Friday, May 29, 2026

Ulat Grayak Spodoptera mauritia dan Mythimna separata: Hama Sporadis nan Bengis

Gerombolan ulat Spodoptera mauritia dan Mythimna separata terkadang menyerbu tiba-tiba dan menghilang begitu saja, meninggalkan persawahan yang luluh lantak.

Aunu Rauf

Sore itu hamparan padi masih tampak hijau dan meneduhkan mata. Daun-daunnya berdiri tegak, mengilap diterpa cahaya. Namun, keesokan paginya, pemandangan itu berubah tajam. Dalam semalam, petak-petak sawah mendadak tampak compang-camping. Banyak daun terkoyak tak beraturan, sebagian tinggal menyisakan tulang daun, sebagian lain rebah.

Petani yang datang pagi-pagi hanya bisa terpaku di pematang. Mereka seolah terlambat menyaksikan sebuah penyerbuan diam-diam. Tak ada suara gaduh pada malam sebelumnya. Tak ada tanda mencolok yang memberi peringatan. 

Di balik peristiwa itu ada ulah segerombolan ulat yang bergerak senyap pada malam hari. Dalam literatur berbahasa Inggris, kelompok ulat semacam ini dikenal sebagai "armyworm". Orang Belanda dulu menyebutnya "legerrupsen". Kedua istilah itu, bila diterjemahkan secara harfiah, berarti “ulat tentara”.

Sebutan itu bukan tanpa alasan. Larva-larva tersebut bergerak beramai-ramai, menyerbu tanaman seperti pasukan yang sedang menyapu medan. Setelah satu petak habis dilalap, gerombolan itu berpindah bersama-sama ke petak lain, meninggalkan jejak kerusakan yang nyaris seragam.  

Karenanya, sebutan “ulat tentara” terutama dilekatkan pada spesies seperti Spodoptera mauritia dan Mythimna separata. Kedua jenis ulat ini dikenal sanggup meluluhlantakkan persemaian maupun pertanaman padi hanya dalam semalam. 

Sejak akhir 1970-an, istilah “ulat tentara” perlahan ditinggalkan. Dunia perlindungan tanaman di Indonesia kemudian lebih banyak menggunakan istilah “ulat grayak”. Kata “grayak” dianggap lebih pas—lebih dekat dengan gambaran gerombolan ulat yang bergerak serempak, merayap bersama, lalu melahap tanaman yang dilewatinya.

Mari kita urai kedua ulat grayak padi tersebut.

Spodoptera mauritia

Ulat grayak Spodoptera mauritia merupakani salah satu hama padi di persemaian. Sasaran utamanya adalah bibit muda yang umurnya belum melewati 20–25 hari.  

Kesempatan pertama saya mengenal serangan ulat S. mauritia terjadi pada awal 1990-an. Waktu itu saya terlibat dalam penelitian lapangan tentang hama penggerek padi putih di Karawang yang didanai Program Nasional Pengendalian Hama Terpadu (PHT) (klik di sini). 

Salah satu kegiatan penelitian tersebut adalah memantau kelimpahan kelompok telur penggerek padi di persemaian.

Pekerjaan itu biasa saya lakukan pagi hari. Dari satu tempat ke tempat lain, saya mendatangi persemaian padi yang tersebar di tengah hamparan sawah Karawang. 

Pada salah satu kunjungan itulah saya menjumpai persemaian yang terserang berat oleh ulat S. mauritia.

Pemandangannya sulit dilupakan. Persemaian tampak seperti baru diobrak-abrik. Daun-daun muda tercabik tak beraturan. Sebagian habis dimakan hingga tinggal tulang daun, sebagian lain putus terpotong dekat pangkal, sementara sisanya rebah mengapung di permukaan air atau tergeletak di lumpur (Gambar 1).

Rice seedling attacked by rice swarming caterpillar
Gambar 1. Persemaian yang terserang berat ulat Spodoptera mauritia (Foto: Aunu Rauf)

Di persemaian lain, kerusakannya menunjukkan pola berbeda. Daun bibit dimakan dari tepi menuju bagian tengah, menyisakan tulang daun atau batang-batang pendek yang tercukur rata. Hamparan itu tampak seperti lahan yang baru selesai digembalakan ternak (Gambar 2). Dari kejauhan, warna hijau segar khas bibit muda menghilang, berganti kusam dan pucat.

Rice seedling attacked by rice swarming caterpillar
Gambar 2. Persemaian yang tinggal menyisakan pangkal batang akibat serangan ulat Spodoptera mauritia (Foto: Aunu Rauf)

Di tengah persemaian itulah saya mendapati larva instar lanjut berwarna cokelat gelap sedang rakus melahap helaian daun padi (Gambar 3). Sejujurnya, baru pada saat itu saya menyaksikan sendiri betapa dahsyatnya serangan ulat S. mauritia.

Rice swarming caterpillar
Gambar 3. Larva instar lanjut Spodoptera mauritia (Foto: Aunu Rauf)

Meski kerusakannya umumnya tidak separah di persemaian, ulat ini kadang-kadang juga menyerang tanaman padi yang baru dipindah ke sawah. Pengalaman itu saya jumpai pada pertengahan 1990-an di salah satu lokasi di Kalimantan Tengah, ketika terlibat dalam studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) proyek lahan gambut satu juta hektar.

Pertanaman padi muda yang terserang tampak compang-camping. Banyak rumpun seperti tercukur karena daun habis terpotong dekat pangkal. Pada beberapa rumpun, ulat bahkan memotong seluruh tajuk muda sehingga yang tersisa hanyalah batang-batang pendek yang menyembul dari lumpur (Gambar 4). 

Newly transplanted rice attcked by rice swarming caterpillar
Gambar 4. Pertanaman padi muda yang terserang berat ulat Spodoptera mauritia (Foto: Aunu Rauf)

Dari kejauhan, hamparan sawah kehilangan warna hijaunya dan berubah kusam, seolah pertumbuhan tanaman mendadak terhenti. Di sana-sini tampak bercak kosong akibat tanaman mati atau habis dimakan.

Pertanyaan yang kemudian muncul di benak saya sederhana: dari mana ulat-ulat itu datang, padahal persemaian dan sawah tergenang air? Kecil kemungkinannya karena migrasi ulat. Saya menduga serangan tersebut diawali oleh kedatangan rombongan ngengat betina ke persemaian atau pertanaman padi muda untuk meletakkan telur.

Telur-telur itu menetas hampir bersamaan, lalu larvanya mulai memakan daun-daun muda sedikit demi sedikit. Pada fase awal, kerusakan sering luput dari perhatian karena ulat masih kecil.

Petani biasanya baru tersentak ketika larva memasuki instar lanjut. Ukurannya membesar, nafsu makannya meningkat tajam, dan dalam semalam persemaian dan pertanaman padi muda itu dibuatnya compang-camping.

 
Siklus hidup

Imago. Ngengat Spodoptera mauritia berwarna hitam keabu-abuan dengan bercak putih pada sayap depan. Ngengat bersifat nokturnal, aktif pada malam hari. Pada siang hari ngengat bersembunyi pada di celah-celah tanah atau di bawah penutup lain. Umumnya, serangga ini tidak tertarik pada cahaya.

Ngengat betina menyukai bibit berumur 4–20 hari di persemaian tergenang untuk peletakan telur. Seekor ngengat dapat meletakkan sekitar 5–6 kelompok telur, masing-masing berisi 150–200 butir.

Telur. Telur diletakkan berkelompok pada permukaan bawah daun, ditutupi sisik-sisik yang berasal dari ujung abdomen ngengat betina. Masa inkubasi telur 2–4 hari. 

Larva. Larva yang baru menetas makan dengan mengikis permukaan daun, menyebabkan ujung daun layu dan terpotong. Mereka biasanya tinggal di dalam lipatan tepi daun muda sehingga hampir tidak terlihat.

Larva terdiri dari 5 instar dengan lama perkembangan 22 hari. Larva intar-3 dan selanjutnya bersifat nokturnal, dan bersembunbyi pada siang hari, tetapi pada cuaca mendung dapat tetap aktif di siang hari.

Larva berumur lanjut berukuran panjang 38 mm, makan dengan sangat rakus, berwarna cokelat atau cekelat hitam dengan garis kusam pada bagian dorsalnya. Masa perkembangan larva 17 hari

Pupa. Ulat berkepompong di dalam sel-sel tanah sedikit di bawah permukaan tanah. Pupa berwarna cokelat tua dan panjangnya sekitar 13 mm. Stadium pupa berlangsung 10–14 hari. Seluruh siklus hidup dari telur hingga muncul ngengat 29–31 hari.

Ekologi

Serangga ini bersifat oligofag dan menyerang berbagai tanaman serta gulma dari kelompok rumput-rumputan (Gramineae). 

Di persemaian yang tergenang, larva terpaksa tetap berada di tanaman yang mereka gunduli daunnya, sehingga mudah terpapar pada musuh alaminya seperti burung, serangga predator dan parasitoid.

Kerusakan

Kerusakan paling parah terjadi ketika serangan berlangsung pada persemaian yang baru tumbuh atau bibit yang belum cukup kuat membentuk anakan. Dalam keadaan demikian, kadang petani terpaksa perlu melakukan penyemaian ulang.


Mythimna separata

Tak seperti ulat Spodoptera mauritia yang lebih gemar menyerang bibit muda di persemaian, ulat Mythimna separata justru biasanya menyerang ketika pertanaman padi telah menua. Daun-daun sudah rimbun, batang menguat, dan malai mulai terbentuk. 

Saya berkesempatan menyaksikan langsung serangan berat ulat M. separata pada awal 1990-an, ketika terlibat dalam pelaksanaan pendidikan Diploma Satu Pengelolaan Hama Terpadu (D-1 PHT) bagi para Pengamat Hama dan Penyakit (PHP) tanaman pangan. Program pendidikan itu didanai oleh Program Nasional PHT, yang lahir setelah keluarnya Inpres No. 3 Tahun 1986 (klik di sini).

Bersama sejumlah dosen lain, saya berkeliling Jawa Barat untuk mensupervisi pelaksanaan Sekolah Lapangan PHT (SL PHT) yang dijalankan para mahasiswa D-1 PHT. Lokasinya tersebar di berbagai kabupaten, dari daerah pantai hingga kaki pegunungan.

Di Kadugede, Kuningan, saya menyaksikan sendiri pertanaman padi yang sudah bermalai diserang berat oleh M. separata. Daun-daun habis dimakan hingga hanya menyisakan tulang daun. Dari kejauhan, rumpun-rumpun padi tampak meranggas seperti tanaman yang dilanda kekeringan panjang (Gambar 5).

Rice field attacked by ear-cutting caterpillar
Gambar 5. Sawah di Kadugede, Kuningan yang luluh lantak akibat serangan ulat Mythimna separata (Foto: Aunu Rauf)

Pada musim yang sama, pemandangan serupa saya jumpai di Warungkondang, Cianjur. Hamparan padi yang semula hijau kekuningan dengan malai mulai menunduk mendadak berubah kusam, compang-camping, dan mengering (Gambar 6). Harapan panen yang sebelumnya tampak tinggal menunggu waktu seperti perlahan menguap di depan mata.

Rice field attacked by ear-cutting caterpillar
Gambar 6. Sawah di Warungkondang, Cianjur yang luluh lantak akibat serangan ulat Mythimna separata (Foto: Aunu Rauf)

Kerusakan ternyata tidak berhenti pada daun. Ulat-ulat itu juga menggigit tangkai malai. Akibatnya, banyak malai rebah, patah, atau gagal terisi sempurna. Dari kejauhan terlihat rumpun-rumpun yang kehilangan tajuk, sementara malai-malainya tergantung lunglai di sana-sini.

Ketika tajuk tanaman saya singkap, tampak malai-malai terpotong berserakan di antara barisan rumpun padi (Gambar 7). Pemandangan itu segera menjelaskan mengapa ulat ini dalam literatur berbahasa Inggris dikenal sebagai rice ear-cutting caterpillar atau ulat pemotong malai padi.

Panicles on the groung
Gambar 7. Malai padi berserakan di antara barisan rumpun padi akibat tangkainya dipotong oleh ulat Mythimna separata (Foto: Aunu Rauf)

Serangan semacam itu menghadirkan kerugian yang terasa lebih menyakitkan. Kerusakan terjadi justru ketika tanaman memasuki fase generatif, saat petani mulai menghitung-hitung hasil yang akan dibawa pulang. 

Pada kunjungan lapangan itu saya masih sempat melihat sebagian ulat berada di pertanaman. Meski siang hari, cuaca mendung membuat larva tetap aktif makan. Mereka tampak sedang melahap helaian daun yang tersisa (Gambar 8).

Rice ear-cutting caterpillar
Gambar 8. Larva instar lanjut Mythimna separata (Foto: Aunu Rauf)

Petani yang saya temui bercerita bahwa pada malam hari gerombolan ulat M. separata bergerak bersama meninggalkan petak sawah yang telah habis dimakan menuju petakan berikutnya. Dari kejauhan, di bawah cahaya purnama, barisan ulat itu tampak seperti “pasukan hitam” yang merayap di sepanjang pematang.

Sebagian besar ulat sebenarnya telah memasuki fase kepompong. Ketika pangkal rumpun saya sibak, tampak banyak pupa bersembunyi di sela-sela anakan padi (Gambar 9). Jumlahnya mengejutkan. Rata-rata ditemukan sekitar 10 pupa pada setiap rumpun, bahkan pada beberapa rumpun mencapai 20 pupa.

Pupa of Mythimna separata
Gambar 9. Pupa Mythimna separata pada pangkal rumpun di antara anakan padi (Foto: Aunu Rauf)

Banyaknya pupa yang ditemukan mengindikasikan bahwa penyemprotan insektisida yang dilakukan petani tidak banyak mematikan ulat. Maklum, ulat yang menyerang adalah yang telah berukuran besar yang lebih tahan terhadap racun kimia.

Di tengah kesibukan kegiatan akademik Program D-1 PHT, saya masih menyempatkan diri membawa sebagian ulat dari lapangan ke laboratorium. Larva-larva itu saya pelihara dalam kurungan kasa dengan harapan berkembang hingga menjadi ngengat (Gambar 10).

Moths of Mythimna separata
Gambar 10. Ngengat Mythimna separata yang sedang kopulasi (Foto: Aunu Rauf)

Ngengat yang berhasil muncul kemudian dipelihara lebih lanjut agar bertelur. Namun, menemukan telurnya ternyata tidak mudah. Setelah memeriksa hampir seluruh bagian rumpun, akhirnya saya menemukan kelompok telur yang direkatkan rapat di antara dua helai daun yang mulai mengering (Gambar 11). 

Egg cluster of ear-cutting caterpillar
Gambar 11. Kelompok telur Mythimna separata yang dilekatkan di antara dua helaian daun  (Foto: Aunu Rauf)

Siklus hidup

Imago. Ngengat Mythimna separata berwarna pucat, mulai dari merah bata hingga cokelat muda, dengan tubuh ditutupi bintik-bintik serta bercak gelap. Ngengat bersifat nokturnal dan sangat tertarik pada cahaya.

Telur. Telur diletakkan di antara pelepah daun dan batang, dekat pertemuan pelepah dengan helaian daun. Telur disusun dalam kelompok yang terdiri atas beberapa baris, dengan satu kelompok berisi 90–230 butir, rata-rata sekitar 100 butir. Masa inkubasi telur berlangsung 8–10 hari.

Larva. Larva terdiri dari 6 instar. Larva instar akhir berukuran panjang 30–35 mm, berwarna abu-abu gelap atau abu-abu kehijauan.

Pada siang hari ulat bersembunyi di pangkal rumpun atau bawah jerami, lalu keluar beramai-ramai saat senja untuk makan sepanjang malam.  Rata-rata masa perkembanan larva berlangsung sekitar 28 hari.

Pupa. Larva tua turun ke tanah untuk berkepompong dalam sel pupa yang terbuat dari tanah. Pupa berukuran 15–19 mm panjang, berwarna cokelat tua. Stadium pupa sekitar 10 hari. Seluruh siklus hidup dari telur hingga muncul ngengat 30-36 hari.

Ekologi

Ulat M. separata bersifat oligofag, menyerang padi, gandum, jagung dan serealia lainnya, serta rumput-rumputan.

Kebiasaan serangga ini berkepompong di dalam tanah membatasi perkembangbiakannya di sawah beririgasi. Di daerah seperti itu, populasi biasanya berkembang pada rumput-rumputan yang tumbuh di sekitarnya.

Umumnya mereka berkembang biak pada rumput-rumputan hingga generasi ketiga sebelum bermigrasi ke sawah, baik berupa gerombolan ulat maupun sebagai ngengat yang datang untuk bertelur.

Kerusakan

Pada serangan berat, ulat tidak lagi terbatas memakan daun. Larva instar besar menggigit pelepah dan tangkai malai muda. 
Akibatnya, pengisian bulir terganggu, gabah menjadi hampa, atau bahkan malai terputus dan rontok. 


***

Ulat Spodoptera mauritia dan Mythimna separata bukan jenis hama yang selalu hadir dari musim ke musim. Mereka tergolong hama sporadis—jarang muncul, tetapi sekali datang mampu meluluhlantakkan persemaian atau sawah dalam waktu singkat. 

Ngengat kedua spesies ini dikenal sebagai penerbang tangguh. Dalam satu malam, mereka dapat berpindah jauh mengikuti arah angin, lalu bertelur serempak pada persemaian atau pertanaman padi yang didatanginya. 

Ledakan populasi ulat biasanya terjadi setelah musim kemarau panjang yang diikuti hujan lebat. Kondisi kekeringan berpengaruh buruk terhadap populasi musuh alami, sementara hujan lebat yang datang kemudian memicu tumbuhnya vegetasi hijau, terutama rerumputan, yang menjadi sumber makanan larva. 

Gerombolan larva berpindah bersama-sama dari petak yang padinya telah digunduli ke petak lain. Tak jarang, kerusakan besar terjadi hanya dalam beberapa malam. 

Pada masa Hindia Belanda, petani di sejumlah daerah melakukan ronda malam di sekitar sawah. Dengan lampu seadanya, mereka berupaya mendeteksi keberadaan ulat sebelum serangan berubah menjadi wabah besar.

Di persemaian, pengendalian dilakukan secara mekanis dengan cara mengumpulkan ulat dengan tangan. Sementara di persawahan, pengendalian dilakukan dengan penggenangan untuk membunuh kepompong atau larva yang bersembunyi pada pangkal rumpun atau di dalam tanah.

Begitulah ulat S. mauritia dan M. separata, dua jenis hama yang kehadiran dan serangannya kerap tak terduga dan tanpa aba-aba. 

Memang, tidak semua hama menakutkan karena selalu ada setiap saat. Sebagian justru ditakuti karena datang tiba-tiba dalam jumlah banyak, menyerbu dalam senyap, lalu pergi meninggalkan hamparan tanaman yang porak-poranda.


Referensi

Dale D. 1994. Insect Pests of the Rice Plant-Their Biology and Ecology, p 363-485 In. EA Heinrichs (ed,),  Biology and Management of Rice Insects. IRRI. New Delhi: Wiley Eastern Limited.

Kalshoven LGE. 1981. The Pests of Crops in Indonesia. Jakarta: PT Ichtiar Baru - Van Hoeve.

Pathak MD. 1975. Insect Pests of Rice. Los Banos (Philippinea): The International Rice Research Institute.

Tjoa Tjien Mo. 1952. Memberantas Hama-Hama Padi di Sawah dan di Dalam Gudang. Djakarta: Noordhoff-Kolff NV.

Untuk keperluan sitasi, silakan tulis:

Rauf A. 2026. Ulat Grayak Spodoptera mauritia dan Mythimna separata: Hama Sporadis nan Bengis. https://www.serbaserbihama.com/2026/05/ulat-grayak-spodoptera-mauritia-mythimna-separata.html. Diakses tanggal (sebutkan).


Disclaimer: Sebagian paragraf/kalimat dalam artikel ini mendapat sentuhan ringan kebahasaan dari ChatGPT.




No comments: