Tuesday, March 28, 2023

Kumbang Strigapoderus javanicus Membuat Dondang Demi Sang Anak

Layaknya famili Attelabidae (Coleoptera), kumbang betina Strigapoderus javanicus membuat dondang dari lintingan daun tumbuhan inangnya. Pembuatannya menghabiskan waktu 1-2 jam, demi kelangsungan hidup sebutir telur.

Aunu Rauf*

Siang itu, Jumat, 3 Februari 2023, seusai menunaikan salat Jumat di masjid kompleks, saya melangkah pulang melewati pekarangan rumah. Udara masih terasa hangat ketika pandangan saya tertumbuk pada seekor kumbang (Gambar 1) yang sedang bertengger tenang di permukaan daun jambu air semarang, Syzygium samarangense (Myrtaceae), yang tumbuh di dalam pot besar. 

Kilau tubuhnya tampak kontras dengan hijau daun yang segar tersiram cahaya siang. Kehadirannya seolah menjadi penanda bahwa pekarangan kecil di rumah itu diam-diam menyimpan kehidupan serangga yang menarik untuk diamati.

Imago Attelabidae pada permukaan daun
Gambar 1. Kumbang Strigapoderus javanicus sedang bertengger pada daun jambu air (Foto: Aunu Rauf)

Tak jauh dari tempat kumbang itu hinggap, beberapa lintingan daun tampak menggantung pada ranting-ranting muda (Gambar 2). Warnanya masih hijau segar, menandakan lintingan tersebut baru saja dibentuk. 

Sesekali lintingan itu bergoyang perlahan dipermainkan angin siang, bergerak ke kiri dan ke kanan seperti bandul kecil. Kadang bergoyang tak beraturan. 

Dondang daun
Gambar 2. Lintingan daun pada pohon jambu air (Foto: Aunu Rauf)

Memang, sejak pagebluk Covid-19 merebak, saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Untuk mengusir kejenuhan, saya mengisinya dengan merawat tanaman di pekarangan. 

Sebagai jebolan perguruan tinggi pertanian, rasanya kurang lengkap jika tak mencoba bercocok tanam sendiri, meski hanya dalam skala pot dan halaman rumah. 

Dari kegiatan sederhana itulah saya justru kerap menemukan beragam kisah kecil tentang interaksi tanaman dan serangga yang sebelumnya luput dari perhatian.

Tak jauh dari situ, di sudut kanan pekarangan, dekat tembok pembatas dengan rumah tetangga, tumbuh pohon salam, Syzygium polyanthum (Myrtaceae), setinggi kurang lebih dua meter. 

Pada tajuknya, saya juga melihat beberapa lintingan daun bergelantungan. Bentuknya serupa dengan yang terdapat pada jambu air. Daun-daun yang tergulung itu menghadirkan kesan unik, seolah ada tangan-tangan yang dengan sengaja melipat dan merekatkannya.

Oh ya, pohon salam itu memang sengaja ditanam untuk keperluan dapur. Istri saya kerap memetik daunnya sebagai penyedap aneka masakan rumahan. 

“Gulai, sayur asem, soto, sambal goreng, semuanya rasanya kurang lengkap tanpa daun salam,” begitu katanya suatu ketika. 

Karena itulah, pohon salam tersebut selalu mendapat perhatian khusus. Selain menjadi sumber bumbu dapur, rupanya tanaman itu juga menjadi tempat singgah sekaligus tempat hidup serangga tertentu. 

Kumbang apa ?

Melalui penelusuran di internet (http://attelabidae.narod.ru/S_javan_eng.htm), saya mengidentifikasi kumbang pada jambu air tadi sebagai Strigapoderus javanicus (Jekel) dari famili Attelabidae. Di buku Kalshoven tahun 1981, kumbang ini bernama Apoderus javanicus Jekel, dan masih bernaung di bawah famili Curculionidae. 

Seluruh kumbang betina dari famili Attelabidae berperilaku sama. Membuat lintingan daun.

Dalam kepustakaan berbahasa Inggris, lintingan daun yang dibuat oleh kumbang Attelabidae kerap disebut "cradle" yang artinya dondang. Disebut demikian, karena lintingan daun ini berperan sebagai tempat perawatan pradewasa (telur-larva-pupa).

Untuk selanjutnya, saya akan menggunakan istilah dondang.

Sejatinya, ini bukan kali pertama saya melihat kumbang Attelabidae dan gejala dondangnya. Tetapi karena berada di pekarangan rumah, yang setiap hari dilewati, ini menawarkan kesempatan bagi saya untuk mengamati bagaimana dondang terbentuk. Alih-alih dikendalikan, apalagi diberantas, saya biarkan kumbang dengan leluasa membuat dondang. Hari demi hari.

Sekilas terlintas dalam benak saya, artikel lawas di jurnal Entomologische Mededeelingen van Nederlandsch-Indie terbitan tahun 1936. Penulisnya adalah Dr. J van der Vecht, yang kala itu bekerja sebagai peneliti pada Balai Penyelidikan Hama Tumbuhan (BPHT) di Buitenzorg (Bogor). 

Artikel itu menceritakan perilaku pembuatan dondang oleh kumbang Apoderus clavatus Pasc. pada deris. Kini bernama Leptapoderus quadripunctatus (Gyllenhal). Kala itu, kumbang ini umum dijumpai di Kebun Raya Bogor.

Untuk mengamati proses pembuatan dondang di pekarangan rumah, selain artikel van der Vecht tadi, saya juga dipandu oleh artikel berjudul "Leaf cutting-patterns and general cradle formation process of thirteen Apoderinae (Coleoptera: Attelabidae) in Korea: Cradles of Attelabidae in Korea I", pada jurnal Entomological Research tahun 2012.    

Tahapan pembuatan dondang 

Pertama kumbang betina yang sudah kawin akan hinggap pada daun. Biasanya memilih daun yang masih muda. Kemudian kumbang akan melakukan inspeksi dengan berjalan mengitari daun. Tujuannya untuk membuat prakiraan tentang ukuran daun, tingkat kesegaran daun, dan ada-tidaknya hama. Bila tidak sesuai, kumbang akan pindah ke daun lain. 

Bila sesuai, kumbang akan berjalan sepanjang tulang daun tengah, mulai dari ujung daun ke arah pangkal (Gambar 3). Tahap ini digunakan untuk menentukan di bagian mana ia nanti akan menggunting daun.

Pengukuran daun oleh Strigapoderus javanicus
Gambar 3. Kumbang Strigapoderus javanicus sedang bejalan sepanjang tulang daun tengah (Foto: Aunu Rauf)

Tahap berikutnya yaitu menggunting daun dengan bantuan mandibel. Pengguntingan dimulai dari satu tepi daun, melintasi tulang daun tengah, dan berhenti pada sisi daun lainnya. Hasilnya akan tercipta bekas guntingan berbentuk huruf "J" (Gambar 4). Berdasarkan kategori dari Park et al. (2012), pola pengguntingan yang demikian disebut tipe CC (curved-cutting type).

Hasil gigitan Strigapoderus javanicus
Gambar 4. Hasil guntingan berbentuk huruf  "J" pada daun jambu air yang
 dibuat oleh kumbang Strigapoderus javanicus (Foto: Aunu Rauf).

Pengguntingan bisa dimulai dari sebelah kiri atau kanan daun. Pengguntingan daun akan menghambat aliran air melalui tulang daun tengah, sehingga mempercepat daun layu.

Usai menggunting daun, selanjutnya kumbang akan berpindah ke permukaan bawah daun. Lantas, dengan cara menggigit, kumbang membuat takikan sepanjang tulang daun tengah. Jarak antar takikan tergantung pada besarnya lingkaran dondang yang akan dibuat.

Adanya takikan membuat daun lebih cepat layu dan mudah untuk dilinting. Kumbang juga membuat takikan pada tepi daun, yang nantinya akan dijadikan bagian alas dari dondang.

Setelah beberapa saat, usai daun mulai layu, kumbang akan memulai melinting daun. Diawali dengan melipat ujung daun sepanjang tulang daun tengah (Gambar 5)

Kumbang Strigapoderus javanicus sedang melinting daun
Gambar 5. Kumbang Strigapoderus javanicus sedang melinting daun untuk pembuatan dondang (Foto: Aunu Rauf)

Setelah melipat ujung daun sebanyak dua atau tiga kali, proses pelintingan terhenti sejenak. Kumbang terlebih dahulu membuat lubang ke dalam bakal dondang, dan kemudian meletakkan telur melalui lubang ini. Biasanya hanya satu butir telur per dondang.

***

Saya sempat membuka dondang yang berumur 3 hari, dan mendapati satu butir telur di dalamnya (Gambar 6). Sementara pada bagian ujung dondang terdapat lubang (Gambar 7), yang diperkirakan merupakan lubang tempat kumbang meletakkan telur.

Telur kumbang di dalam dondang
Gambar 6.Telur Strigapoderus javanicus (tanda panah) yang diletakkan di dalam dondang (Foto: Aunu Rauf)

Lubang tempat telur diletakkan
Gambar 7. Lubang tempat peletakan telur oleh kumbang Strigapoderus javanicus (Foto: Aunu Rauf)

***

Kumbang selanjutnya menuntaskan pembuatan dondang, dengan bergerak dari satu sisi ke sisi yang lain untuk melinting daun. Dondang yang dihasilkan berbentuk silinder atau tong, dan menggelantung pada sisi daun yang tak digunting (Gambar 8). 

Lintingan daun yang dibuat kumbang
Gambar 8. Dondang yang dibuat oleh kumbang Strigapoderus javanicus (Foto: Aunu Rauf)

Proses pembuatan satu dondang memerlukan waktu 1-2 jam. Selama 5 hari pengamatan, saya menjumpai sebanyak 28 dondang pada tajuk jambu air. Artinya, seekor kumbang betina membuat dondang sebanyak kira-kira 5-6 dondang per hari. Seolah tak kenal lelah. Banyaknya dondang yang dibentuk oleh seekor kumbang betina ini mengindikasikan tingkat keperidiannya.

Sembari kumbang betina membuat dondang, saya sempat menyaksikan seekor kumbang jantan pasangannya sesekali datang menjenguknya. Bukan untuk membantu, tapi hanya sekadar mengawasi agar tak ada jantan lain yang datang. Sangat posesif.

Bagi Anda, pembaca postingan ini, yang tertarik melihat bagaimana suatu jenis kumbang Attelabidae - yang pasti bukan S. javanicus - menggunting dan melinting daun untuk pembuatan dondang, silakan saksikan video unggahan HB Tang (klik di sini). 

Siklus hidup

Tak ada informasi tersedia tentang biologi S. javanicus. Rupanya tak seorang pun pernah menelitinya. Oleh karenanya, sebagai gambaran umum, saya menggunakan data biologi dari genus yang sama, Strigapoderus transquebaricus (F.), yang hidup di India. 

Telur. Telur berwarna kuning pucat dan berbentuk oval (Gambar 9). Berukuran panjang sekitar 1.2 mm dan lebar 0.7 mm. Masa inkubasi telur berkisar 3-4 hari.

Telur kumbang di dalam dondang
Gambar 9. Telur Strigapoderus javanicus di dalam dondang (Foto: Aunu Rauf)

Larva. Larva hidup di dalam dondang, makan jaringan daun yang membusuk pada dinding bagian dalam dari dondang. 

Larva terdiri dari dua instar, dengan total masa perkembangan sekitar 15 hari. Larva instar lanjut berwarna kekuningan (Gambar 10), berukuran panjang sekitar 8 mm. Larva berkepompong di dalam dondang.

Larva kumbang
Gambar 10. Larva Strigapoderus javanicus (Foto: Aunu Rauf)

PupaPupa berwarna kuning pucat, berukuran panjang 8 mm dan lebar 3 mm (Gambar 11). Masa perkembangan pupa sekitar 9 hari.

Kepompong kumbang
Gambar 11. Pupa Strigapoderus javanicus (Foto: Aunu Rauf)

Imago. Kumbang berwarna cokelat kemerahan, dengan marka hitam pada sayap depan. Panjangnya sekitar 10-12 mm (Gambar 12).

Kumbang Strigapoderus javanicus
Gambar 12. Imago Strigapoderus javanicus (Foto: Aunu Rauf)

Kumbang keluar dari dondang dengan membuat lubang bundar pada dinding dondang (Gambar 13).

Lubang tempat keluar kumbang
Gambar 13. Lubang tempat keluarnya imago Strigapoderus javanicus dari dondang (Foto: Aunu Rauf)

Setelah keluar dari dondang, kumbang segera makan pada jaringan permukaan atas dari daun muda (Gambar 14).

Kumbang sedang makan jaringan daun
Gambar 14. Kumbang Strigapoderus javanicus sedang makan jaringan permukaan daun (Foto: Aunu Rauf)

Aktivitas makannya menyisakan gejala berupa bercak-bercak putih transparan pada permukaan daun (Gambar 15). Di kemudian hari, daun ini akan memperlihatkan gejala bolong-bolong.

Gejala bercak putih transparan pada daun
Gambar 15. Gejala pada daun jambu air akibat aktivitas makan kumbang Strigapoderus javanicus
 (Foto: Aunu Rauf)

Kumbang dapat hidup selama 15 hari, dengan keperidian sekitar 30 butir telur.

Persebaran dan tumbuhan inang

Kumbang S. javanicus tersebar di Jawa, Sumatera, Malaysia, dan Thailand. Tumbuhan inangnya, selain jambu air dan salam, mungkin tumbuhan lainnya dari famili Myrtaceae. Juga dilaporkan menyerang gambir, Uncaria gambir (Rubiaceae).

Musuh alami

Saat membongkar dondang untuk memeriksa perkembangan pradewasa S. javanicus, saya menemukan kumpulan pupa parasitoid di dalam dondang (Gambar 16). Jumlahnya sekitar 15 ekor, berwarna kuning pucat dengan bakal mata berwarna merah.

Kepompong parasitoid
Gambar 16. Kumpulan pupa parasitoid di dalam dondang (Foto: Aunu Rauf)

Dondang yang berisi kumpulan pupa tadi saya simpan di dalam wadah plastik, yang dilengkapi kapas basah. Setelah sekitar 10 hari, muncul belasan imago parasitoid Eulophidae (Gambar 17). Menurut Kobayashi et al. (2015), beberapa spesies Eulophidae merupakan endoparasitoid pada larva Attelabidae.

Tabuhan parasitoid
Gambar 17. Imago parasitoid Eulophidae yang muncul dari dondang (Foto: Aunu Rauf)

Saya juga sempat mengamati adanya seekor larva ektoparasitoid yang sedang memarasit pupa S. javanicus (Gambar 18)

Parasitoid pupa
Gambar 18. Larva parasitoid (tanda panah) sedang memarasit pupa Strigapoderus javanicus (Foto: Aunu Rauf)

Sekitar tiga minggu kemudian, muncul imago parasitoid yang tergolong famili Pteromalidae (Gambar 19). Menurut Gupta (2018) genus Uniclypea sp. merupakan ektoparasitoid pada pupa S. tranquebaricus di India. Juga memarasit pupa S. javanicus pada gambir di Sumatera. 

Tabuhan Pteromalidae
Gambar 19. Imago parasitoid Pteromalidae yang muncul dari dondang (Foto: Aunu Rauf)

Masih ada satu lagi jenis parasitoid. Namanya Poropoea sp. (Trichogrammatidae) yang merupakan parasitoid telur S. javanicus. Tapi ini luput dari pengamatan saya.

Musuh alami tampaknya sangat berperanan dalam mengatur populasi kumbang S. javanicus. Dari 28 dondang yang saya jumpai, 22 di antaranya tanpa lubang tempat keluar kumbang. Artinya, hampir 80% pradewasanya mengalami kematian. Mungkin inilah penyebab serangan S. javanicus pada jambu air, di pekarangan rumah saya, tak berlanjut. Tak ada infestasi susulan.

Sebagai penutup, tak ada alasan bagi saya untuk tak mengatakan bahwa S. javanicus bukan serangga yang merugikan. Ia adalah kumbang yang perilakunya unik dan menarik.

Referensi

Gupta A. 2018. A new species of Uniclypea Boucek, 1976 (Hymenoptera: Pteromalidae) parasitic on Apoderus tranquebaricus Fabricius (Coleoptera: Attelabidae) from India with notes on biology. Syst Parasitol 95(1): 115-120.

Kobayashi C, Matsuo K, Watanabe K, Nagata N, Suzuki-Ohno Y, Kawata M, Kato M. 2015. Arms race between leaf rollers and parasitoids: diversification of plant-manipulation behavior and its consequences. Ecological Monographs 85: 251-266.

Mamlayya AB, Aland SR, Gaikwad SM, Bhawane GP. 2011.Life history and diet breadth of Apoderus tranquebaricus Fab. (Coleoptera: Attelabidae). Biologial Forum An International Journal 2(2): 46-48.

Park J, Lee JE, Pak JK. 2012. Leaf cutting-patterns and general cradle formation process of thirteen Apoderinae (Coleoptera: Attelabidae) in Korea: Cradles of Attelabidae in Korea I. Entomological Research 42: 63-71.

Sakurai K. 1990. Leaf size recognition and evaluation by some attelabid weevils (3) Deporaus sp. Behaviour 115(3-4): 364-369.

Urban J. 2014. Apoderus coryli (L.) - a biologically little known species of of the Attelabidae (Coleoptera). Acta Universitatis Agriculturae et Zilviculturae Mendelianae Brunensis 62(5): 1141-1160.

van der Vecht J. 1936.Some notes of the life-history of Apoderus clavatus Pasc. (Col, Curculionidae). Ent Med Ned Indie 2(1): 9-12.

Internet:

http://attelabidae.narod.ru/S_javan_eng.htm. Diakses 10 Februruari 2023.

https://www.biolib.cz/en/taxon/id1168001/. Diakses 8 Maret 2023.

https://www.youtube.com/watch?v=x5641C8yC_0. Diakses 21 Maret 2023.

Untuk keperluan sitasi, silakan tulis:

Rauf A. 2023. Kumbang Strigapoderus javanicus Membuat Dondang Demi Sang Anak. https://www.serbaserbihama.com/2023/03/kumbang-strigapoderus-javanicus-attelabidae.html. Diakses tanggal (sebutkan).



==================
Revisi teranyar: 18 Mei 2026
==================

4 comments:

Ito Fernando said...

Luar biasa, kagum dengan keuletan Bapak dalam mengamati life history serangga tersebut. Tidak sabar menanti tulisan-tulisan yang lain.

Sang Pengamat Hama said...

Terima kasih atas apresiasinya.

Mauritze said...

Liar biasa Pak...
Detail, runut dan ikhlas... Terlihat dr penuturannya yg mengalir deras tanpa jeda atau keraguan.

Terimakasih banyak atas sedekah ilmu pengetahuannya pak... Semoga berkah... Aamiin.

Sang Pengamat Hama said...

Terima kasih atas apresiasinya. Aamiin atas doanya.