Holle adalah orang pertama di Priangan yang mendirikan Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers pada tahun 1866. Sekolah ini didirikan dengan tujuan untuk mendidik calon-calon guru pribumi.
KF Holle juga banyak membukukan cerita rakyat. Salah satu yang paling populer adalah buku “Tjarita koera-koera djeung monjet” atau versi bahasa Melayunya "Dongeng Monjet dengan Koera-Koera".
Buku tersebut diangkat dari cerita rakyat “Sakadang kuya jeung sakadang monyet”. Cerita ini biasanya disampaikan para ibu sebagai dongeng pengantar tidur pada anak-anaknya.
Sebagai pencinta bahasa dan kebudayaan Sunda, KF Holle berkesempatan membuat transkripsi prasasti Batu Tulis yang dituangkan dalam tulisannya berjudul De Batoe Toelis te Buitenzorg pada tahun 1869.
Karena sumbangannya yang besar terhadap masyarakat dalam bidang pertanian, pendidikan, dan juga administrasi pemerintahan, pada 27 Desember 1871 Gubernur Jenderal P Mijer (1866-1872) mengangkat KF Holle sebagai Penasihat Kehormatan untuk Urusan Pribumi pada Departemen Urusan Internal.
Diminta atau tidak diminta, KF Holle selalu memberikan saran dan nasihat kepada pemerintah kolonial. Di antaranya tentang penyediaan sarana pengajaran untuk anak-anak bumiputera, penerbitan karya satra dari penulis pribumi, dan sikap pemerintah Belanda terhadap politik Islam.
Tetapi nasihat yang paling banyak diberikan yaitu tentang perbaikan pertanian, khususnya dalam hal bercocok tanam padi. Konon pada masa itu, KF Holle sangat terkenal karena majalahnya “De Vriend van den Javaanschen Landman”.
Pada akhir tahun 1870-an KF Holle menderita sakit yang cukup parah. Walaupun kemudian penyakitnya hilang, ia tidak sepenuhnya sembuh, kemana-mana kalau berjalan harus dengan bantuan tongkat.
Karena kondisi kesehatannya ini, ia tidak bisa lagi mengelola perkebunannya dengan baik. Akibatnya pendapatan yang diperoleh dari perkebunan teh menurun.
Kondisi kesehatan dan ekonomi yang memburuk, apalagi hidup tanpa pasangan, membuat hidupnya berasa getir. Pada tahun 1889 ia memutuskan untuk meninggalkan Perkebunan Teh Waspada dan tinggal di rumah adik bungsunya, Albertine Holle, di Buitenzorg.
KF Holle meninggal dunia pada tahun 1896 di Buitenzorg, dan jenazahnya dimakamkan di sisi makam ibunya di daerah Tanah Abang.
Untuk mengenang jasa-jasanya, pada tanggal 29 Oktober 1899 pemerintah Hindia Belanda meresmikan tugu KF Holle di alun-alun Garut, yang di bawahnya ada tulisan “De Vriend van den Landman” (Sahabat Petani) (Gambar 6).
![]() |
| Gambar 6. Tugu Holle di alun-alun Garoet (Foto: KITLV 103922) |
Selain itu, nama KF Holle juga diabadikan menjadi nama jalan di Garut, yakni Jalan Holle, yang setelah kemerdekaan berganti menjadi Jalan Mandalagiri. Jalan Haji Agus Salim yang juga dikenal sebagai Jalan Sabang di Jakarta, sebelum tahun 1950 bernama Laan Holle (Jalan Holle).
Referensi
Janssen CW. 1888. KF Holle Wat een Nederlander in Indie doen kan: Eene Schets. Amsterdam: JH de Bussy.
van den Berge T. 1998. Karel Frederik Holle: Theeplanter in Indie 1829-1896. Amsterdam: B Bakker.
van den Berge T. 2002. Holle, Carel Frederik (1829-1896). In: Biographical Dictionary of the Netherlands . http://resources.huygens.knaw.nl/bwn1880-2000/lemmata/bwn5/holle.







4 comments:
Terima kasih pak. Informasi yg sangat bermanfaat.
Kisah yang sangat menginspirasi. Terimakasih telah berbagi pak.
Terima kasih yang sama atas apresiasinya.
Terima kasih telah mampir di blog ini.
Post a Comment