Menanam sirsak atau srikaya di pekarangan ibarat menebar undangan terbuka bagi kupu-kupu Graphium agamemnon dan Graphium doson.
Sejak merebaknya Covid-19, bersamaan waktunya dengan awal masa purnabakti, saya mengusir kejenuhan tinggal di rumah dengan merawat beragam tabulampot (tanaman buah dalam pot) di pekarangan rumah. Ada jeruk, sawo, sirsak, jambu air, srikaya, rambutan, dan sejenisnya. Aktivitas sederhana itu berlanjut hingga kini.
Tabulampot tersebut kerap didatangi kupu-kupu. Pengunjung yang paling sering mampir adalah Papilio demoleus (klik di sini), kupu-kupu jeruk yang lincah dan akrab dengan tanaman inangnya.
Selain itu, sesekali mampir pula kupu-kupu bercorak lurik hijau. Geraknya gesit, nyaris tak pernah diam. Sayapnya terus-menerus dikibaskannya bahkan saat ia hinggap. Ia sangat trengginas sehingga membuatnya sulit ditangkap, dengan bantuan jaring serangga sekalipun.
Pada suatu pagi yang cerah, 24 November 2023, saya menyaksikan kupu-kupu bercorak lurik hijau itu hinggap sejenak pada permukaan daun sirsak, sambil menempelkan ujung abdomennya.
"Mungkin ia sedang meletakkan telur," gumam saya dalam hati.
Dugaan itu segera terjawab. Setelah ia terbang meninggalkan daun tersebut, tampak sebutir telur melekat pada tepi permukaan atas daun muda (Gambar 1). Telur itu bulat, berwarna putih krem, dengan diameter sekitar 1.1 mm. Penemuan kecil ini membuka peluang bagi saya untuk mengikuti secara seksama perkembangan pradewasanya. Seperti apa perubahan bentuknya, dari satu instar ke instar berikutnya.
Sekitar tiga hari kemudian, telur itu pun menetas. Seekor larva mungil muncul dan segera saya pindahkan ke bibit sirsak yang tumbuh dalam polibag untuk saya pelihara. Memang, sejak pensiun, saya punya kebiasaan baru. Setiap kali membeli buah, bijinya selalu saya semaikan. Dari kebiasaan sederhana itulah tersedia tanaman inang.
Larva instar pertama berwarna cokelat kekuningan. Pada bagian dorsal ruas-ruas toraks dan ruas abdomen posterior tampak bercak putih kekuningan (Gambar 2). Di setiap tiga ruas toraks terdapat sepasang duri lateral berwarna cokelat kekuningan, disertai satu pasang duri tambahan pada ruas abdomen terakhir.
![]() |
| Gambar 2. Larva instar pertama Graphium agamemnon (Foto: Aunu Rauf). |
Dalam tiga hari, panjang tubuhnya mencapai sekitar 5 mm. Tak lama kemudian, ia mengalami pergantian kulit.
Memasuki instar kedua, perubahan morfologi mulai tampak jelas. Ruas toraks kedua dan ketiga membesar, memberi kesan tubuh bagian depan lebih kokoh. Duri pada toraks dan di ujung abdomen berwarna kuning pucat (Gambar 3). Seiring pertumbuhan, panjang tubuhnya mencapai sekitar 10 mm, sementara warna yang semula kuning kecokelatan berangsur menjadi cokelat lebih gelap. Empat hari kemudian, ia kembali berganti kulit, menandai peralihan ke instar ketiga.
![]() |
| Gambar 3. Larva instar kedua Graphium agamemnon (Foto: Aunu Rauf). |
Larva instar ketiga yang baru terbentuk masih menyerupai instar sebelumnya, namun pembesaran ruas toraks kedua dan ketiga kian nyata sehingga dari samping tubuhnya tampak agak bungkuk. Duri toraks kini berwarna hitam, sedangkan duri pada ujung abdomen berwarna putih. Pada bagian dorsal abdomen terlihat bercak putih besar menyerupai pelana. Panjang tubuh mencapai sekitar 15 mm. Empat hari kemudian, ia kembali berganti kulit menjadi instar keempat.
![]() |
| Gambar 4. Larva instar ketiga Graphium agamemnon (Foto: Aunu Rauf). |
Pada instar keempat, tubuhnya berubah menjadi hijau kekuningan dengan bintik-bintik hijau gelap yang tersebar merata (Gambar 5). Seluruh duri pada toraks dan ujung abdomen menghitam. Dalam tempo sekitar empat hari, panjangnya mencapai kurang lebih 25 mm, lalu ia kembali berganti kulit menjadi instar kelima.
![]() |
| Gambar 5. Larva instar keempat Graphium agamemnon (Foto: Aunu Rauf). |
Instar kelima merupakan fase larva terbesar, dengan panjang sekitar 35 mm. Warna tubuhnya hijau pucat yang lebih seragam, tetap dihiasi bintik-bintik hijau gelap (Gambar 6). Duri pada ruas ketiga dari toraks memiliki alas berbentuk cincin berwarna oranye.
![]() |
| Gambar 6. Larva instar kelima Graphium agamemnon (Foto: Aunu Rauf). |
Sekitar lima hari kemudian, ia berhenti makan. Dengan perlahan ulat itu berjalan berkeliling mencari tempat yang sesuai untuk berkepompong. Ia akhirnya bertengger tegak pada permukaan bawah daun. Tubuhnya memendek secara bertahap, memasuki fase prapupa (Gambar 7). Pada tahap ini, ia menyiapkan bantalan sutera dan membentuk “sabuk” sutera yang kelak menyangga tubuhnya.
![]() |
| Gambar 7. Prapupa Graphium agamemnon (Foto: Aunu Rauf). |
Sehari berselang, prapupa berkembang menjadi pupa berwarna hijau rumput dengan panjang sekitar 30 mm. Seutas benang sutera melingkari toraksnya seperti "sabuk pengaman", membuatnya tergantung miring pada permukaan daun atau ranting (Gambar 8), sementara bagian ujungnya melekat kuat pada bantalan sutera (kremaster).
![]() |
| Gambar 8. Pupa Graphium agamemnon (Foto: Aunu Rauf). |
Sekitar dua belas hari kemudian, kepompong itu pun merekah. Seekor kupu-kupu muncul dengan rentang sayap sekitar 95 mm. Pada permukaan atas sayapnya tampak deretan bercak hijau limau cerah dengan ukuran beragam di atas latar hitam (Gambar 9). Tak diragukan lagi, itulah Graphium agamemnon Linnaeus dari famili Papilionidae, yang hadir sebagai akhir dari rangkaian metamorfosis yang saya amati sejak sebutir telur.
![]() |
| Gambar 9. Kupu-kupu Graphium agamemnon (Foto: Aunu Rauf). |
Karena corak sayapnya, sejak masa Hindia Belanda masyarakat pribumi menjulukinya kupu-kupu lurik atau macan.
***
Sebulan kemudian, tepatnya 21 Desember 2023, pada tanaman yang sama saya kembali menemukan seekor ulat. Sekilas wujudnya menyerupai instar ketiga G. agamemnon, namun warna tubuhnya cokelat gelap (Gambar 10), berbeda dari yang pernah saya amati sebelumnya.
![]() |
| Gambar 10. Larva instar muda Graphium doson (Foto: Aunu Rauf). |
Pada setiap ruas toraks terdapat sepasang duri berwarna cokelat, serta sepasang duri putih pada ruas abdomen terakhir. Yang paling mencolok, pada bagian dorsal abdomen tidak tampak bercak putih besar menyerupai pelana—ciri khas instar ketiga G. agamemnon.
Perbedaan morfologi ini meyakinkan saya bahwa ulat tersebut berasal dari spesies lain. Seperti sebelumnya, ia pun saya pelihara pada bibit sirsak untuk memastikan identitasnya.
Lima hari kemudian, ulat itu berkembang menjadi instar lanjut dengan tubuh hijau pucat (Gambar 11). Panjangnya mencapai sekitar 35 mm.
![]() |
| Gambar 11. Larva instar lanjut Graphium doson (Foto: Aunu Rauf). |
Empat hari berselang, ia berhenti makan dan mulai berkeliling mencari tempat yang sesuai untuk berkepompong. Akhirnya ia memilih satu titik pada daun, bertengger dalam posisi tegak sebagai prapupa (Gambar 12), lalu menambatkan dirinya dengan bantalan sutera dan “sabuk” sutera yang melingkari toraks.
![]() |
| Gambar 12. Prapupa Graphium doson (Foto: Aunu Rauf). |
Sehari kemudian terbentuk pupa berwarna hijau pucat dengan panjang sekitar 28 mm (Gambar 13).
![]() |
| Gambar 13. Pupa Graphium doson (Foto: Aunu Rauf). |
Sekitar sembilan hari setelah itu, kepompong pun merekah. Kupu-kupu yang keluar memiliki sayap bagian atas berwarna hitam dengan pita lebar biru kehijauan yang membentang dari dekat ujung sayap depan hingga ke pangkal sayap belakang (Gambar 14). Deretan garis biru kehijauan juga menghiasi kedua pasang sayapnya.
![]() |
| Gambar 14. Kupu-kupu Graphium doson (Foto: Aunu Rauf). |
Berdasarkan pola warna dan bentuknya, saya meyakini kupu-kupu tersebut adalah Graphium doson (C&R Felder). Kupu yang warnanya sama memesonanya dengan spesies kupu sebelumnya.
Berkenaan dengan G. agamemnon dan G. doson, saya merasa perlu menggarisbawahi bahwa kehadiran keduanya di pekarangan sama sekali tak mengkhawatirkan. Ulatnya hanya menimbulkan kerusakan ringan pada tanaman inang seperti sirsak dan srikaya. Ini lantaran mereka bukan tipe pemakan rakus yang meludeskan helaian daun dalam waktu singkat.
Sebaliknya, saya lebih sering mendapati ulat itu berdiam diri pada permukaan atas daun, biasanya sejajar dengan tulang daun utama, dengan kepala mengarah ke pangkal daun. Ia tampak tenang, nyaris tak bergerak. Aktivitas makan hanya berlangsung sesekali dan dalam durasi singkat, seakan sekadar memenuhi kebutuhan minimum untuk melanjutkan pertumbuhannya.
Tak hanya itu. Populasinya pun rendah dan jarang dijumpai. Sangat boleh jadi hal ini lantaran peranan dari musuh alaminya. Di antaranya parasitoid telur.
Pada suatu hari, 5 Januari 2024, saya menemukan sebutir telur Graphium yang menempel pada daun sirsak. Tak seperti biasanya, telur tadi warnanya gelap (Gambar 15).
"Kemungkinan besar terparasit," pikir saya dalam hati.
Saya pun lantas memungut telur itu, dan memasukkannya ke dalam sebuah vial.
![]() |
| Gambar 15. Telur dengan lubang tempat keluar imago parasitoid (Foto: Aunu Rauf). |
Empat hari kemudian, keluar lima ekor imago parasitoid yang saya identifikasi sebagai Ooencyrtus sp. (Gambar 16).
![]() |
| Gambat 16. Imago parasitoid Ooencyrtus sp. (Foto: Aunu Rauf). |
Di Padang, Yulnetti (2009) melaporkan tingkat parasitisasi telur G. agamemnon oleh Ooencyrtus sp. mencapai 20%. Ia juga mencatat keberadaan Cotesia sp. dan Brachymeria sp. yang masing-masing memarasit larva dan pupa. Bahkan di Vietnam, Vu et al. (2008) melaporkan bahwa parasitisasi pupa G. agamemnon oleh Brachymeria tibialis dapat mencapai 82%.
Selain parasitoid, predator juga berperan penting. Di antaranya adalah tawon atau engang (hornet) dari genus Vespa atau Polistes. Saya kerap melihat mereka terbang "berpatroli" di pekarangan untuk mencari pakan.
Tidak jarang saya mendapati seekor ulat Graphium yang sehari sebelumnya masih ada, keesokan harinya telah lenyap. Besar kemungkinan ia "dicuri" oleh tawon tadi untuk dibawa ke sarangnya sebagai pakan larva.
Dengan kebiasaannya yang lebih banyak diam pada permukaan atas daun, ulat Graphium sangat rentan terhadap serangan predator dan parasitoid.
***
Tampaknya ulat G. agamemnon dan G. doson tak layak dipandang sebagai serangga hama yang perlu dikendalikan, apalagi disemprot insektisida.
Kehadirannya justru memperkaya warna ekologi pekarangan. Ulatnya pun tak menggelikan atau menakutkan, berbeda dengan banyak jenis ulat lain. Dan ketika berubah menjadi kupu-kupu, keindahan warnanya menjadi ganjaran tersendiri bagi siapa pun yang sabar menanti kemunculannya.
Referensi
















1 comment:
Terima kasih atas karya dan tulisan yang sangat menginspirasi ini pak. Maaf pak, apakah mungkin ada pengaruh dari senyawa yang dimiliki oleh daun sirsak sehingga menjadi salah satu faktor penyebab dari ulat Graphium tidak terlalu banyak makan dan hanya diam di tanaman sirsak.
Post a Comment