Seekor ganjur yang bersembunyi di balik puru buah cabai sempat luput dari perhatian selama puluhan tahun. Tiga perempat abad berselang, ia dinyatakan sebagai spesies baru, Asphondylia capsicicola.
Aunu Rauf*, Munzir Busniah**, Nina Maryana*
Alkisah, pada penghujung 1930-an, Dr. CJH Franssen tengah sibuk meneliti lalat buah cabai, Dacus pedestris Bezzi. Nama ilmiah itu kini dipastikan merujuk pada Bactrocera dorsalis (Hendel).
Franssen adalah salah seorang entomologiwan Belanda yang bekerja di Instituut voor Plantenziekten (IvPZ), Buitenzorg—kini Bogor—sejak 1928 hingga dekade 1940-an. Ia sejawat dengan Dr. LGE Kalshoven dan Dr. P van der Goot.
Selama bertugas di Hindia Belanda, ia meneliti beragam hama tanaman, dari jagung, mangga, randu, kapas, hingga anggrek. Ia juga terlibat dalam sejumlah upaya pengendalian hayati klasik.
Untuk meneliti lalat buah itu, Franssen menanam cabai merah di kebun percobaan IvPZ di Tjikeumeuh, yang kelak dikenal sebagai Kebun Percobaan Cimanggu.
Suatu siang, perhatiannya tertumbuk pada sesuatu yang ganjil. Beberapa buah cabai tumbuh tidak sebagaimana mestinya. Buah itu tampak pendek, bengkok dan melingkar.
Franssen menduga penyebabnya adalah sejenis nyamuk pembentuk puru atau gallmidge dari famili Cecidomyiidae. Dugaan itu bukan tanpa alasan. Beberapa kali ia menemukan belatung kecil berwarna oranye pucat bersembunyi di dalam puru.
Rasa penasaran mendorongnya mencoba memelihara buah-buah cabai bergejala puru itu. Harapannya sederhana, menunggu serangga dewasa keluar dari puru dan mengungkap siapa gerangan.
Tetapi usaha itu gagal. Hari berganti hari, tak seekor pun serangga muncul.
Hampir satu dasawarsa kemudian, ketika Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942–1945, teka-teki itu menemukan titik terang. Seorang mantri hama yang bekerja di IvPZ, Pak Inen namanya, berhasil memperoleh beberapa serangga dewasa yang muncul dari gejala puru pada cabai tersebut.
Franssen lantas mengirimkan serangga hasil temuan Pak Inen kepada Dr. HF Barnes, pakar Cecidomyiidae di Rothamsted Experimental Station, Harpenden, Inggris. Barnes mengidentifikasinya sebagai Asphondylia capsici Barnes, spesies yang sebelumnya dilaporkan dari Siprus.
Temuan itu sebenarnya cukup penting. Namun, keberadaan ganjur cabai tersebut di Hindia Belanda rupanya luput dari perhatian para peneliti.
Buktinya, monograf karya Docters van Leeuwen yang terbit pada 1926, berjudul The Zoocecidia of the Netherlands East Indies, tidak mencantumkan serangga tersebut. Padahal, monograf itu merupakan himpunan pengamatan mengenai berbagai hewan pembentuk puru di Hindia Belanda. Buku Kalshoven yang terbit pada 1950 dan 1951 pun tidak menyebutkannya.
Manyadari akan hal itu, meski sangat terlambat, Dr. CJH Franssen merasa perlu untuk memublikasikannya. Artikelnya itu diberi judul "Een voor Spaanse Peper Schadelijke Galmug" yang artinya "Seekor ganjur yang merugikan tanaman cabai", serta dimuat pada jurnal Tijdschrift over Plantenziekten tahun 1953.
Dalam artikel itu, Franssen menggambarkan serangan hama tersebut dengan kalimat yang lugas.
“Serangannya begitu hebat sehingga hampir tidak ada lagi buah cabai yang dapat dipanen dalam keadaan normal.”
Sesudah itu, jejak Asphondylia capsici di Indonesia seakan kembali menghilang. Tak ada lagi laporan mengenai keberadaan ganjur cabai tersebut di Indonesia.
Pertama kali saya (AR)—penulis pertama—mengenal ganjur cabai terjadi pada Januari 1994, sekitar 58 tahun setelah Franssen melaporkan keberadaannya. Ketika itu saya bersama Dr. BM Shepard, Dr. GR Carner, dan Dr. AP Keinath dari Clemson University berkunjung ke Padang.
Tujuannya bukan khusus mencari ganjur cabai. Kami datang untuk melihat pelaksanaan berbagai percobaan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) pada pertanaman cabai, kentang, kubis, tomat, dan kacang buncis. Percobaan itu merupakan bagian dari kerja sama IPM Palawija Project/Clemson University dengan Balai Proteksi Tanaman Pangan (BPTP) Padang.
Oleh Ir. Djoni dan Ir. Zamzami dari BPTP Padang, kami diajak blusukan dari satu kebun sayuran ke kebun lainnya. Sampai akhirnya kami tiba di sebuah pertanaman cabai milik petani.
Di sana, Pak Djoni dan Pak Zamzami menunjukkan beberapa buah cabai dengan gejala yang tidak biasa. Pendek, bengkok, dan melingkar. Jumlahnya cukup banyak sehingga kami tidak perlu bersusah payah untuk mencari dan mengumpulkannya (Gambar 1).
| Gambar 1. Gejala serangan ganjur pada buah cabai, Padang 14 Januari 1994 (Foto: Auu Rauf) |
Belakangan saya mengetahui bahwa keberadaan ganjur cabai di Sumatera Barat ternyata sudah terendus setahun sebelumnya. Petunjuknya tersimpan dalam selembar dokumen "Identification Service Report" dari International Institute of Entomology (Gambar 2). Saya menemukan dokumen tadi secara tak sengaja, terselip di antara tumpukan berkas PHT.
![]() |
| Gambar 2. Dokumen identifikasi ganjur cabai (Koleksi pribadi) |
Dokumen bertanggal 7 Desember 1993 itu memiliki Collection No. 22942. Di dalamnya disebutkan bahwa sampel serangga yang dikirim dari Sumatera Barat telah diidentifikasi oleh Dr. KM Harris sebagai Asphondylia sp. Ada catatan tambahan bahwa kemungkinan besar adalah Asphondylia capsici Barnes.
Sampel tersebut dikirim oleh Dr. Henk van den Berg, yang ketika itu menjadi konsultan Program Nasional PHT. Saya beberapa kali bertemu dengannya. Pada dokumen itu terdapat pula catatan tangan yang menyebutkan bahwa sampel dikoleksi oleh Ir. Zamzami dari buah cabai di Padang.
Sejak berkenalan dengan ganjur cabai di Padang, mata saya agaknya mulai terlatih. Gejala ganjur cabai yang sebelumnya mungkin mudah terlewat, kini lebih gampang saya kenali.
Tak mengherankan, ketika setahun kemudian berkunjung ke pertanaman cabai di Pangalengan, saya tak sulit mengendus keberadaan ganjur cabai (Gambar 3). Di Cisarua pun demikian. Bedanya dengan Padang, di kedua tempat itu ganjur cabai sangat jarang ditemukan.
| Gambar 3. Buah cabai terserang ganjur, Pangalengan 14 Juni 1995 (Foto: Aunu Rauf) |
Sayangnya, perkenalan itu tidak berlanjut menjadi perhatian serius. Kesibukan akademik sehari-hari perlahan menenggelamkan ganjur cabai dari ingatan saya.
Sampai pada suatu hari, September 2001.
Tiga orang tamu dari Jepang datang ke ruang kerja saya di Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian IPB di Kampus Baranangsiang. Setelah dipersilakan duduk, kami bertukar kartu nama. Dari kartu nama yang saya pegang, saya mengetahui bahwa pria yang duduk tepat di depan saya adalah Prof. Junichi Yukawa dari Kyushu University.
Belakangan baru saya sadari, nama Yukawa bukan nama kalrng-kaleng dalam dunia Diptera. Ia adalah pakar lalat, dan lebih khusus lagi seorang inohong dalam Cecidomyiidae penyebab puru pada tanaman.
Kedatangan rombongan Jepang itu diantar oleh penulis ketiga (NM). Wajar saja. Prof. Yukawa adalah dosen pembimbing NM sewaktu menyelesaikan penelitian disertasinya tentang parasitoid lalat Liriomyza di Kyushu University.
Setelah berkenalan dan mengobrol ke sana-kemari, Yukawa tiba-tiba melontarkan sebuah pertanyaan. Apakah saya pernah melihat gejala ganjur cabai di lapangan?
Pertanyaan itu barangkali muncul karena NM telah bercerita bahwa saya bersama Tim Clemson University kerap blusukan ke pertanaman sayuran. Bukan hanya di Jawa, tetapi juga di Sumatera dan Sulawesi.
Atas pertanyaan itu, saya ingin memberi jawaban yang lebih meyakinkan. Saya pun membongkar album foto lama, dan tak lama kemudian menemukan yang dicari. Ya, foto buah-buah cabai bergejala puru yang saya ambil ketika berkunjung ke Padang pada 1994 (lihat Gambar 1 sebelumnya)
Foto itu rupanya menjadi semacam kabar gembira bagi para tamu dari Jepang.
Sudah lama mereka tertarik pada identitas ganjur cabai yang ditemukan di Asia Tenggara. Mereka bahkan telah memperoleh petunjuk awal bahwa ada perbedaan karakter morfologi pupa antara ganjur yang berasal dari Indonesia dan Asphondylia capsici dari kawasan Mediterania.
Foto cabai berpuru dari Padang itu membuat rasa ingin tahu mereka semakin besar. Tak ingin membuang waktu, setelah pertemuan, mereka langsung terbang ke Padang untuk mengumpulkan sampel.
Pada Maret 2003 mereka kembali lagi ke Indonesia untuk mengunjungi pertanaman cabai di Cisarua. Setahun kemudian, Maret 2004, giliran kebun-kebun cabai di Gianyar, Bali, yang didatangi. Tujuannya tetap sama, mengumpulkan sampel ganjur cabai.
Itu belum termasuk sampel tambahan yang dikirimkan oleh NM pada 2015 dan 2016.
Sampel-sampel tersebut selanjutnya diperiksa dengan lebih teliti. Para peneliti membandingkan morfologi pupa dan melakukan analisis DNA. Hasilnya mengonfirmasi kecurigaan yang telah muncul sejak awal.
Ganjur cabai dari Indonesia ternyata bukan Asphondylia capsici seperti dugaan sebelumnya. Ia merupakan spesies yang berbeda. Spesies baru.
Namanya kemudian ditetapkan sebagai Asphondylia capsicicola Uechi, Yukawa & Tokuda.
Berbarengan dengan penelitian taksonomi ganjur cabai yang dilakukan Prof. Junichi Yukawa dan koleganya di Kyushu University, penelitian di dalam negeri pun bergerak ke lapangan. Survei dilakukan di sejumlah sentra cabai.
Di Bogor, penulis ketiga (NM) bersama mahasiswa-mahasiswa S1 bimbingannya turun mengamati pertanaman. Di Padang, penulis kedua (MB) melakukan hal serupa.
Selama beberapa bulan, hampir setiap minggu, para mahasiswa itu menyusuri guludan di bawah terik matahari. Keringat mengucur, tetapi pengamatan terus berjalan. Satu demi satu tanaman diperiksa. Gejala dicatat, jumlah buah yang terserang dihitung. Dari survei lapangan itulah perlahan terungkap seberapa berat kerusakan yang ditimbulkannya.
Tingkat serangan Asphondylia capsicicola, yang diukur dari persentase buah cabai yang memperlihatkan gejala puru, cukup bervariasi.
Di Bogor, misalnya, rata-rata serangan pada cabai keriting di Tugu Selatan mencapai 2.92% dan di Cibanteng 3.89%. Di Cikarawang, angkanya 8.58% pada cabai keriting dan 4.43% pada cabai rawit. Angka yang jauh lebih tinggi (23.84%) ditemukan pada cabai rawit di lahan pertanian organik di Cisarua.
Di Padang, serangannya juga cukup tinggi. Pada cabai merah tercatat 16.31%, sedangkan pada cabai rawit mencapai 25.02%.
Perbedaan tingkat serangan itu diduga ada kaitannya dengan pola tanam cabai. Hama Asphondylia umumnya bersifat monofag atau oligofag, sehingga keberlangsungan populasinya sangat bergantung pada ketersediaan buah cabai.
Karenanya, penanaman cabai terus-menerus sepanjang tahun di suatu tempat membuat hama ini tak pernah kekurangan sumber makanan.
Dalam survei itu, MB dan NM menemukan bahwa gejala puru ternyata tidak hanya terdapat pada buah cabai, tapi juga pada kuncup bunga (Gambar 4). Gejala serupa pernah pula dilaporkan dari India.
![]() |
| Gambar 4. Serangan ganjur cabai pada kuncup bunga (Foto: Munzir Busniah) |
Kuncup bunga yang terserang berubah bentuk. Ia menjadi lebih bulat dan sedikit membengkak. Mahkota bunga berwarna hijau tua, tetapi tampak lebih kusam dibandingkan bunga normal. Permukaannya tidak lagi mulus. Lama-kelamaan mahkota berubah cokelat, lalu mengering.
Serangan pada kuncup bunga itu menyebabkan bunga gugur. Kalaupun tidak gugur, buah yang terbentuk akan mengalami pembengkakani. Buah cabai yang biasanya memanjang akan berubah menjadi lebih bulat dan tetap berukuran kecil.
Bila serangan terjadi ketika buah baru mulai tumbuh, bentuknya dapat berubah menjadi terpuntir, melingkar, membengkok seperti spiral, atau berbagai bentuk lainnya (lihat Gambar 1 dan 2 sebelumnya).
Dengan kata lain, besarnya kerusakan sangat bergantung pada seberapa dini serangan terjadi. Semakin awal serangan, semakin besar dampak kerusakan yang ditimbulkan.
Di balik benjolan puru itu terdapat sebuah rongga kecil. Di sanalah larva A. capsicicola hidup (Gambar 5). Dinding bagian dalam rongga tersebut ditumbuhi cendawan. Larva Asphondylia diketahui memanfaatkan cendawan yang tumbuh di dinding rongga sebagai makanannya.
| Gambar 5. Rongga tempat hidup larva Asphondylia capsicicola di dalam puru (Foto: BM Shepard) |
Biasanya hanya ada seekor larva di dalam satu puru. Namun, sesekali ditemukan dua, bahkan tiga larva atau pupa sekaligus.
Menjelang menjadi serangga dewasa atau imago, pupa mendorong tubuhnya ke arah luar. Kepala dan toraksnya tampak menyembul dari lubang yang dibuatnya pada puru (Gambar 6).
| Gambar 6. Pupa Asphondylia capsicicola menyembul dari lubang puru (Foto: BM Shepard) |
Dari lubang itu lantas keluar imago yang secara umum bentuknya mirip nyamuk (Gambar 7). Setelah imago terbang, kulit pupa yang ditinggalkan atau eksuvium biasanya masih menempel pada lubang tersebut.
![]() |
| Gambar 7. Imago betina Asphondylia capsicicola (Foto: Munzir Busniah) |
Imago betina memiliki bagian ovipositor yang tajam seperti jarum dengan panjang 1.3-1.4 mm (Gambar 8). Gunanya untuk menyisipkan telur ke dalam jaringan kuncup bunga atau buah muda.
![]() |
| Gambar 8. Bagian ujung ovipositor yang berbentuk jarum dari imago betina Asphondylia capsicicola (Foto: Munzir Busniah) |
Selain imago ganjur, dari dalam puru kerap muncul pula parasitoid. Di Bogor, NM menemukan sedikitnya dua jenis parasitoid, yakni Eurytoma sp. (Hymenoptera: Eurytomidae) dan Sigmophora sp. (Hymenoptera: Eulophidae).
Menariknya, jumlah imago parasitoid yang muncul dari buah cabai bergejala puru justru lebih banyak daripada imago A. capsicicola. Ini mengindikasikan betapa petingnya peranan parasitoid dalam penekanan populasi ganjur cabai.
Dari dua parasitoid yang ditemukan, Eurytoma sp. tampak paling dominan. Jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan Sigmophora sp.
Selain survei lapangan, penulis kedua (MB) melakukan penelitian mengenai siklus hidup Asphondylia capsicicola di laboratorium.
Telur. Telur A. capsicicola berukuran kecil, berpermukaan halus, dan berwarna keputihan. Bentuk telur memanjang, dengan ujung anterior meruncing dan ujung posterior membulat. Rata-rata panjang telur adalah 0.69 mm, sedangkan lebarnya 0.36 mm.
Larva. Larva A. capsicicola terdiri atas tiga instar. Larva instar awal berukuran rata-rata 0.87 mm dan berwarna keputihan. Pada instar lanjut, larva berbentuk seperti gelendong, berukuran rata-rata 2.77 mm, berwarna kekuningan, dan memiliki tubuh yang pipih secara dorsoventral dengan permukaan dorsal cekung.
Pupa. Pupa yang baru terbentuk berwarna cokelat muda dan secara bertahap berubah menjadi cokelat tua seiring dengan perkembangan. Rata-rata panjang pupa adalah 3.03 mm dan lebarnya 2.27 mm.
Secara keseluruhan, periode perkembangan stadium pradewasa, mulai dari telur hingga pupa, berkisar antara 19 dan 28 hari, dengan rata-rata 22.3 hari.
Imago. Serangga dewasa berukuran kecil, bertubuh silindris menyerupai nyamuk, dan ditutupi rambut-rambut halus pada tubuh maupun sayap. Antena berbentuk filiform dan lebih panjang daripada gabungan panjang kepala dan toraks.
Pada imago yang baru muncul, abdomen dan toraks berwarna jingga muda, kemudian secara bertahap berubah menjadi hitam kusam atau kehitaman menyerupai warna berasap. Imago betina dapat dibedakan dari jantan berdasarkan ovipositor yang berbentuk menyerupai jarum dan antenanya yang relatif lebih pendek.
Imago jantan berukuran lebih kecil dan memiliki antena yang lebih panjang, dengan rata-rata panjang antena 1.99 mm, sedangkan pada betina 1.65 mm. Rata-rata panjang tubuh jantan adalah 2.84 mm dan betina 2.88 mm.
Umur imago relatif singkat. Imago betina hidup rata-rata sekitar 32 jam, sedangkan jantan sekitar 35 jam.Selama hidupnya, seekor betina mampu meletakkan rata-rata sekitar 124 butir telur.
Bagi kebanyakan petani, ganjur cabai belum dianggap sebagai hama yang merugikan. Buah cabai yang pendek, bengkok, bahkan melingkar seperti spiral, lebih sering dipandang sebagai keanehan bentuk daripada gejala serangan hama.
Barangkali ada alasannya. Cabai adalah tanaman yang sangat prolifik. Sepanjang masa produktifnya, sebatang tanaman dapat menghasilkan ratusan buah secara bertahap. Karena itu, kehilangan sebagian buah akibat serangan A. capsicicola tampaknya belum cukup untuk terasa nyata pada hasil panen.
Apalagi di dalam puru buah cabai hidup pula musuh alaminya yaitu parasitoid. Kehadiran mereka diduga ikut menahan laju perkembangan populasi A. capsicicola di pertanaman.
Walakin. dalam keadaan serangan berat seperti yang dulu pernah dialami oleh Dr. CJH Franssen, pengendalian mekanis dengan cara memetik dan memusnahkan buah bergejala puru dapat menurunkan serangan hama ini pada musim berikutnya.
Anastasia D. 2005. Morfologi, Gejala Serangan dan Parasitoid Penyebab Puru Cabai Asphondylia sp. (skripsi). Bogor(ID): Institut Pertanian Bogor.
Basavaraj K, Sreenivas AG. 2011. Biology of chilli gall midge, Asphondylia capparis (Rubsaaman) (Cecidomyiidae: Diptera). Ann Entomol 29(1): 1-5.
Busniah M. 2010. Penyebaran, Tingkat Serangan dan Dinamika Populasi Asphondylia capsici Barnes (Diptera: Cecidomyiidae) pada Pertanaman Cabai di Sumatra Barat (disertasi). Padang (ID): Universitas Andalas.
Busniah M. 2014. Life cycle of gall midge on red chilli in West Sumatera. Int J Adv Sci Eng Inf Tech 4(4): 41-44.
Franssen CJH, Nijveldt W, Tjoa Tjien Mo. 1953. Een voor Spaanse Peper Schadelijke Galmug. Tijdschrift over Plantenziekten 59: 178-180.
Karyani RD. 2007. Serangan Asphondylia sp. (Diptera: Cecidomyiidae) pada Pertanaman Cabai Keriting dan Cabai Rawit (Capsicum spp) di Desa Cikarawang, Darmaga, Bogor (skripsi). Bogor(ID): Institut Pertanian Bogor.
Kolesik P, Gagne RJ. 2020. A review of the gall midges (Diptera: Cecidomyiidae) of Indonesia: taxonomy, biology and adult key to genera. Zootaxa 4847(1): 001-0082.
Kumar NKK, Nagaraju DK, Virakthamath CA, Ashokan R, Ranganath HR, Chandrahekara KN, Rebijith KB, Singh TH. 2010. Gall insects damaging eggplant and bell peppers in South India. In Advances in Genetics and Breeding of Capsicum and Eggplant.
Orphandes GM. 1975.Biology of the carob midge complex, Asphondylia spp (Diptera: Cecdomyiidae) in Cyprus. Bulletin of Entomological Resesearch 65: 381-390.
Prima R. 2005. Serangan Asphondylia sp. (Diptera: Cecidomyiidae) pada Pertanaman Cabai Keriting di Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua dan Desa Cibanteng, Kecamatan Darmaga, Kabupaten Bogor (skripsi). Bogor(ID): Institut Pertanian Bogor.
Qoimah AN. 2017. Serangan Asphondylia capsicicola (Diptra: Cecidomyiidae) pada Pertanaman Cabai Rawit di Pertanian Organik Cisarua, Bogor (skripsi). Bogor(ID): Institut Pertanian Bogor.
Shepard BM, Rauf A. 1996. Asphondylia capsici: A Newly Recognized Pest of Chilli. Palawija & Vegetable IPM Newsletter !(1): 2.
Uechi N, Yukawa J, Tokuda M, Maryana N, Kikumura TG, Kim W. 2016. Description of the Asian chili pod gall midge, Asphondylia capsicicola sp. n., wirh comparative notes on Asphondylia gennadii (Diptera: Cecidomyiidae) that induces the same sort of pod gall on the same host plant species in the Mediterranian region. Apl Entomol Zool
* Fakultas Pertanian, IPB University.
** Fakultas Pertanian, Universitas Andalas




1 comment:
Di Jember tahun 2026 ini saya mudah menemui buah cabe yang bentuknya tidak berkembang sepwrti dalam foto. Di lahan pertanian dekat rumah yang memang bukan wilayah cabe -- wilayah petani padi. Namun tidaknterpikirkan sejauh itu tentang puru pada buah cabe..
Ketika membaca serangga2 kecil, saya ingat salah satu staf pengajar HPT yamg penelitiannya dulu adalah pengorok daun angsana, Phyllonoricter pentadesma, Bu Nina Maryana. Apakah beliau juga meneliti mikrodiptera ini...?
Post a Comment